Bekasi-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot dalam mengatasi krisis sampah nasional. Hal disampaikan dalam kunjungan kerja ke Pusat Biokonversi PT Maggot Indonesia Lestari, Minggu (1/3).
Dalam upaya menciptakan standar baru dalam tata kelola lingkungan berbasis komunitas, Menteri Brian menegaskan keterlibatan perguruan tinggi dalam melakukan peninjauan terhadap pengelolaan limbah di sektor swasta atau kawasan pemukiman yang memiliki fasilitas pemulihan material (MRF) sendiri atau sistem pengolahan mandiri.
“Untuk komplek-komplek yang sudah menghasilkan sistem pengolahan akan diberikan label “green” atau “prowaste” dan kampus yang akan meninjau dan menilai,” ujar Mendiktisaintek.
Implementasi teknologi biokonversi dalam skala besar telah menunjukkan hasil signifikan, terutama pada sektor-sektor dengan karakteristik limbah organik tinggi. Lebih lanjut, pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot dipilih karena terbukti mampu menekan residu hingga ke level 3% di sektor pariwisata dan perumahan.
Hal ini ditegaskan oleh Direktur Utama PT Maggot, Markus Susanto yang memaparkan data keberhasilan pengelolaan sampah di kawasan konservasi dan perhotelan.
Selain itu, Mendiktisaintek menekankan sinergi perguruan tinggi dan mahasiswa untuk melakukan survei dan pemetaan data sampah secara presisi di berbagai wilayah. Data ini akan menjadi fondasi utama bagi setiap daerah dalam menyusun masterplan pengelolaan sampah yang berbasis data ilmiah.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri diperlukan untuk menangani pengelolaan sampah, sehingga pengelolaannya juga memeberikan dampak yang baik bagi masyarakat.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif




