Dari Bali, Semangat Baru Melahirkan Inovator Perguruan Tinggi

Kabar

25 October 2025 | 09.08 WIB

Dari Bali, Semangat Baru Melahirkan Inovator Perguruan Tinggi

Denpasar—Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Deskripsi Permohonan Paten (PDPP) Tahun 2025 untuk wilayah Bali yang berlangsung dari hari Rabu hingga Jumat, 22-24 Oktober.

Acara yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan Universitas Warmadewa di Auditorium Widya Sabha Uttama ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas dosen dan peneliti dalam penyusunan dokumen paten yang berkualitas.

Sebanyak 50 peserta terpilih telah melalui sesi intensif mulai dari pendalaman konsep kekayaan intelektual hingga praktik penulisan deskripsi invensi sesuai temuan riset masing-masing.

Dalam sambutannya, Ketua Tim Hilirisasi Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Adhi Indra Hermanu menyampaikan apresiasi atas semangat para peserta yang menunjukkan komitmen luar biasa hingga akhir kegiatan.

“Pelatihan ini bukan akhir, melainkan awal dari proses untuk mengubah hasil riset menjadi inovasi yang bernilai tambah. Kami berharap para dosen dan peneliti tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu mengamankan temuannya melalui paten yang siap diterapkan di masyarakat,“ ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan akan memastikan keberlanjutan hasil dari pelatihan ini melalui pendampingan kepada para peserta.

“Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan tidak akan berhenti pada pelatihan ini saja. Kami akan menindaklanjuti setiap hasil karya peserta hingga tahap pendaftaran di DJKI, bahkan mendampingi dalam proses penilaian paten. Ini bagian dari komitmen kami untuk memastikan setiap riset yang berpotensi, benar-benar menjadi inovasi yang terdaftar dan terlindungi,” tutupnya.

Sebagai tuan rumah, sambutan datang dari Rektor Universitas Warmadewa, I Gde Suranaya Pandit, yang mengungkapkan rasa bangga dan antusias atas keberhasilan kegiatan ini serta semangat peserta yang terus bertahan hingga hari terakhir.

“Pelatihan ini membuka wawasan baru bagi kami. Pendampingan yang detail membuat penyusunan paten terasa lebih mudah dan menyenangkan. Saya sendiri berhasil menulis satu draft paten selama pelatihan ini,” tuturnya.

Sebagai bagian dari peserta yang mengikuti pelatihan dari awal dan memahami materi secara langsung, Rektor Pandit juga menilai bahwa keberhasilan satu karya akan menjadi pemicu lahirnya inovasi lain di perguruan tinggi.

“Biasanya satu paten yang berhasil akan mendorong munculnya karya-karya berikutnya. Saya sendiri merasakan betapa besar manfaat pelatihan ini karena selama tiga hari pendampingan, kami tidak hanya belajar teori, tetapi benar-benar menghasilkan satu draft paten yang siap diajukan. Ini menjadi pengalaman berharga dan memotivasi kami untuk terus melahirkan inovasi baru,” jelasnya.

Dari sisi peserta, kesan positif datang dari Folkes E. Laumal asal Politeknik Negeri Kupang. Ia menilai sistem pelatihan yang diterapkan efektif dan memudahkan pemahaman peserta terhadap proses penulisan paten. Ia mengapresiasi profesionalisme panitia serta sistem pelatihan yang efektif dan terstruktur.

“Pelatihan ini berjalan dengan sangat baik, mulai dari layanan panitia, fasilitas, hingga pendampingan teknis dalam penyusunan deskripsi paten. Semua prosesnya tertata rapi, dari administrasi, pengumpulan dokumen, sampai tahap unggah hasil ke sistem,” ujarnya.

Folkes menilai bahwa pendampingan selama kegiatan sangat membantu peserta menyelesaikan draft paten dengan cepat dan tepat sasaran, serta menumbuhkan semangat baru bagi dosen dan peneliti untuk terus berkarya.

“Kami yang sebelumnya mengira penyusunan paten itu sulit, ternyata bisa dilakukan dengan bimbingan yang tepat. Dari hal-hal sederhana pun bisa lahir ide paten yang bermanfaat, dan kegiatan seperti ini sangat penting untuk menumbuhkan semangat berkarya di kalangan akademisi agar semakin banyak kampus berpartisipasi aktif dalam menghasilkan paten dari hasil risetnya,” jelasnya.

Kegiatan PDPP 2025 di Bali menandai komitmen berkelanjutan Kemdiktisaintek dalam membangun budaya riset yang berorientasi pada hasil dan dampak. Dari Denpasar, semangat baru lahir—bahwa setiap riset memiliki potensi untuk menjadi inovasi yang melindungi, menginspirasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

/

5

Ulas Sekarang