Makassar – Popok sekali pakai telah menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga. Kepraktisannya membantu orang tua, terutama dalam merawat bayi. Namun, di balik kemudahan tersebut tersimpan persoalan lingkungan yang kian membesar. Material penyusun popok yang didominasi plastik dan polimer sintetis membuat limbahnya membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai.
Persoalan itu menjadi perhatian tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Hasanuddin (Unhas). Empat mahasiswa lintas disiplin mengembangkan PLASTERA (Plastic Decomposer Era), pembungkus limbah popok berbasis biokomposit yang dibuat dari limbah kulit singkong, cangkang telur, dan diperkaya eco-enzyme untuk mendukung proses biodegradasi.
Ketua tim, Andi Aliyah Tenri Awaru, mengatakan inovasi tersebut lahir dari persoalan yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Menurut dia, limbah popok merupakan salah satu jenis sampah rumah tangga yang sulit dikelola sehingga memerlukan pendekatan baru dalam penanganannya.
"Secara ilmiah, kami memanfaatkan karakteristik beberapa biomaterial. Pati yang diekstraksi dari kulit singkong berfungsi sebagai bahan utama pembentuk bioplastik yang lebih mudah terurai dibandingkan plastik berbasis minyak bumi. Sementara serbuk cangkang telur dimanfaatkan sebagai penguat struktur material sehingga meningkatkan kekuatan mekanis pembungkus. Integrasi eco-enzyme diharapkan dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung aktivitas mikroorganisme dalam proses penguraian limbah organik," kata Aliyah.
Besarnya volume limbah popok menjadi alasan utama pengembangan inovasi tersebut. Popok sekali pakai membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terurai di alam. Sementara itu, Indonesia diperkirakan menghasilkan sekitar 7,8–9,2 juta ton limbah plastik setiap tahun, yang sebagian besar belum terkelola secara optimal sehingga berpotensi mencemari sungai dan laut.
Pada tahun pertama kehidupannya, seorang bayi rata-rata menggunakan lima hingga delapan popok setiap hari. Dengan estimasi kelahiran 4,4–4,8 juta bayi per tahun di Indonesia, jumlah popok sekali pakai yang berakhir menjadi limbah diperkirakan mencapai 22,5–36 juta lembar setiap hari atau sekitar 8,1–13,1 miliar lembar dalam setahun.
PLASTERA tidak hanya dirancang menggunakan material yang lebih ramah lingkungan. Tim juga melengkapinya dengan perekat agar popok bekas dapat ditutup lebih rapat sehingga membantu mengurangi bau serta lebih praktis dibawa ketika pengguna bepergian.
Meski demikian, tim peneliti menilai inovasi material bukan satu-satunya jawaban atas persoalan limbah popok. Pengelolaan sampah tetap membutuhkan perubahan perilaku masyarakat, mulai dari memilah sampah, membuang limbah dengan benar, hingga memperkuat sistem pengolahan sampah. Tanpa pengelolaan yang memadai, penggunaan material yang lebih ramah lingkungan belum tentu menghasilkan dampak yang optimal.
Dalam tahap pengembangan, tim berencana memperkenalkan PLASTERA melalui media sosial, marketplace, bazar, dan pameran kewirausahaan mahasiswa. Edukasi mengenai pengelolaan limbah popok juga akan menjadi bagian dari strategi pengembangan produk.
Dosen pendamping tim, Dr. Ir. Nursinah Amir, S.Pi., M.P., IPM., mengatakan riset yang berangkat dari pemanfaatan limbah organik memiliki peluang untuk berkembang menjadi teknologi sederhana yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Tidak banyak yang menyadari bahwa di balik kepraktisan popok bayi sebagai wujud kasih sayang orang tua, terdapat persoalan lingkungan yang memerlukan respons. Pada tahap inilah sains dapat memberikan dampak," ujarnya.
Tim pengembang PLASTERA terdiri atas Andi Aliyah Tenri Awaru dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Fashila Aulia dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Putri Naila Az-Zahra Yusri dari Fakultas Kesehatan, serta Nabila Zahirah Putri Amri dari Fakultas Teknik.
Pengembangan PLASTERA menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa tidak selalu berangkat dari teknologi yang rumit. Persoalan sehari-hari, seperti limbah popok sekali pakai, juga dapat menjadi ruang lahirnya solusi berbasis sains. Meski demikian, keberhasilan inovasi semacam ini tetap bergantung pada perubahan perilaku masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Catatan Editor:
Artikel membahas meningkatnya persoalan limbah popok sekali pakai yang sulit terurai serta inovasi mahasiswa Universitas Hasanuddin melalui PLASTERA, pembungkus limbah popok berbasis biokomposit dari kulit singkong, cangkang telur, dan eco-enzyme. Selain menjelaskan konsep dan manfaat inovasi, artikel juga menekankan bahwa pengelolaan limbah popok memerlukan dukungan teknologi, edukasi, dan perubahan perilaku masyarakat agar memberikan dampak yang berkelanjutan.
Copywriter : AndiMuhammad Syafrizal
Editor : Ishaq Rahman







