Hadapi Perkembangan AI, Indonesia Butuh Talenta Inovatif

Kabar

28 September 2026 | 11.30 WIB

Hadapi Perkembangan AI, Indonesia Butuh Talenta Inovatif

Jakarta-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, dan inovatif dalam menghadapi perkembangan teknologi. Hal tersebut disampaikan Wamendiktisaintek saat menjadi pembicara dalam High Level Talk bertajuk “Women & Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi” pada Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (25/9).


Menurut Wamen Stella, perkembangan AI membawa perubahan terhadap kebutuhan kompetensi talenta. Karena itu, pendidikan tinggi perlu mempersiapkan talenta yang mampu mengevaluasi keluaran AI, baik dari sisi kebenaran, efisiensi, maupun kualitasnya.


“Kalau kita ingin berkompetisi di dunia yang didominasi oleh AI ini, pendidikan tinggi Indonesia harus bisa menyesuaikan orang-orang yang mampu mengevaluasi AI. Mampu mengevaluasi keluaran dari AI ini benar atau tidak, efisien atau tidak, bagus atau tidak,” ujar Wamen Stella.


Kemampuan tersebut perlu berjalan bersama dengan penguatan inovasi, dan pola pikir kritis dalam proses pendidikan. Perkembangan AI justru membuat kemampuan tersebut semakin penting bagi talenta Indonesia.


“Kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi. Dari dulu penting, sekarang lebih penting lagi,” tambah Wamen Stella.


Selain penguatan kemampuan talenta, Wamendiktisaintek juga menyoroti pentingnya riset di perguruan tinggi sebagai bagian dari pengembangan inovasi. Riset di lingkungan perguruan tinggi dinilai dapat berkontribusi terhadap pengembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi.


“Ini yang harus kita lakukan di Indonesia, riset di universitas. Economic growth juga menunjukkan hal tersebut, bahwa inovasi yang akan memimpin pertumbuhan,” jelas Wamen Stella.


Perkembangan AI dan teknologi juga menuntut talenta untuk terus beradaptasi. Kemampuan mempelajari dan memanfaatkan perkembangan teknologi, menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan yang berlangsung cepat.


“Memang ketika kita berbicara mengenai AI dan teknologi tidak lepas,  pada prinsip kita harus beradaptasi. Because this is an ever-changing innovation, yang dimana suka tidak suka kita harus mempelajarinya dan kita harus beradaptasi dalam menjalani keseharian kita,” tegas Wamen Stella dalam paparannya.


Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyoroti pentingnya mengubah bonus demografi Indonesia menjadi bonus kompetensi. Gubernur BI mengatakan, pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan perlu bersinergi dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi serta mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.


Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Wamendag RI), Dyah Roro Esti Widya Putri turut menyampaikan pentingnya kemampuan beradaptasi dalam pemanfaatan teknologi. Dalam paparannya, Wamen Dyah menyebutkan bahwa pada 2025 sekitar 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300.000 pedagang telah mendapatkan fasilitasi digital, termasuk sistem pembayaran daring dan pelatihan. Wamendag juga memaparkan pengembangan InaExport untuk menghubungkan pelaku usaha dengan pasar internasional melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.


Dari sisi industri, CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi menilai kemampuan berpikir kritis menjadi penting ketika masyarakat semakin banyak menggunakan AI. Pengguna perlu memiliki kemampuan untuk menilai kembali hasil analisis yang diberikan teknologi sebelum menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan.


“Pertanyaannya adalah bagaimana penggunanya ini bisa menilai analisisnya benar atau tidak. Hence the critical thinking itu sangat diperlukan di universitas,” ujar CEO Neneng.


Sementara itu, Direktur Wahid Foundation, Yenni Wahid menekankan bahwa pengembangan talenta digital juga perlu didukung ekosistem yang memungkinkan lebih banyak orang memperoleh akses, pembelajaran, dan kesempatan untuk berkembang. Menurut Direktur Wahid Foundation, penguatan ekosistem penting agar manfaat perkembangan teknologi dapat dirasakan lebih luas.


Melalui penguatan pendidikan, riset, kemampuan berpikir kritis, inovasi, dan ekosistem yang inklusif, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong pengembangan talenta digital yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung produktivitas serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Ulas Sekarang