Jakarta– Pemerintah Indonesia dan Georgia mendorong percepatan finalisasi Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama pendidikan tinggi serta penguatan kolaborasi substantif yang berfokus pada pertukaran mahasiswa, riset bersama, dan pengembangan sumber daya manusia.
Hal ini ditunjukkan dalam audiensi antara Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dengan Duta Besar (Dubes) Georgia untuk Indonesia, H.E Tornike Nozadze, di kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Kamis (2/4).
Pertemuan ini menegaskan bahwa kerja sama pendidikan tinggi menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat hubungan antarnegara melalui peningkatan interaksi akademik dan mobilitas talenta.
Kedua pihak sepakat bahwa MoU antarpemerintah atau government-to-government (G2G) perlu segera diselesaikan sebagai payung kerja sama yang memudahkan perguruan tinggi dalam mengembangkan kolaborasi yang lebih konkret. Wamen Stella juga menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam kerja sama internasional.
“Kami ingin mengubah kultur kerja sama internasional, benar-benar kerja sama yang substansif—pertukaran, riset, dan kolaborasi nyata. Kami sangat ingin memiliki MoU government-to-government sebagai payungnya, sehingga perguruan tinggi tidak perlu lagi fokus pada MoU, tapi langsung bekerja pada konten dan implementasi,” ujar Wamen Stella.
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang mendorong agar kerja sama internasional menghasilkan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
Perkuat Hubungan Antarnegara
Pertukaran mahasiswa dan interaksi langsung antar masyarakat dinilai sebagai kunci dalam membangun pemahaman dan hubungan jangka panjang antara Indonesia dan Georgia.
Dituturkan Dubes Georgia bahwa, tidak ada yang lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman antarnegara selain pertukaran pelajar dan interaksi langsung antarmasyarakat.
Sejalan dengan hal itu, Kemdiktisaintek menekankan penguatan kerja sama pada jenjang pascasarjana (S2 dan S3), khususnya bagi dosen dan tenaga akademik muda. Fokus ini dinilai strategis karena memberikan dampak berlipat (multiplier effect), di mana penerima program yang kembali ke Indonesia akan memperkuat kapasitas akademik sekaligus memperluas pemahaman tentang mitra internasional di lingkungan perguruan tinggi.
Sebagai bagian dari implementasi kerja sama, Indonesia dan Georgia akan saling bertukar informasi yang mencakup program studi berbahasa Inggris, skema beasiswa, serta profil perguruan tinggi di kedua negara. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan akses dan partisipasi mahasiswa dalam program internasional, sekaligus memperluas pemahaman masyarakat terhadap peluang pendidikan di masing-masing negara.
Melalui pertemuan ini Kemdiktisaintek terus mendorong agar setiap kerja sama internasional berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi, penguatan riset dan inovasi, serta pembangunan sumber daya manusia unggul.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






