Medan — Berbagai indikator pembangunan manusia di Sumatera Utara menunjukkan dinamika yang memerlukan perhatian bersama. Misalnya, prevalensi stunting yang masih berada di kisaran 18,9 persen, meskipun menunjukkan tren penurunan, perlu terus ditangani melalui intervensi berkelanjutan berbasis riset dan pengabdian masyarakat.
Menurut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk memastikan perbaikan tersebut berujung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara jangka panjang.
Di sektor pendidikan tinggi, capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi Sumatera Utara yang telah mencapai 33,04 persen dipandang sebagai modal penting dalam membangun sumber daya manusia unggul. Namun Fauzan menekankan bahwa peningkatan akses harus diiringi dengan penguatan kualitas, relevansi lulusan, serta integritas akademik agar pendidikan tinggi benar-benar berdampak bagi pembangunan daerah.
“Kampus tidak cukup hanya memperluas akses. Yang lebih penting adalah memastikan lulusan dengan memiliki integritas, kompetensi yang tidak biasa-biasa saja, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat,” ujar Fauzan.
Fauzan juga menyoroti kondisi sosial ekonomi daerah. Tingkat kemiskinan di Sumatera Utara yang masih berada di angka 7,36 persen serta Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 5,32 persen menunjukkan perlunya keterkaitan yang lebih kuat antara pendidikan tinggi, riset, dan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, Sumatera Utara memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan, maritim, dan ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan melalui hilirisasi riset dan inovasi kampus.
Hal itu disampaikan dalam sambutannya saat menghadiri pelantikan Prof. Dr. Muryanto Amin sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) periode 2026–2031, Rabu (28,1) di Auiditorium USU.
“Kepemimpinan kampus menjadi instrumen penting untuk meneguhkan peran strategis perguruan tinggi dalam menjawab tantangan sekaligus mengoptimalkan potensi pembangunan manusia di Sumatera Utara. Bahwa kampus harus hadir sebagai pusat integrasi ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat.” ungkapnya
Sejalan dengan itu, Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution dalam sambutannya menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan pendidikan terhadap masyarakat, khususnya bagi mahasiswa yang terdampak bencana alam.
“Bukan hanya nyawa yang hilang, harta benda juga hilang. Oleh karena itu, kami mohon ada relaksasi biaya kuliah bagi mahasiswa yang tertimpa bencana,” ujar Bobby.
Ia berharap kebijakan tersebut dapat menjaga keberlanjutan pendidikan generasi muda di Sumatera Utara.
“Mudah-mudahan ini dapat meningkatkan semangat belajar untuk anak kami di Sumut, untuk terus menimba ilmu dan memajukan bangsa negara ini ke depan,” lanjutnya.
Sementara itu, Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin menegaskan komitmen USU untuk terus memperkuat perannya sebagai institusi yang responsif terhadap persoalan masyarakat dan dinamika global.
“Dunia tidak berhenti berpacu. Kita harus mengajak kerja sama seluruh pihak agar USU dapat menjadi lokomotif untuk menjawab semua permasalahan di tengah masyarakat,” kata Muryanto Amin.
Menurutnya, penguatan kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah.
Wamen Fauzan menutup sambutannya dengan mengingat kembali pentingnya integritas tata kelola perguruan tinggi sebagai fondasi utama dalam mengelola potensi daerah. Kampus yang bersih, kredibel, dan adaptif diyakini mampu memimpin proses transformasi sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.
“Sebagai lembaga pendidikan tinggi kampus harus menjadi benteng moral bangsa dan kompas keadaban publik. Oleh karena itu tidak dibenarkan sama sekali tindakan amoral, korupsi, dan kekerasan. Itu semua harus dijauhkan dari kehidupan kampus.” pungkasnya.






