Medan—Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, menekankan bahwa keberlanjutan kinerja perguruan tinggi, membutuhkan kemampuan beradaptasi dan mengembangkan sumber pendapatan yang beragam. Untuk itu, perguruan tinggi perlu mempelajari praktik baik dari institusi lain, baik di dalam maupun luar negeri, serta menyesuaikannya dengan potensi dan kebutuhan masing-masing. Hal tersebut disampaikannya dalam U25 Leaders Forum PTN BH bertema “Unlocking Funding Opportunities: Strategi Pembiayaan Proyek Strategis PTN BH” di Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat (16/10).
Sesjen Badri mendorong agar perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN BH), dapat memperluas sumber pendanaan dan mengoptimalkan aset untuk memperkuat keberlanjutan pembiayaan.
“Diversifikasi pendapatan dan optimalisasi pengeluaran, diperlukan dalam keberlanjutan kinerja. Dibutuhkan Organizational Capability for Change (OCC), kapabilitas untuk berubah, guna menjamin keberlanjutan kinerja perguruan tinggi. Belajar dari best practices, diversifikasi pendapatan,” ujar Sesjen Badri.
Lebih lanjut, Sesjen Badri menjelaskan bahwa perguruan tinggi dapat mengembangkan potensi pendidikan yang telah berjalan, sekaligus mengeksplorasi peluang baru. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan program pendidikan dan penjajakan model usaha yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.
“Tentu pendidikan-pendidikan bisa kita exploit. Pendidikan S1, S2, S3. Kemudian yang eksplorasi, kita belajar dari tempat lain, apa yang perlu kita gagas. Seperti yang saya sampaikan tadi, dormitori bisa jadi alternatif,” jelas Sesjen Badri.
Selain memperluas sumber pendapatan, Sesjen Badri menekankan pentingnya mengadopsi dan mengadaptasi praktik baik dari institusi lain. Menurutnya, pembelajaran tersebut dapat menjadi inspirasi bagi PTN BH untuk mengembangkan model pengelolaan yang sesuai, dengan kebutuhan masing-masing.
Sementara itu, Ketua U25 Leaders Forum sekaligus Rektor Universitas Indonesia (UI), Heri Hermansyah, menyampaikan rencana pembentukan konsorsium unit usaha bersama dan penguatan rekognisi akademik antar-PTN BH. Inisiatif tersebut dibahas untuk memperluas kolaborasi antarkampus, baik dalam pengembangan usaha maupun pertukaran akademik.
“Kita akan membentuk unit usaha bersama, konsorsium dari seluruh universitas PTN BH ini untuk menangani krisis-krisis yang bersifat rutin. Di mana U25 sendiri yang menjadi captive market-nya. Kemudian, yang kedua yaitu terkait rekognisi akademik U25. Jadi, dari 26 PT-BH saat ini, kita akan merekognisi kegiatan akademik yang kita lakukan di 26 perguruan tinggi secara reciprocal. Kita akan lakukan juga exchange antar-PTN BH untuk mahasiswa, teknik, dan dosen. Sehingga nanti bisa saling mengakselerasi dan belajar bersama, kemudian memiliki baseline yang sama,” ujar Rektor Heri.
Di sisi lain, Rektor USU, Muryanto Amin, berharap pelaksanaan U25 Leaders Forum memberikan manfaat bagi seluruh peserta, khususnya dalam memperkuat kerja sama dan pengembangan PTN BH. Forum ini menjadi ruang bagi para pimpinan perguruan tinggi untuk bertukar gagasan mengenai pengelolaan dan pemanfaatan potensi kampus.
“Kami berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik dalam penyelenggaraan pelaksanaan U25 Leaders Forum ini, dan kami berharap agar Bapak-Ibu sekalian bisa menikmatinya, sekaligus juga bisa merasakan manfaat yang kita lakukan,” ujar Rektor Muryanto.
Melalui U25 Leaders Forum, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi, memperluas sumber pendanaan, dan mengembangkan pemanfaatan aset secara produktif. Berbagai gagasan yang dibahas diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui inisiatif bersama yang terukur dan berkelanjutan untuk mendukung pembiayaan proyek strategis serta memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak





