Bandar Lampung – Lima mahasiswa Universitas Lampung (Unila) mengembangkan inovasi pesawat nirawak (drone) biomimetik berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu petani mendeteksi serangan hama dan penyakit pada tanaman kopi secara cepat dan presisi. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi bagi persoalan hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan penyakit karat daun yang selama ini menjadi penyebab utama penurunan produktivitas kebun kopi rakyat.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) Unila 2026 yang berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Tim pengembang terdiri atas Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi sebagai ketua, bersama Ariq Hazel, Gita Rahmania, Bayu Dwi Setiawan, dan Elfi Nuraini Maridah di bawah bimbingan dosen Aryanto, S.T., M.T. Mereka mengusung proposal berjudul "Inovasi Pesawat Nirawak Agen Cerdas Berdesain Kumbang sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas Kopi bagi Petani Rakyat dan Industri Berkelanjutan di Indonesia."
Berbeda dengan drone komersial pada umumnya, inovasi mahasiswa Unila mengadopsi bentuk fisik kumbang sehingga mampu bermanuver di bawah kanopi tanaman kopi yang rapat. Desain biomimetik tersebut memungkinkan drone menjangkau area yang sulit diakses sekaligus melakukan pemantauan kondisi tanaman secara lebih efektif.
Drone dilengkapi teknologi AI berbasis YOLOv8 dan ResNet, kamera ESP32-CAM, serta sistem Internet of Things (IoT) yang mampu mendeteksi gejala serangan hama dan penyakit secara otomatis. Hasil pemantauan kemudian dikirimkan secara real-time ke dashboard monitoring dalam bentuk peta lokasi tanaman yang terindikasi terserang sehingga memudahkan petani melakukan penanganan secara tepat sasaran.
Ketua tim, Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi, menjelaskan bahwa teknologi tersebut mampu memangkas waktu inspeksi kebun secara signifikan.
"Jika sebelumnya petani harus memeriksa tanaman secara manual selama berhari-hari, kini proses inspeksi dapat diselesaikan hanya dalam sekitar 15 menit penerbangan drone," ujarnya.
Selain meningkatkan kecepatan deteksi, drone juga dirancang dengan biaya produksi yang relatif terjangkau, sekitar Rp6–8 juta per unit. Perangkat ini menggunakan komponen seperti mikrokontroler Raspberry Pi Pico dan GPS Ublox M8N sehingga berpotensi dikembangkan sebagai teknologi yang mudah diadopsi oleh petani.
Uji coba lapangan dilakukan di perkebunan kopi mitra di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus. Hasil pengujian menunjukkan bahwa drone mampu membantu petani mengidentifikasi serangan hama lebih dini, mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan, serta meningkatkan efektivitas pengelolaan kebun.
Salah seorang petani mitra, Sumardi, mengaku teknologi tersebut memberikan manfaat nyata karena memungkinkan penanganan penyakit tanaman dilakukan lebih cepat sebelum penyebaran semakin luas.
Pengembangan inovasi ini juga menjadi bagian dari komitmen Unila dalam mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pertanian presisi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Meski menghadapi tantangan dalam integrasi sistem AI, IoT, dan komunikasi data pada perangkat berukuran kecil, tim optimistis inovasi tersebut dapat terus disempurnakan.
Ke depan, drone biomimetik berbasis AI ini diharapkan dapat lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2026 serta dikembangkan menjadi produk yang siap diterapkan secara lebih luas. Inovasi tersebut sekaligus mempertegas peran mahasiswa Unila dalam menghadirkan solusi berbasis riset yang mendukung modernisasi sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani Indonesia.






