Bengkulu – Bagi masyarakat Pulau Enggano, laut merupakan sumber utama penghidupan. Namun, bagi nelayan di pulau terluar Indonesia yang berjarak sekitar 170 kilometer dari Kota Bengkulu itu, hasil tangkapan yang melimpah kerap terkendala oleh persoalan sederhana: ketersediaan es.
Ketergantungan pada pasokan es dari daratan membuat nelayan harus menghadapi risiko kerusakan ikan ketika distribusi terhambat akibat cuaca atau transportasi laut. Akibatnya, kualitas hasil tangkapan menurun, harga jual menjadi rendah, bahkan sebagian ikan terpaksa dibuang.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Bengkulu (Unib) melalui program pengabdian kepada masyarakat menghadirkan solusi yang tidak hanya menjawab persoalan penyimpanan hasil tangkapan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk perikanan masyarakat pesisir.
Melalui kolaborasi dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) serta Fakultas Pertanian, Unib melaksanakan program bertajuk "Transformasi Kelompok Nelayan Raja Pulau melalui Teknologi Pengawetan Alami Kombinasi Pertanian, Perairan, dan Gizi Hasil Laut untuk Indonesia Emas 2045."
Program yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) serta didukung LPPM Unib tersebut diketuai oleh Selly Ratna Sari bersama Rini Mustika Sari Kurnia Pratama dan Laili Susanti.
Alih-alih hanya mengandalkan pendinginan menggunakan es, tim pengabdi memperkenalkan teknologi pengawetan alami sekaligus mendorong masyarakat mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Para nelayan mendapatkan pendampingan mulai dari proses pengolahan hingga pemasaran. Mereka diperkenalkan pada pemanfaatan bahan pengawet alami hasil kombinasi sektor pertanian dan perikanan, seperti gambir, kitosan, karagenan, dan kecombrang, yang mampu memperpanjang daya simpan ikan tanpa mengurangi kualitas maupun kandungan gizinya.
Selain itu, masyarakat juga dilatih menggunakan lemari pengasap modern, teknik pengemasan menggunakan vacuum sealer, hingga pembuatan label produk yang menarik dan informatif agar mampu bersaing di pasar.
Hasilnya, Kelompok Nelayan Raja Pulau kini berhasil menghasilkan dua produk unggulan, yakni Smoked Fish dan Salted Fish, yang dikemas secara modern serta dilengkapi informasi nilai gizi.
Produk tersebut tidak hanya diminati wisatawan yang berkunjung ke Pulau Enggano, tetapi juga mendapat sambutan positif dari sivitas akademika Universitas Bengkulu. Bahkan, Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu turut mempromosikan produk tersebut dalam berbagai pameran UMKM di tingkat daerah maupun nasional.
Ketua tim pengabdian, Selly Ratna Sari, mengatakan bahwa inovasi tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai jual hasil tangkapan nelayan.
"Kami sangat senang karena harga jual produk ikan sekarang jauh lebih tinggi. Kemasannya sudah memenuhi standar dan dilengkapi informasi gizi. Berkat kolaborasi dengan berbagai pihak, produk ini juga dipromosikan oleh Bank Indonesia dalam berbagai pameran di Bengkulu maupun di luar daerah. Yang terpenting, masyarakat kini memiliki alternatif pengelolaan hasil tangkapan sehingga tidak lagi bergantung pada ketersediaan es," ujarnya.
Menurut Selly, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari lahirnya produk baru, tetapi juga dari tumbuhnya kemandirian masyarakat dalam mengelola potensi lokal. Program tersebut menjadi contoh bagaimana hasil riset dan pengabdian perguruan tinggi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa.
Atas kontribusi tersebut, Selly Ratna Sari menerima penghargaan sebagai Dosen dengan Pengabdian Masyarakat Berdampak Terbaik pada Anugerah Rektor Universitas Bengkulu dalam rangka Dies Natalis ke-44 Unib tahun 2026.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas implementasi tridarma perguruan tinggi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
"Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Kami berharap hasil pengabdian ini dapat terus memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat nelayan di Pulau Enggano secara berkelanjutan," tutup Selly.
Melalui inovasi sederhana namun tepat guna, Universitas Bengkulu menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan di ruang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dari Desa Kaana, Pulau Enggano, ilmu pengetahuan berhasil diubah menjadi harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan nelayan dan penguatan ekonomi pesisir.






