Tanah Datar–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus berupaya mendukung pemulihan dan pemberdayaan pascabencana Sumatra, melalui program Mahasiswa Berdampak.
Kali ini tim dari Universitas PGRI Sumatra Barat hadir, mengerahkan 56 mahasiswa di Desa Tambangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, membawa program tepat guna berupa restorasi lahan, dan revitalisasi ekonomi lokal melalui pemberdayaan masyarakat, Jumat (20/2).
Ketua Koordinator Kelompok Mahasiswa Universitas PGRI, Fajar Febrian Utami menjelaskan, bahwa sebelum bencana terjadi lahan yang terdampak bencana merupakan lahan pertanian yang siap panen. Namun, lahan tersebut terdampak bencana longsor, dan banjir besar yang menyebabkan kontur tanah sulit untuk dijadikan lahan pertanian kembali.
“Kami ingin ke depannya melalui restorasi lahan pertanian yang kami berikan, lahan ini akan terus menjadi aset dari kelompok tani dan memberikan dampak berkelanjutan, sehingga perlahan memulihkan perekonomian kelompok tani,” ujar Fajar saat ditemui di Desa Tambangan.
Tim PGRI bekerja sama dengan kelompok tani di Desa Tambangan, melakukan alih fungsi lahan pertanian melalui teknik polikultur. Media tanam yang dihabiskan meliputi lima gerobak tanah, tiga karung kompos ditambah sekam padi, jerami dan abu dari jerami, serta 30 kilogram polybag.
Restorasi lahan, dan revitalisasi ekonomi lokal, dilakukan melalui rehabilitasi produktivitas tanah pascabencana. Optimalisasi lahan berpasir pascabencana diwujudkan melalui teknik polikultur, dan penyediaan sumber pangan mandiri bagi masyarakat terdampak. Komoditas yang ditanam meliputi mentimun, buncis, pare, dan lainnya.
Di kesempatan yang sama, Indra Martinus, anggota kelompok tani Desa Tambangan mengatakan bahwa dengan keterbatasan masyarakat Desa Tambangan terlebih lagi terdampak bencana seperti saat ini rasanya sulit untuk memulihkan lahan pertanian dengan cepat. Adanya program Mahasiswa Berdampak sangat membantu masyarakat Desa Tambangan dalam merestorasi lahan pertanian dan merevitalisasi ekonomi lokal.
“Syukur alhamdulillah. Dengan semangatnya mereka (mahasiswa, red) untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir. Kalau kita membuat sendiri mungkin sampai 4-5 juta (rupiah, red). Ini kita 1% pun tidak keluar, hanya mengeluarkan tenaga dan ilmu,” ucap Indra.
Kelompok tani Desa Tambangan berkomitmen untuk berupaya meneruskan metode pertanian ini agar lebih luas dan berkembang.
“Perasaan cukup puas, alhamdulillah. Karena adanya satu orang tadi bekerja, sekarang kita ramai-ramai,” pungkas Indra.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






