Jakarta – Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, berpartisipasi sebagai panelis dalam Pacific Asia Conference on Information Systems (PACIS) 2026 di Jakarta, Senin (6/7). Forum internasional bidang sistem informasi di kawasan Asia Pasifik tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan pemimpin industri dalam membahas perkembangan sistem informasi, transformasi digital, serta kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
PACIS 2026 diselenggarakan dengan tema “Leapfrogging the Future with Artificial Intelligence”. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dirjen Fauzan menjadi panelis pada sesi The Changing Landscape of IS in the Age of AI in Asia Pacific bersama Gita Wirjawan dan Carol Hsu, dengan Suprateek Sarker sebagai moderator.
Dalam sesi panel, Dirjen Fauzan menekankan bahwa pengembangan AI tidak cukup hanya dimaknai sebagai adopsi teknologi global. AI perlu diarahkan untuk memperkuat kedaulatan teknologi, kapasitas riset nasional, pengembangan talenta, serta tata kelola yang bertanggung jawab. Menurutnya, Indonesia perlu membangun ekosistem AI yang melibatkan pemerintah sebagai orkestrator, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan nasional.
“Bagi perusahaan atau industri, kami merasa perlu untuk berinvestasi melampaui sekadar adopsi, karena biasanya di situlah persoalannya, yaitu mulai membangun kapasitas dan kapabilitas. Sementara itu, bagi institusi pendidikan, tentu bagi kami penting untuk menghasilkan talenta, riset, dan inovasi nyata. Terakhir, bagi masyarakat, saya pikir literasi AI menjadi kunci,” ujarnya.
Dirjen Fauzan juga menegaskan bahwa prinsip tanggung jawab harus menjadi dasar dalam penggunaan maupun pengembangan AI. Menurutnya, baik pengguna maupun pengembang AI perlu memastikan bahwa teknologi tersebut diarahkan untuk memberikan manfaat, memperkuat kapasitas manusia, dan tetap memperhatikan dampaknya bagi masyarakat.
“Baseline-nya adalah, baik sebagai pengguna maupun pengembang, saya pikir kita perlu menggunakan AI dan juga mengembangkan AI secara bertanggung jawab,” tegas Dirjen Fauzan.
Professor Carol Hsu dari University of Sydney menyoroti bahwa tata kelola AI perlu dipahami dalam konteks sosial, politik, budaya, dan infrastruktur yang berbeda pada setiap negara. Menurutnya, pendekatan sistem informasi menjadi penting karena AI tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga relasi antara manusia, organisasi, dan masyarakat.
“Dalam tata kelola, AI tidak berdiri sendiri. Itulah mengapa kami berbeda dari ilmu komputer. Kami melihatnya sebagai sistem sosio-teknis yang lebih luas. Jadi, ketika kita merancang tata kelola, kita harus melihat lingkungan politik, infrastruktur, dan asumsi budaya. Tata kelola benar-benar harus membicarakan konteks lokal,” ujar Carol.
Sementara itu, Gita Wirjawan menekankan pentingnya penguatan kapasitas kognitif, pendidikan STEM, serta kekayaan intelektual dalam menghadapi perkembangan AI. Ia menilai bahwa daya saing negara dan kawasan sangat ditentukan oleh kemampuan menghasilkan pengetahuan, paten, dan inovasi yang bernilai tambah.
“Saya mencoba menekankan pentingnya kekayaan intelektual di sini. Saya pikir, untuk meningkatkan atau memperkuat kapasitas seseorang pada tingkat individu, keluarga, negara, bangsa, bahkan peradaban, kekayaan intelektual itu penting. Dan hal itu membutuhkan peningkatan kapasitas kognitif, yang kita sebut IQ, tetapi saya pikir yang lebih penting adalah peningkatan STEM,” ujar Gita.
Professor Suprateek Sarker dari University of Virginia selaku moderator menutup sesi dengan menekankan pentingnya AI yang menghormati konteks lokal, keberagaman, serta nilai gotong royong.
“Dari puncak Sumatra hingga pesisir Papua, AI membuka pintu yang benar-benar baru. Ia menyembuhkan yang sakit, memandu bajak, dan mengubah apa yang kita miliki atau apa yang kini dapat kita lakukan. Namun, kekuatan membawa beban yang sunysi, untuk membimbing budaya dan membimbing negara. Sebab algoritma harus menghormati tanah ini, bergandengan tangan dengan gotong royong,” ujar Suprateek.
Kemdiktisaintek melalui Ditjen Risbang mendorong perguruan tinggi dan ekosistem riset untuk mengambil peran aktif dalam pengembangan AI yang inklusif, berdampak, bertanggung jawab, dan relevan bagi kebutuhan Indonesia. Penguatan AI diharapkan tidak hanya mempercepat transformasi digital, tetapi juga memperkuat kemandirian riset, kapasitas talenta nasional, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan pembangunan.
Humas Ditjen Risbang
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#PACIS2026
#RisetBerdampak
#ArtificialIntelligence







