Bandung-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menekankan pentingnya menjaga keselarasan antara pesatnya kemajuan teknologi modern dengan penguatan nilai-nilai ketakwaan, moral, dan kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan pada khutbah Iduladha dalam pelaksanaan salat Id yang berlangsung khidmat di Lapangan Campus Center Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (27/5).
Mendiktisaintek menyampaikan bahwa saat ini umat manusia hidup di era yang bergerak sangat cepat, dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi melampaui batas, dan kecerdasan buatan kian canggih. Namun, di tengah semua lompatan kemajuan tersebut, ada hal mendasar yang tidak boleh berubah, yaitu hati yang benar.
"Secanggih apapun teknologi, ia tidak akan mampu menggantikan kasih sayang. Setinggi apapun ilmu manusia, ia tidak akan mampu menggantikan ketakwaan, dan sebesar apa pun kekuatan sebuah bangsa, ia tidak akan bertahan tanpa akhlak dan adab," ujar Menteri Brian di hadapan jemaah salat Id.
Menteri Brian juga menegaskan bahwa kemajuan zaman, sama sekali tidak boleh membuat manusia kehilangan arah menuju Tuhan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang dipelajari harus melahirkan hikmah, pendidikan harus melahirkan akhlak mulia, teknologi harus menghadirkan kemaslahatan nyata bagi masyarakat, serta kekuasaan harus mampu menghadirkan keadilan dan menghentikan berbagai penderitaan rakyat.
Menghubungkan esensi teknologi dengan kontribusi sosial, Mendiktisaintek turut mencontohkan bagaimana penghargaan sains tertinggi dunia, seperti Nobel Prize yang memiliki slogan “The Greatest Benefit for Humankind”. Hal ini menunjukkan bahwa karya pengetahuan yang bernilai tinggi bukanlah sekadar melahirkan kebaruan (novelty) demi ilmu itu sendiri, melainkan seberapa besar dampak positif dan manfaat nyata yang diberikan bagi peradaban manusia.
Dalam khutbahnya, Menteri Brian juga mengingatkan esensi utama dari Hari Raya Iduladha. Menurutnya, tingkatan tertinggi seorang manusia dalam Islam bukan diukur dari seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak harta yang didapatkan, melainkan dari seberapa banyak harta dan kemanfaatan yang bisa diberikan kepada sesama manusia.
Mengambil teladan dari Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menunjukkan ketaatan mutlak kepada Allah SWT, beliau menekankan bahwa esensi kurban yang sejati bukanlah sekadar daging atau darah hewan yang disembelih.
"Sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukanlah daging-daging itu, tetapi nilai ketakwaan dari kebiasaan, dan keinginan kita untuk ikhlas memberi kepada sesama," jelas Mendiktisaintek.
Mendiktisaintek juga mengajak seluruh jemaah untuk merefleksikan diri agar momentum Iduladha, menjadikan pribadi yang lebih jujur, lebih lembut lisannya, lebih bersih cara berpikirnya, serta lebih ringan tangan dalam membantu sesama.
Di akhir khutbah, Mendiktisaintek memimpin doa bersama untuk keselamatan bangsa. Menteri Brian secara khusus mendoakan agar generasi muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang kuat dalam ilmu pengetahuan, mulia dalam akhlak, serta mencintai tanah air dengan kejujuran dan pengabdian. Mendiktisaintek juga mendoakan agar Indonesia senantiasa diberkahi menjadi negara yang damai, adil, maju, sejahtera, serta dijauhkan dari perpecahan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak





