Matematika sebagai Panggilan: Perjalanan Prof. Cecep Membangun Generasi Berpikir

Cerita Kita

25 May 2026 | 11.30 WIB

Matematika sebagai Panggilan: Perjalanan Prof. Cecep Membangun Generasi Berpikir

Ada yang berbeda dari cara Prof. Dr. Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa, M.Si memandang matematika. Bagi dosen Pendidikan Matematika FKIP Untirta yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar ini, matematika bukan sekadar deretan rumus dan angka — melainkan fondasi cara berpikir yang rasional, logis, dan terstruktur. Sebuah keyakinan yang ia bangun selama lebih dari dua dekade, dan kini ia buktikan melalui penelitian, karya, serta ratusan mahasiswa yang ia bimbing.

Dari Keteladanan Dosen IPB, Tumbuh Sebuah Panggilan

Lahir di Sumedang, 5 Januari 1981, Cecep kecil tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan. Ayahnya, almarhum Drs. K.H. Maman Sholehuddin, adalah sosok yang memadukan pendidikan agama pesantren dan pendidikan umum — sebuah kombinasi yang ia yakini membentuk pribadi yang utuh dan berilmu.

“Sejak kecil, ayah selalu mengatakan bahwa saya kelak akan menjadi profesor. Saat itu, mungkin beliau sendiri belum sepenuhnya membayangkan seperti apa jalan untuk mencapainya. Namun bagi saya, itu seperti mantra yang terus hidup dan menguatkan langkah saya.”

Perjalanan akademiknya membawa ia ke Institut Pertanian Bogor, tempat yang ia sebut sebagai titik paling menentukan dalam hidupnya sebagai pendidik. Di sana, ia tidak hanya belajar matematika sebagai disiplin ilmu, tetapi juga menyaksikan langsung keteladanan para dosen — dalam kesederhanaan, keteguhan, dan kedalaman intelektual. Dari sinilah tumbuh keyakinan bahwa menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan yang mulia.

Setelah menyelesaikan S2 Matematika Terapan di IPB, ia bergabung dengan Untirta pada tahun 2008 dan melanjutkan S3 Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia. Perjalanan panjang itu kini menemukan puncaknya — Pengukuhan Guru Besar pada Gelombang I Tahun 2026.

Worked-Example: Ketika Matematika Diselaraskan dengan Cara Kerja Otak

Di balik gelar dan publikasinya yang menembus lebih dari seribu sitasi, ada satu gagasan yang menjadi benang merah penelitian Prof. Cecep selama bertahun-tahun — pendekatan worked-example, atau penyajian contoh yang diselesaikan secara sistematis sebelum mahasiswa mengerjakan soal secara mandiri.

“Ketika diterapkan, perubahan yang paling terasa adalah mahasiswa menjadi lebih cepat memahami konsep dan lebih percaya diri dalam menyelesaikan masalah. Mereka tidak lagi langsung dilempar ke soal yang kompleks, tetapi dibimbing terlebih dahulu melalui struktur penyelesaian yang jelas.”

Pendekatan ini ia implementasikan langsung dalam buku ajar Kalkulus Peubah Banyak yang disusunnya berdasarkan hasil penelitian. Hasilnya, mahasiswa menunjukkan peningkatan dalam kemampuan pemecahan masalah sekaligus efisiensi dalam membangun pemahaman konsep.

Namun Prof. Cecep tidak berhenti di situ. Baginya, efisiensi kognitif saja belum cukup. “Mahasiswa yang mampu menyelesaikan soal dengan baik belum tentu mencapai kematangan matematis — kemampuan untuk bertahan, terlibat, dan tetap termotivasi dalam menghadapi masalah yang menantang,” tegasnya. Itulah mengapa ke depan, ia ingin mengintegrasikan efisiensi kognitif dengan pembangunan kematangan matematis sebagai tujuan yang lebih utuh.

Membawa Perubahan hingga Tingkat Kebijakan Nasional

Kontribusi Prof. Cecep tidak berhenti di ruang kelas Untirta. Keterlibatannya bersama Puskurbuk Kemendikbudristek dalam penelitian komparatif buku ajar matematika Indonesia dan Jepang membuka wawasan baru tentang kualitas pembelajaran.

Bersama Prof. Masami Ishoda dari Tsukuba University Jepang, ia menemukan perbedaan mendasar: buku ajar Indonesia cenderung deduktif dan memisahkan pembelajaran dari evaluasi, sementara buku Jepang lebih induktif, kaya konteks, dan mengintegrasikan keduanya secara utuh. Temuan ini tidak hanya menjadi laporan akademik — melainkan mendorong perubahan nyata dalam cara Indonesia mengontekstualisasikan buku ajar dan merancang alur belajar yang lebih bermakna.

“Yang paling penting bukan sekadar aktivitas pembelajaran itu sendiri, tetapi kesesuaiannya dengan arsitektur kognitif manusia.”

Inovasi U-OBE: Sistem yang Langsung Dirasakan Program Studi

Sebagai Kepala Pusat Pengembangan Proses Pembelajaran dan Inovasi PJJ Untirta, Prof. Cecep tidak hanya berpikir dalam skala riset — ia juga bergerak dalam skala sistem. Bersama UPA TIK Untirta, ia menginisiasi pengembangan sistem U-OBE — platform pengukuran capaian pembelajaran lulusan yang mulai dirintis akhir 2024 dan kini sudah dapat diakses dan diimplementasikan di u-obe.untirta.ac.id.

“Dampaknya cukup langsung dirasakan oleh program studi, terutama yang sedang mempersiapkan re-akreditasi, karena proses pengukuran capaian pembelajaran menjadi lebih terstruktur, terdokumentasi, dan mudah ditelusuri.”

Sistem ini memungkinkan pengelolaan pembelajaran berbasis data — sebuah lompatan signifikan menuju tata kelola akademik yang lebih modern di Untirta.

Membimbing Bukan Sekadar Mengarahkan

Dari 96 mahasiswa S1, 14 S2, dan 4 S3 yang pernah ia bimbing, ada satu kisah yang selalu ia kenang. Seorang mahasiswanya yang telah lulus menghubunginya kembali, menyampaikan bahwa kemampuan tambahan yang ia pelajari selama proses bimbingan justru menjadi faktor penting yang membantunya meraih pekerjaan yang lebih baik.

“Keberhasilan pembimbingan tidak hanya terlihat dari selesainya tugas akhir, tetapi dari sejauh mana proses tersebut benar-benar membekali mahasiswa untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.”

Visi Lima Tahun ke Depan: Guru yang Membentuk Generasi

Dengan bertambahnya Guru Besar di Program Studi Pendidikan Matematika Untirta — kini menjadi empat orang — Prof. Cecep melihat momentum besar di depan. Ia ingin Prodi Pendidikan Matematika Untirta tidak hanya berkembang secara internal, tetapi berkontribusi nyata dalam kancah pendidikan matematika nasional.

Ia ingin mendorong penguatan pembelajaran matematika yang tidak hanya efektif, tetapi juga selaras dengan cara kerja kognitif mahasiswa. Pendekatan worked-example dan pengembangan efisiensi kognitif perlu diintegrasikan dengan upaya membangun kematangan matematis, sehingga lulusan tidak hanya mampu menyelesaikan soal, tetapi juga memiliki daya tahan dan kedalaman berpikir dalam menghadapi persoalan yang kompleks.

“Dampak yang ingin saya wujudkan adalah hadirnya guru-guru matematika yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu membentuk generasi yang berpikir kritis, tangguh, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.”


“Saya mendedikasikan diri pada matematika karena ia membentuk cara berpikir yang rasional,

logis, dan terstruktur — fondasi penting bagi kemajuan manusia.”

— Prof. Dr. Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa, M.Si.


Kampus Berdampak

Jawara Berdampak

Untirta Jawara

Untirta

diktisaintekberdampak

/

5

Ulas Sekarang