Wamendiktisaintek Tekankan Etika sebagai Fondasi Pengembangan AI di Indonesia

Kabar

22 April 2026 | 15.15 WIB

Wamendiktisaintek Tekankan Etika sebagai Fondasi Pengembangan AI di Indonesia

Jakarta-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan buatan (AI) harus dilandasi nilai etika. Hal ini disampaikan dalam pada acara yang bertajuk “AI Governance for the Greater Good: Balancing Innovation and Ethics” yang diselenggarakan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Rabu (22/4).


Dalam paparannya, Wamen Stella menegaskan bahwa dalam konteks etika AI, kemampuan berpikir abstrak manusia merupakan keunggulan utama yang tidak boleh hilang di era AI. Kecerdasan buatan sangat bergantung pada data dalam jumlah besar, sementara kemampuan manusia memiliki keunggulan untuk memahami konsep secara mendalam dari pengalaman terbatas. 


“Kemampuan kita untuk membuat abstraksi dan memahami konsep dari sedikit data adalah sesuatu yang tidak boleh hilang. Ini harus dijaga dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, karena ini adalah keunggulan kita dibandingkan AI,” tegas Wamen Stella.


Hal ini menjadikan sistem pendidikan menjadi aspek penting untuk mengembangankan kemampuan berpikir kritis dan konseptual, bukan sekadar keterampilan teknis. Wamen Stella menjelaskan bahwa AI tidak lahir dari kebutuhan langsung, tetapi melalui pemikiran kritis “Bisakah Mesin Berpikir?” dari seorang matematikawan. 


Melalui  contoh teknologi seperti GPS yang lahir bukan dari kebutuhan praktis, melainkan riset fundamental, Wamen Stella mendorong minat generasi muda terhadap sains sebagai investasi jangka panjang.


“Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar berpikir dan berkontribusi pada pengetahuan baru demi kemanusiaan. Ini adalah tugas utama pendidikan tinggi,” jelas Wamendiktisaintek.


Saat ini, penggunaan AI masih menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Wamen Stella menyebut dampak baik dan buruk AI seperti dua sisi mata uang, AI berpotensi menimbulkan ancaman keamanan siber serta menghasilkan informasi yang tidak akurat, tetapi di sisi lain dapat menjadi alat verifikasi informasi serta menjadi alat untuk pemerataan akses, khususnya di bidang pendidikan sehingga perlu kebijakan yang proaktif untuk memastikan manfaat AI dapat dirasakan lebih cepat serta risikonya dapat diminimalisir.


Menutup paparannya, Wamen Stella menyoroti pengembangan AI yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan yang mana AI diposisikan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah kompleks berbasis data.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang