Mendiktisaintek: Generasi Muda Harus Miliki Beyond Nationalism, Bangun Kebangkitan Industri Nasional Berbasis Teknologi

Kabar

10 September 2026 | 17.00 WIB

Mendiktisaintek: Generasi Muda Harus Miliki Beyond Nationalism, Bangun Kebangkitan Industri Nasional Berbasis Teknologi

Jakarta — Indonesia membutuhkan visi besar dan keyakinan kolektif untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju. Visi tersebut tidak cukup diwujudkan melalui pertumbuhan ekonomi semata, tetapi harus ditopang oleh pembangunan sumber daya manusia, kebangkitan industri nasional, serta penguasaan teknologi dan inovasi yang melahirkan karya anak bangsa berdaya saing global.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan hal tersebut saat berdialog dengan keluarga besar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Di hadapan para alumni HMI yang memiliki jejaring luas di berbagai bidang, Mendiktisaintek mengajak seluruh elemen bangsa membangun optimisme bahwa Indonesia mampu menjadi negara maju apabila memiliki keberanian menetapkan target besar dan bekerja secara kolektif untuk mencapainya.

Menurut Mendiktisaintek, ukuran kemajuan sebuah bangsa salah satunya tercermin dari kemampuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia menggarisbawahi target pendapatan per kapita di atas 15.000 dolar AS sebagai salah satu ukuran untuk membawa Indonesia keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah. Saat ini, Indonesia masih berada pada kisaran 5.400–5.500 dolar AS per kapita. Karena itu, peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat membutuhkan transformasi ekonomi yang lebih mendasar.

“Ini adalah ukuran dignity bangsa kita, ukuran kebanggaan bangsa kita di depan bangsa lain. Kita harus membangun kepercayaan diri bahwa bangsa kita mampu. Dan industrialisasi ini adalah sebuah keharusan bagi kita. Kita harus membangun industri sebanyak-banyaknya,” tegas Menteri Brian.

Mendiktisaintek menjelaskan bahwa perjalanan menuju tingkat pendapatan yang lebih tinggi tidak dapat ditempuh hanya dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi berbasis konsumsi maupun ekspor sumber daya alam. Industrialisasi menjadi salah satu lokomotif penting untuk meningkatkan produktivitas, membuka lapangan kerja, memperkuat ekspor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Indonesia, menurutnya, perlu membangun kepercayaan diri bahwa bangsa ini mampu menghasilkan dan menguasai industrinya sendiri.


Dorongan terhadap industrialisasi tersebut semakin penting karena Indonesia menghadapi tantangan deindustrialisasi. Mendiktisaintek mengungkapkan bahwa selama sekitar dua dekade jumlah industri di Indonesia mengalami penurunan. Padahal, penguatan industri nasional memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta pengurangan ketergantungan terhadap impor. Karena itu, pembangunan industri harus menjadi agenda bersama dan tidak berhenti sebagai kerja pemerintah semata.

Dalam konteks tersebut, teknologi dan inovasi menjadi elemen penting agar industrialisasi Indonesia tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga mampu menguasai teknologi yang menjadi fondasi produk tersebut. Mendiktisaintek mencontohkan pengalaman berbagai negara seperti Jepang, Korea, dan China yang membangun kekuatan ekonominya melalui pengembangan industri secara konsisten. Indonesia juga memiliki pengalaman dan kapasitas untuk melakukan hal serupa, sebagaimana pernah ditunjukkan melalui pengembangan pesawat N250.

Mendiktisaintek menilai momentum Indonesia saat ini semakin penting karena negara memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, bonus demografi tersebut memiliki batas waktu. Ia menyebut jendela kesempatan Indonesia untuk melakukan lompatan dari kelompok negara berpendapatan menengah hanya terbuka hingga sekitar 2040. Karena itu, generasi produktif saat ini harus memanfaatkan momentum tersebut melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, produktivitas, teknologi, dan industrialisasi.

Kesempatan tersebut, lanjutnya, membutuhkan kerja kolektif dari berbagai elemen bangsa. Perguruan tinggi, akademisi, profesional, dunia usaha, birokrasi, masyarakat, hingga para pengambil kebijakan memiliki peran yang saling melengkapi. Dalam konteks ini, KAHMI memiliki posisi strategis karena memiliki jaringan yang luas di berbagai sektor dan dapat menjadi enabler sekaligus katalis bagi lahirnya perubahan dan karya-karya besar Indonesia.

Mendiktisaintek juga menekankan pentingnya membangun industri yang mampu menghasilkan produk nasional untuk menjawab kebutuhan masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dan energi dari luar negeri. Pengembangan kendaraan listrik menjadi salah satu contoh bagaimana penguasaan teknologi dapat sekaligus memperkuat industri dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar. Menurutnya, berbagai potensi sumber daya Indonesia harus diolah menjadi kekuatan ekonomi melalui teknologi dan industrialisasi.

Beyond Nationalism

Potensi terbesar Indonesia, menurut Mendiktisaintek, bukan hanya terletak pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusianya. Ia mencontohkan sosok talenta Indonesia yang dipercaya menjadi salah satu arsitek desain di NVIDIA, perusahaan teknologi global yang memiliki posisi penting dalam pengembangan komputasi untuk kecerdasan artifisial. Contoh tersebut menunjukkan bahwa talenta Indonesia memiliki kapasitas untuk berkiprah di pusat-pusat teknologi dunia. Tantangannya adalah bagaimana kemampuan tersebut dapat semakin banyak diwujudkan melalui ekosistem nasional yang memungkinkan talenta Indonesia menghasilkan karya dari dan untuk Indonesia.

Pengalaman Mendiktisaintek saat berinteraksi dengan akademisi dan mahasiswa di Jepang dan Korea juga memperkuat keyakinannya bahwa kemajuan sebuah bangsa dibangun melalui kerja keras, konsistensi, dan kebanggaan terhadap karya nasional. Ia menilai kebanggaan terhadap produk nasional harus berkembang menjadi nasionalisme dalam bentuk baru, yaitu ketika karya anak bangsa mampu digunakan dan dinantikan oleh masyarakat dunia. Inilah yang disebutnya sebagai beyond nationalism, sebuah nasionalisme yang tidak berhenti pada sebuah kata, tetapi diwujudkan melalui karya yang mengangkat nama Indonesia di panggung global.

“Kita bangga kalau suatu saat di Berlin ada bendera Indonesia. Bukan hanya dalam bentuk simbol, tetapi dalam bentuk karya-karya anak bangsa. Saya berharap bangsa Indonesia memiliki beyond nationalism. Nasionalisme kita jangan berhenti sampai kita menghormati bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan. Kita harus bangga ketika karya anak bangsa digunakan dan ditunggu oleh dunia,” papar Menteri Brian.

Bagi Kemdiktisaintek, gagasan tersebut sejalan dengan upaya membangun ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan nasional. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat lahirnya riset, inovasi, talenta, dan teknologi yang dapat memperkuat industri nasional. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan jejaring masyarakat menjadi fondasi penting untuk memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar memberikan dampak.

Di hadapan keluarga besar KAHMI, Mendiktisaintek menegaskan bahwa agenda membawa Indonesia menjadi negara maju bukan pekerjaan satu kelompok atau satu generasi. Indonesia membutuhkan orkestrasi kekuatan bangsa untuk membangun industri, menguasai teknologi, memperkuat sumber daya manusia, dan melahirkan produk-produk unggulan yang mampu bersaing secara global.

Mendiktisaintek menegaskan, momentum Indonesia untuk melakukan lompatan kemajuan tidak boleh disia-siakan. Generasi muda harus memiliki visi yang jauh ke depan, keberanian untuk bermimpi besar, serta kemauan untuk bekerja keras membangun kapasitas teknologi dan industri nasional. Dengan kekuatan talenta, riset, inovasi, dan kerja kolektif, Indonesia harus berani mengubah posisi dari sekadar pasar menjadi produsen dan pemain penting dalam rantai nilai global.

“Indonesia harus bangkit. Kita harus membangun keyakinan bahwa kita mampu menjadi bangsa maju, dan kedaulatan Indonesia harus tercermin dari karya-karya anak bangsa yang digunakan oleh dunia,” pungkas Menteri Brian

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi



#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang