Hydrogen Day 2026, Wamen Stella Tekankan Penguatan Riset, Regulasi, dan Pembiayaan untuk Kembangkan Hidrogen Alami Indonesia

News

12 Oktober 2026 | 14.00 WIB

Hydrogen Day 2026, Wamen Stella Tekankan Penguatan Riset, Regulasi, dan Pembiayaan untuk Kembangkan Hidrogen Alami Indonesia

Bandung—Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menekankan pentingnya penguatan riset, regulasi, dan pembiayaan untuk mengembangkan potensi hidrogen alami di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Wamen Stella dalam keynote speech Hydrogen Day 2026, di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB), Minggu (11/10).


Mengusung tema “Driving The Future with Hydrogen!”, Hydrogen Day 2026 mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri untuk membahas pengembangan teknologi hidrogen, mulai dari penelitian hingga penerapannya dalam sektor energi dan transportasi.


Wamen Stella menyebut hidrogen alami (natural hydrogen) sebagai peluang yang perlu ditindaklanjuti melalui penelitian dan strategi yang tepat. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya hidrogen alami dan peluang pasar yang dapat menjadi modal untuk ikut berperan dalam pengembangan teknologi ini.


“Itu bukan saja penting untuk Indonesia, tapi juga peluang. Yang pertama, karena kita punya hidrogen alami. Yang kedua, market-nya atau off-taker-nya itu sudah sangat jelas. Lalu yang ketiga ini yang cukup luar biasa dari natural hydrogen. Kita bisa menjadi pemain utama. Seperti liga piala dunia, bahwa dengan hidrogen alami ini kita punya kesempatan untuk masuk liga piala dunia,” ujar Wamen Stella.


Salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam penjajakan potensi hidrogen alami ialah Sulawesi Tengah. Potensi tersebut dikaji melalui kolaborasi Pertamina Hulu Energi (PHE), akademisi, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kajian lanjutan, termasuk pengambilan sampel bawah permukaan, diperlukan untuk memahami karakteristik sumber daya secara lebih mendalam.


“Waktunya itu sekarang. Kalau kita tidak melakukannya sekarang untuk hidrogen alami, ini kita akan lama. Saya sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang terus mendorong ini semua. Karena momentumnya memang harus kita angkat bersama. Ini sangat penting, bukan saja untuk keberlanjutan, sustainability, tapi juga untuk kedaulatan Indonesia,” tegas Wamen Stella.


Wamen Stella menekankan bahwa pengembangan hidrogen alami perlu diawali dengan riset yang kuat untuk memahami potensinya sekaligus menghubungkan hasil penelitian dengan manfaat ekonomi.


“Bahwa kita harus mulai dengan riset. Bukan mulai paralel, semuanya riset. Dan itu harus kuat sekali. Dan untuk itu saya mau menyatukan, bukan hanya risetnya. Tetapi memperlihatkan kepada teman-teman semua betapa riset dan keuntungan value ekonomi itu sangat berkaitan,” ujar Wamen Stella.


Selain riset, dukungan regulasi dan pembiayaan juga diperlukan agar pengembangan hidrogen dapat berlanjut menuju tahap pemanfaatan. Wamen Stella menyoroti peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mendukung pembiayaan.


“Kita perlu research. Research ini perlu regulasi. Research juga perlu financing. Makanya saya senang sekali di sini ada teman-teman BUMN, yang memang akan bisa membantu financing. Jadi, tadi antara research, regulasi, dan financing,” tutur Wamen Stella.

Dari perspektif perguruan tinggi, Plt. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Edwan Kardena, menegaskan bahwa pengembangan teknologi hidrogen membutuhkan ekosistem yang melibatkan pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri. Pemerintah berperan sebagai regulator, BRIN dan ITB sebagai pengembang inovasi, sementara industri mendorong pemanfaatannya di pasar.

“Teknologi hidrogen itu adalah bagaimana kita bekerja sama, pemerintah sebagai regulator, BRIN, ITB sebagai penyedia inovasi, industri sebagai penggerak pasar. Saya kira sangat penting. Kedua adalah bahwa kita ingin di lingkungan teknologi ini, akademik ini adalah suatu bagian daripada ekosistem hidrogen,” kata Plt. Wakil Rektor Edwan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa pengembangan hidrogen di Indonesia telah mencakup identifikasi potensi green hydrogen dan penjajakan pemanfaatannya.


“Identifikasi green hydrogen itu sudah mulai ada, jadi bukan hanya dari riset, tapi produksi green hydrogen dengan menggunakan elektrolisa. Jadi, saat ini kita sudah mengidentifikasi bahkan lebih dari 23 lokasi dari teman-teman PLN karena ada ideal kapasitas di PLTU. Nah, ini sekarang kita melihat bagaimana potensi penggunaannya. Jadi, 200 ton per tahun sekarang sudah mulai tercapai, tahun depan lebih banyak lagi. Jadi, kita harapkan investasi-investasi ini bergerak semua. Dan terakhir, kita ingin menggiring penggunaan hidrogennya,” ujar Dirjen EBTKE.


Kementerian Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong perguruan tinggi dan peneliti, untuk terus memperkuat riset serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, lembaga riset, dan industri. Sinergi tersebut diperlukan agar potensi hidrogen di Indonesia dapat dikaji secara ilmiah dan dikembangkan melalui dukungan regulasi serta pembiayaan yang memadai.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now