Palangka Raya-Indonesia saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang masih sangat minim. Data nasional menunjukkan bahwa rasio dokter di Indonesia baru mencapai 0,47 hingga 0,6 per 1.000 penduduk, masih jauh di bawah standar ideal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 1 per 1.000 penduduk. Dengan kekurangan sekitar 270.000 hingga 300.000 dokter, pemerintah melalui visi Asta Cita Presiden RI menempatkan akselerasi pendidikan kedokteran sebagai prioritas utama pembangunan sumber daya manusia.
Kehadiran dokter yang berkualitas, tentu membutuhkan keberadaan fasilitas pendukung mutakhir, dalam proses pembelajaran pendidikan Kedokteran. Sebagai langkah konkret menjawab tantangan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek),Fauzan meresmikan Gedung Medical Learning and Research Center (MeRC) di Universitas Palangka Raya (UPR). Peresmian fasilitas pendidikan, dan riset tersebut didampingi Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas Pungkas Bahjuri Ali, Kamis (5/3).
Peresmian fasilitas riset medis modern ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk memenuhi kebutuhan dokter di Indonesia, di mana saat ini lulusan dokter baru menyumbang kurang dari 5% dari total lulusan rumpun kesehatan setiap tahunnya. Hal ini menjadi tantangan yang menjadi tanggung jawab berbagai pihak. Kemdikrisaintek menegaskan komitmen untuk mengawal peningkatannya.
Wamendiktisaintek menekankan bahwa kehadiran fasilitas ini harus diikuti oleh transformasi kualitas pendidikan, dan integritas moral. Wamen Fauzan juga mengingatkan bahwa kampus harus menjadi benteng moral dan pemberi solusi nyata bagi rakyat.
"Peresmian ini penting sebagai penanda selesainya pembangunan fisik. Namun, yang jauh lebih substantif adalah aktivitas di dalamnya, kampus harus menjadi problem solver, harus menjadi benteng moral, bukan entitas eksklusif, dan tidak boleh memberi ruang bagi praktik amoral," tegas Wamendiktisaintek.
Rektor UPR, Salampak dalam laporannya menyampaikan bahwa Gedung MeRC yang dibangun melalui dana SBSN ini akan menjadi pusat keunggulan (center of excellence) yang spesifik pada kekayaan alam Kalimantan.
"Gedung MeRC ini didesain bukan hanya untuk Fakultas Kedokteran, tapi dapat diakses oleh semua prodi dan mitra luar. Fokus riset kita adalah pada penyakit tropis, kesehatan di lahan gambut dan rawa sesuai Pola Ilmiah Pokok (PIP) UPR, serta pengembangan biofarmaka. Fasilitas ini juga menjadi penunjang utama kami untuk segera membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan profesi apoteker," ujar Rektor UPR.
Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Tengah Edy Pratowo, menyambut baik peresmian ini sebagai sinergi yang kuat antara pusat dan daerah dalam mencetak SDM unggul. Ia menegaskan komitmen Pemprov Kalteng dalam mendukung mahasiswa kedokteran agar tidak terkendala biaya.
"Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mendukung penuh pengembangan UPR melalui berbagai program, salah satunya 'Satu Keluarga Satu Sarjana' dengan target 10.000 mahasiswa melalui bantuan biaya pendidikan dan beasiswa. Kami juga sedang menyiapkan pembangunan gedung pendukung spesialis kebidanan di RSUD Doris Sylvanus untuk menunjang praktik klinis mahasiswa kedokteran kita," jelas Wagub Kalteng.
Peresmian ini diakhiri dengan penandatanganan prasasti dan peninjauan fasilitas laboratorium di Gedung MeRC yang diharapkan menjadi lokomotif baru bagi kemajuan sains dan teknologi kesehatan di Indonesia Tengah. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menilai pengembangan pusat riset seperti MeRC merupakan bagian penting dari upaya mendorong perguruan tinggi menjadi kampus berdampak yang mampu menghadirkan inovasi, memperkuat ekosistem riset, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





