Depok—Di era disrupsi teknologi dan percepatan kecerdasan buatan, tantangan pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak lagi semata berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga penguatan karakter, spiritualitas, dan etika sosial.
Berbagai laporan global menunjukkan meningkatnya tantangan kesehatan mental dan krisis makna hidup di tengah masyarakat modern. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 365 juta jiwa di dunia hidup dengan gangguan kecemasan, sementara berbagai survei internasional menunjukkan stres menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar masyarakat global. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral dan ketenangan batin manusia.
Merespons hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menekankan pentingnya membangun peradaban yang selain maju secara teknologi, juga kokoh secara moral dan spiritual. Hal itu disampaikan pada khutbah Iduladha 1447 H/2026 M, di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Rabu (27/5).
“Peristiwa Iduladha mengingatkan kita bahwa kemajuan peradaban tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan teknologi, melainkan juga dari kualitas moral dan kemanusiaan,” ujar Wamen Fauzan.
Wamendiktisaintek menjelaskan bahwa masyarakat modern saat ini menghadapi paradoks peradaban, di mana kemajuan teknologi dan akumulasi materi sering kali justru diiringi dengan kekeringan spiritual, budaya individualistik, dan hilangnya makna kehidupan. Menurut Wamendiktisaintek, keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran penting tentang kepasrahan, keteguhan moral, serta kemampuan menempatkan nilai-nilai ketuhanan di atas ego dan kepentingan materialistik.
Pandangan Wamendiktisaintek tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan manusia unggul dan penguatan karakter sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Senada dengan hal itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto juga terus mendorong transformasi pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga memiliki integritas, empati sosial, dan keberpihakan terhadap kemanusiaan melalui semangat Diktisaintek Berdampak.
Dalam khutbahnya, Wamen Fauzan turut mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan teknologi dengan pembangunan karakter. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi yang mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai moral dan spiritual sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Kemdiktisaintek terus mendorong sivitas akademika, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang memperkuat nilai kemanusiaan, solidaritas sosial, serta kepedulian terhadap sesama sebagai fondasi kemajuan bangsa yang berkelanjutan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak






