Denpasar–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat transformasi pendidikan tinggi melalui pengembangan ekosistem kewirausahaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan dunia usaha, dan tantangan pembangunan nasional. Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Aliansi Program Studi Kewirausahaan Indonesia (APSKI) Tahun 2026 di Bali, Kamis (23/7).
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal (Plt. Sesjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco menegaskan bahwa program studi kewirausahaan merupakan salah satu instrumen penting dalam mewujudkan visi Kemdiktisaintek yang inklusif, adaptif, dan berdampak menuju Indonesia Emas 2045. Menurut Plt. Sesjen, Indonesia membutuhkan lebih banyak technopreneur yang mampu mengubah hasil riset dan inovasi menjadi solusi nyata serta sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Kita perlu memahami bersama bahwa urgensi wirausahawan berbasis sains dan teknologi semakin penting. Program studi kewirausahaan menjadi sangat relevan untuk menjawab tantangan masa depan melalui hilirisasi inovasi dan penciptaan lapangan kerja baru,” ujar Plt. Sesjen Badri.
Plt. Sesjen juga menyoroti tantangan bonus demografi dan tingginya angka pengangguran, termasuk di kalangan lulusan pendidikan tinggi. Perguruan tinggi dinilai perlu bertransformasi menjadi entrepreneurial university yang tidak hanya menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga mampu melahirkan pencipta lapangan kerja berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, lembaga pembiayaan, dan asosiasi didorong untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih terintegrasi.
Sementara itu, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), M. Riza Damanik menyampaikan bahwa pengembangan kewirausahaan menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menekan angka pengangguran.
“Kita harus mendorong semakin banyak anak muda untuk tumbuh menjadi pengusaha yang kuat. Tidak mungkin Indonesia menjadi negara maju tanpa rasio kewirausahaan yang memadai untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja,” ungkap Deputi Riza.
Deputi Riza menambahkan bahwa pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan yang diharapkan menjadi landasan penguatan kolaborasi lintas kementerian, perguruan tinggi, sektor swasta, dan pemerintah daerah dalam pengembangan wirausaha nasional. Optimalisasi peran lembaga inkubator di perguruan tinggi juga didorong untuk meningkatkan tingkat keberhasilan usaha rintisan dan memperkuat pendampingan bagi calon pengusaha muda.
Ketua APSKI, Sonny Rustiadi menyampaikan bahwa APSKI terus berkomitmen memperkuat pendidikan kewirausahaan di Indonesia melalui kolaborasi antarkampus, industri, dan mitra internasional. Menurutnya, pendidikan kewirausahaan perlu dirancang agar mahasiswa mampu mengidentifikasi persoalan lokal, menciptakan nilai tambah bagi daerah, serta menjadi bagian integral dari transformasi perguruan tinggi menuju entrepreneurial university yang sesungguhnya.
“Pendidikan kewirausahaan tidak hanya mempersiapkan mahasiswa untuk siap bekerja, tetapi juga membekali mereka untuk mampu menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan solusi bagi persoalan ekonomi di daerahnya masing-masing,” ujar Sonny.
APSKI saat ini menaungi lebih dari 120 program studi kewirausahaan dan terus berkembang, dengan anggota yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Rakernas III APSKI diikuti oleh lebih dari 150 program studi kewirausahaan, akademisi, praktisi industri, pembuat kebijakan, dan mitra internasional. Forum ini juga membahas penguatan kerja sama internasional, pengembangan kurikulum berbasis AI, serta penandatanganan berbagai nota kesepahaman dengan mitra nasional dan internasional.
Melalui Rakernas III APSKI, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus mendorong lahirnya generasi technopreneur Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu menghilirisasi inovasi, serta berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya saing bangsa. Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, pendidikan tinggi diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif







