341 Peserta Scholarship Hunting Preparation, Antusias Berburu Beasiswa Jalur LPDP dan Fulbright

Kampus Kita

06 February 2026 | 18.30 WIB

341 Peserta Scholarship Hunting Preparation, Antusias Berburu Beasiswa Jalur LPDP dan Fulbright

Langit Indralaya diselimuti mendung, rintik hujan yang turun tak menyurutkan antusiasme ratusan mahasiswa dan alumni Universitas Sriwijaya untuk menghadiri kegiatan Scholarship Hunting Preparation yang digelar di Aula Fakultas Ekonomi UNSRIpada Jumat pagi (6/2/2026).

 

Sebanyak 341 peserta tercatat hadir, melampaui target awal sebanyak 300 orang.Jumlah lonjakan peserta ini menjadi bukti nyata bahwa informasi  langkah awal menuju jenjang studi yang lebih tinggi ini sangat dinanti oleh wajah-wajah muda yang hadir di balik jas hujan serta payung yang basah.

 

Kasubdit Alumni UNSRI, Prof. Ir. Deris Stiawan, M.T., Ph.D., mengatakan bahwa pendampingan pencarian beasiswa untuk lanjut studi ini penting dilakukan karena sebagian besar hambatan psikologis dan teknis yang sering dialami pelamar beasiswa. Menurutnya banyak alumni UNSRI yang memiliki kapasitas akademik luar biasa, namun kerap terhambat oleh kendala psikologis seperti rasa tidak percaya diri atau minimnya akses informasi mengenai taktik yang tepat menjadi penghambat.

 

Pada sesi utama, Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, Lukmanul Hakim, memaparkan kebijakan terbaru LPDP tahun 2026. Ia menekankan bahwa aspek kepemimpinan dan kontribusi pasca-studi menjadi bobot penilaian utama. Di depan ratusan mata yang menyimak, ia menjelaskan bahwa negara tidak hanya mencari orang pintar, tetapi individu yang memiliki empati terhadap persoalan bangsanya. Kejujuran narasi dan keselarasan antara rencana studi dengan kebutuhan nasional menjadi penentu utama dalam seleksi yang kian kompetitif ini.

 

Ia juga mengingatkan bahwa Personal Statement bukanlah sekadar daftar riwayat hidup atau pengulangan dari CV. Dokumen tersebut adalah refleksi jati diri dan komitmen seseorang yang harus disusun dengan standar global. Mentor menekankan pentingnya menemukan "suara" unik dari setiap pengalaman hidup agar mampu menarik perhatian para juri di tengah ribuan pelamar lainnya.

 

Dari sisi beasiswa internasional, Communications Officer AMINEF (Fulbright Indonesia), Miftahul Mardiyah, mengulas kriteria spesifik yang dicari panelis. Fulbright bukan hanya mencari kecerdasan akademik, melainkan kualitas sebagai duta budaya yang mampu menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia luar. Peserta diberikan panduan langkah demi langkah (A-Z) mengenai fasilitas hingga tenggat waktu, memastikan tidak ada satu pun detail administrasi yang terlewat akibat kurang teliti.

 

Melengkapi sesi teknis, Dr. dr. Ariesta Karmila, Sp.A (K), seorang Fulbright Awardee sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran UNSRI, memaparkan metode "The Balancing Art". Sesi ini menyentuh sisi humanis para peserta alumni yang mayoritas sudah bekerja. Ia menekankan bahwa kegagalan sering kali bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan intelektual, melainkan karena kelelahan fisik dan mental (burnout) dalam mengatur jadwal antara tuntutan profesional harian dengan persiapan aplikasi.

 

Dengan menggunakan worksheet khusus, ia melatih peserta melakukan simulasi skala prioritas. Sesi ini mengajarkan cara mencuri waktu di tengah jadwal padat, bagaimana menulis satu paragraf esai di jam istirahat atau mengulang hafalan kosakata saat di perjalanan agar persiapan dokumen dapat berjalan secara simultan tanpa menurunkan performa kerja di kantor.

 

Sementara itu, Direktorat Kerjasama, Internasionalisasi, dan Alumni menegaskan bahwa program ini bukanlah agenda sekali jalan. Ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang untuk memperkuat jejaring alumni dan universitas. Dengan membekali 341 talenta muda ini, UNSRI optimis akan terjadi akselerasi jumlah lulusannya yang berkuliah didalam maupun luar negeri, yang pada akhirnya akan kembali untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui kualifikasi akademik  yang mumpuni.

 

Salah satu peserta, alumni baru yang sedang meniti karier, mengaku mendapatkan dampak langsung dari kegiatan ini. Ia menyebut simulasi pada sesi The Balancing Art memberinya perspektif baru dalam menyusun esai secara lebih terukur dan realistis di tengah kesibukan kerja.

 

"Selama ini saya bingung bagaimana harus mulai menyusun esai sambil bekerja lembur setiap hari. Namun, setelah simulasi di sesi The Balancing Art dan melihat draf esai saya dibedah langsung, saya mendapatkan perspektif baru yang jauh lebih terukur dan realistis," ungkapnya dengan penuh semangat.

 

Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari ini ditutup dengan sesi Grand Q&A yang interaktif. Melalui inisiatif ini, Universitas Sriwijaya berharap dapat terus mencetak pemimpin masa depan dengan kualifikasi akademik nasional dan internasional serta daya saing global yang tangguh. (Humas_UNSRI)

 

 

@diktisaintekberdampak

@LPDP

/

5

Ulas Sekarang