Jakarta–Indonesia terus berupaya mempercepat pembangunan daerah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, penguatan ekonomi lokal, serta pemerataan pembangunan antardaerah. Upaya tersebut memerlukan dukungan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi agar setiap kebijakan pembangunan dapat menjawab karakteristik dan kebutuhan spesifik di setiap wilayah.
Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Oktober 2025 dan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Indonesia memiliki 4.416 perguruan tinggi, 303.067 dosen, dan 9.967.487 mahasiswa. Potensi tersebut merupakan modal strategis yang dapat mendukung percepatan pembangunan, termasuk melalui pendampingan berbasis ilmu pengetahuan di kawasan transmigrasi.
Merespons hal ini, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi bagian dari ekosistem pembangunan melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak untuk menjadi problem solver dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot yang diselenggarakan oleh Kementerian Transmigrasi, Rabu (29/7).
“Perguruan tinggi harus menjadi problem solver persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa. Saat ini kampus yang hebat adalah kampus yang mampu memberikan makna yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat,” tegas Wamen Fauzan.
Menurut Wamendiktisaintek, kekuatan hampir sepuluh juta mahasiswa dan ratusan ribu dosen harus dimanfaatkan untuk memperluas dampak Tridarma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perubahan paradigma pendidikan tinggi dari kampus yang bekerja secara mandiri menjadi kampus yang membangun jejaring kolaborasi, dari orientasi pada capaian institusi menuju orientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
Sebagai implementasi kebijakan tersebut, di daerah-daerah sudah dibentuk beberapa Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) yang berkolaborasi dengan berbagai stakeholder setempat utamanya Pemda dan DUDI untuk menjawab persoalan yang terdapat di daerah tersebut sebagai solusi kebangsaan. Melalui konsorsium tersebut, perguruan tinggi didorong untuk mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan strategis bangsa, sekaligus memperkuat kolaborasi antar–kampus melalui model evidence-based policy.
Wamendiktisaintek menjelaskan bahwa konsorsium dibangun menggunakan pendekatan Pentahelix yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), masyarakat, serta media dalam satu ekosistem pembangunan. Menurutnya, sinergi tersebut akan mempercepat lahirnya inovasi dan solusi yang dapat diterapkan secara langsung di masyarakat.
Sebagai contoh, Kemdiktisaintek telah mengembangkan konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendukung percepatan penurunan stunting melalui KKN Tematik, di Sulawesi Tengah untuk penanganan tuberkulosis (TBC), serta di Bondowoso melalui pendampingan pengembangan pertanian organik. Menurut Wamendiktisaintek, pendekatan serupa dapat diterapkan dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi dengan mengidentifikasi persoalan spesifik di setiap wilayah sebagai dasar penyusunan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
"Perguruan tinggi itu harus menjadi bagian solusi terhadap masalah yang ada di masyarakat. Di suatu kawasan transmigrasi, kampus bisa mengidentifikasi tantangan yang ada di lokasi tersebut. Ketika diperlukan kajian yang lebih spesifik dan treatment yang lebih efektif, maka perguruan tinggi dapat ‘memencet tombol’ konsorsium yang ada di daerah tersebut," jelas Wamen Fauzan.
Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian dan lembaga dalam mewujudkan pemerataan pembangunan melalui penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan inovasi sebagaimana tercantum dalam Asta Cita. Wamendiktisaintek juga menekankan bahwa peran pendidikan tinggi memiliki relevansi dengan Asta Cita, terutama Asta Cita 2–6, dan visi inilah yang menjadi kompas dalam rangka menjalankan fungsi Kemdiktisaintek.
Menindaklanjuti arahan Presiden RI, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mendorong perguruan tinggi menjadi mitra strategis sekaligus asisten pembangunan daerah melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak, sehingga hasil pendidikan tinggi, riset, dan inovasi dapat mendukung penyelesaian persoalan pembangunan, termasuk di kawasan transmigrasi.
Sebagai penutup, Wamendiktisaintek menyampaikan apresiasi terhadap Kementerian Transmigrasi atas terselenggaranya kegiatan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot. Menurut Wamen Fauzan, kegiatan tersebut semakin membuka kesempatan bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan kawasan transmigrasi.
Kemdiktisaintek akan terus memperkuat Konsorsium Perguruan Tinggi Solusi Kebangsaan sebagai ekosistem kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan dunia industri, media, serta masyarakat. Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek berkomitmen memastikan Tridarma Perguruan Tinggi tidak berhenti pada luaran akademik, tetapi mampu menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang menjawab persoalan masyarakat, mempercepat pembangunan daerah, dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak







