Kemdiktisaintek Dorong Pemetaan Kebutuhan Industri Energi Terbarukan untuk Menyiapkan Talenta Perguruan Tinggi

News

12 Oktober 2026 | 14.15 WIB

Kemdiktisaintek Dorong Pemetaan Kebutuhan Industri Energi Terbarukan untuk Menyiapkan Talenta Perguruan Tinggi

Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menekankan pentingnya pemetaan kebutuhan tenaga kerja dan riset industri energi terbarukan sebagai dasar bagi perguruan tinggi untuk mempersiapkan lulusan dan penelitian yang sesuai dengan kebutuhan industri terutama dalam menghadapi perkembangan green energy. Hal tersebut disampaikan Wamen Stella dalam pertemuan dengan METI Energi Muda di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Rabu (7/10)

Pertemuan ini menjadi tahap awal untuk memahami kebutuhan industri, persoalan yang perlu dijawab melalui riset, serta kesiapan sumber daya manusia di perguruan tinggi agar semakin terhubung dengan perkembangan sektor energi terbarukan.

Wamen Stella menilai persiapan talenta perlu dilakukan sejak mahasiswa masih berada di pendidikan tinggi. Dengan mengetahui kebutuhan industri lebih awal, perguruan tinggi dapat mempersiapkan mahasiswa secara lebih tepat sehingga kompetensi yang dibangun selama masa studi semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Jadi demand dari renewable energy industry ini apa, sehingga kita bisa lebih awal dan lebih seksama mempersiapkan mahasiswa kita di pendidikan tinggi. Jangan sampai menunggu mereka lulus, lalu ada gap, atau bahkan gap-nya ini sulit ditutup,” ujar Wamen Stella.

Kebutuhan tenaga kerja tersebut semakin relevan dengan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp yang tengah dikembangkan pemerintah. Dalam pertemuan ini turut dibahas peran perguruan tinggi, khususnya politeknik, dalam menyiapkan lulusan dengan kompetensi di bidang energi surya.

Menurut Wamendiktisaintek, pemetaan kebutuhan industri juga sejalan dengan pendekatan problem mapping yang dikembangkan Kemdiktisaintek. Melalui pendekatan ini, persoalan nyata yang dihadapi pemerintah dan industri dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan penelitian, menentukan prioritas riset, serta menjajaki peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.

Dalam sektor energi terbarukan, pemetaan tersebut juga diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi industri, serta melihat kesesuaiannya dengan ketersediaan talenta dan program studi di perguruan tinggi. Hasilnya dapat menjadi masukan bagi penentuan prioritas penelitian dan peluang kolaborasi riset antara perguruan tinggi dan industri, termasuk melalui skema pendanaan dan kerja sama yang telah tersedia.

“Jadi pada hari ini yang kita ingin lakukan adalah mungkin tahap satu, yaitu problem mapping dan demand mapping, jadi demand dari green energy,” kata Wamen Stella.

Langkah tersebut diharapkan menjadi awal kerja sama yang dapat dikembangkan secara sistematis dan berkelanjutan untuk memperkuat kesiapan talenta, riset, dan keterhubungan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.

Dalam pertemuan tersebut, METI Energi Muda menekankan pentingnya memperkuat ketertarikan mahasiswa terhadap sektor green jobs. Melalui Youth Renewable Energy Campaign – Renewable Energy Campus Tour yang telah digelar di sejumlah wilayah, antara lain Bandung, Padang, Sulawesi Utara, Surabaya, dan Jakarta, METI melihat perlunya pengenalan yang lebih konkret mengenai peluang ekonomi, karier, dan pengembangan kompetensi di sektor energi terbarukan, khususnya bagi mahasiswa yang mendekati masa kelulusan.

“Green job ini menjadi salah satu PR yang harus segera bisa terealisasikan, khususnya di Indonesia,” ujar Ketua METI Energi Muda, Alif Zulviqar.

Karena itu, kegiatan kampus tidak hanya diarahkan pada seminar atau sesi berbagi, tetapi juga pengalaman praktis seperti prototyping dan kegiatan yang terhubung dengan pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan ini diharapkan memberi mahasiswa pengalaman langsung dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus membangun portofolio yang relevan dengan kebutuhan industri.

Dalam pembahasan lanjutan, METI juga menyampaikan gagasan Renewable Energy Youth Mentoring yang melibatkan pakar dan pelaku industri. Gagasan tersebut merupakan usulan untuk pengembangan tahap berikutnya, khususnya pada 2027, sementara fokus kegiatan pada 2026 masih diarahkan pada upaya membangun ketertarikan dan pemahaman mahasiswa terhadap green jobs.

Pertemuan Kemdiktisaintek dan METI Energi Muda menjadi langkah awal strategis untuk membangun pemahaman yang lebih sistematis mengenai kebutuhan sektor energi terbarukan. Tahap ini akan menjadi dasar untuk memetakan kebutuhan industri dan melihat kesesuaiannya dengan ketersediaan talenta, program studi, kompetensi mahasiswa, kebutuhan riset, serta program Kemdiktisaintek yang relevan.

Melalui pemetaan yang lebih terarah dan pemanfaatan ekosistem yang telah tersedia, perguruan tinggi diharapkan dapat semakin awal mempersiapkan mahasiswa menghadapi peluang di sektor green energy, sekaligus memperkuat keterhubungan antara pendidikan tinggi, riset, dan kebutuhan nyata di dunia kerja.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak


/

5

Rate Now