Bandung – Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman, menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Mendorong Hilirisasi Inovasi Alat Kesehatan Lokal Menuju Kemandirian Nasional” yang diselenggarakan oleh Pusat Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung, Jumat (24/10).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri dalam mempercepat adopsi hasil riset alat kesehatan lokal di fasilitas layanan kesehatan. FGD tersebut turut menghadirkan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lucia Rizka Andalucia, sebagai narasumber.
Dalam materinya, Dirjen Risbang menjelaskan bahwa bidang kesehatan merupakan salah satu sektor dengan jumlah riset terbesar di Indonesia. Namun, tantangan besarnya adalah memastikan hasil riset tersebut dapat diadopsi oleh masyarakat dan industri kesehatan.
“Kalau kita lihat, kesehatan itu salah satu bidang yang paling banyak risetnya. Tapi sekarang kita dorong agar riset itu tidak berhenti di jurnal, melainkan sampai ke pasien,” tambahnya.
Dirjen Risbang menyoroti bahwa program Pemeriksaan Kesehatan Gratis yang digagas pemerintah dapat menjadi ruang penerapan hasil riset alat kesehatan lokal, sehingga inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kolaborasi antara Ditjen Risbang dan Ditjen Farmalkes dalam membangun ekosistem riset untuk mendukung percepatan hilirisasi produk alat kesehatan lokal penting dilakukan. Sinergi lintas kementerian ini dapat menjadi kunci mengatasi hambatan hasil riset perguruan tinggi dalam sertifikasi, uji klinik, dan penerimaan pasar.
“Kami berterima kasih kepada Dirjen Farmalkes karena sudah membuka ruang kerja sama yang konkret. Kita harus duduk bersama antara peneliti, regulator, dan industri agar hasil riset alat kesehatan bisa masuk ke rumah sakit dan puskesmas,” ujar Dirjen Risbang.
Kolaborasi tersebut disambut baik oleh Dirjen Farmalkes, yang menekankan pentingnya transformasi industri alat kesehatan nasional agar lebih inovatif dan berkelanjutan.
“Kami ingin industri alat kesehatan tidak lagi sekadar copy product, tetapi menjadi pencipta produk-produk inovatif yang digunakan secara berkelanjutan,” tegas Dirjen Farmalkes.
Dalam konteks penguatan industri alat kesehatan nasional, Dirjen Farmalkes juga menyoroti pentingnya inovasi untuk penanganan penyakit menular seperti tuberkulosis (TB). Sebagai masalah kesehatan nasional, penanganan TB memerlukan pendekatan inovatif berbasis teknologi dan kolaborasi riset.
“Dulu kita bangga publikasi, sekarang kita harus bangga kalau riset itu sudah digunakan masyarakat, termasuk dalam deteksi penyakit seperti TB,” lanjutnya.
FGD yang melibatkan peneliti alat kesehatan, direktur rumah sakit, dokter, perawat, dan pelaku industri dari berbagai perguruan tinggi serta fasilitas kesehatan di Bandung ini juga menghadirkan pameran mini yang menampilkan hasil riset dan purwarupa alat kesehatan lokal.
Kegiatan tersebut menjadi ajang berbagi pengalaman, mempertemukan inovator dengan pengguna, dan membuka peluang kolaborasi antara Ditjen Risbang Kemdiktisaintek dengan Ditjen Farmalkes Kemenkes. Forum ini menegaskan komitmen kedua pihak dalam membangun ekosistem riset dan inovasi alat kesehatan menuju kemandirian nasional.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






