Meneliti Bukan Sekadar Publikasi, namun Berdampak Nyata
Yogyakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengapresiasi capaian salah satu dosen muda Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eka Noviana, Ph.D., yang berhasil masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2024/2025 versi Stanford–Elsevier.
Perjalanan panjang telah Eka lalui, sejak menempuh pendidikan S1 di Farmasi, UGM, lalu melanglang jauh ke tanah seberang, menempuh studi S2 di University of Arizona, hingga S3 di Colorado State University, Amerika Serikat. Ia berhasil membulatkan tekadnya, bahwa peneliti muda bukan hanya mengutamakan kuantitas publikasi, tanpa diiringi kualitas.
“Saya mungkin belum punya sangat banyak publikasi, tapi saya berusaha agar riset yang kami publikasikan memiliki kualitas yang baik dan harapannya bisa membawa dampak bagi masyarakat di masa mendatang,” ujar Eka penuh semangat (10/11).
Eka bersyukur, sejak S1 sudah dibimbing skripsi oleh salah satu dosen yang sangat produktif dalam penelitian dan publikasi, seperti Prof. Abdul Rohman, dan nasib baik itu menyertai Eka hingga perjalan S3, berkesempatan untuk belajar langsung ke Prof. Charles Henry, salah satu pioneer di bidang riset yang Eka tekuni kini.
Dari Laboratorium ke Kehidupan Nyata
Eka menekuni riset alat diagnostik berbasis kertas (paper based analytical devices). Alat uji cepat ini terbilang murah dan mudah digunakan, serta dirancang untuk dapat diaplikasikan di daerah dengan keterbatasan fasilitas laboratorium.
“Ketertarikan saya dimulai saat membaca riset Prof. George Whitesides dari Harvard University tentang paper-based analytical devices. Saya terinspirasi karena alat sederhana ini bisa membawa manfaat besar bagi masyarakat di daerah terpencil atau daerah dengan keterbatasan akses (resource-limited settings),” ujar Eka.
Semangat itu kini Eka tularkan kepada tim mahasiswa dan kolaboratornya dengan mengoptimalkan prototipe alat diagnostik cepat yang berpotensi digunakan dalam uji keamanan pangan dan skrining kesehatan di lapangan.
Saat ini Eka sedang mengembangkan kit uji untuk mendeteksi bahan tambahan (pengawet dan pewarna) berbahaya dalam makanan. Lebih lanjut, tim Eka juga sedang mengoptimasi alat untuk mengukur kadar obat dalam darah yang harapannya dapat digunakan untuk therapeutic drug monitoring (TDM) untuk mendukung pemberian dosis obat yang tepat pada pasien. Kontribusi berdampak nyata yang selalu Eka dambakan sejak lama.
“Tujuan kami sederhana: riset ini harus kembali ke masyarakat. Kami ingin teknologi yang lahir di kampus benar-benar digunakan oleh mereka yang membutuhkan,” tutur Eka.
Eka berharap ke depan kolaborasi lintas disiplin dan kemitraan dengan industri dapat memaksimalkan mimpi besarnya ini, baginya penting, agar riset tidak berhenti di meja laboratorium.
Meneliti dengan Makna, Menginspirasi Generasi Muda
Eka adalah bukti nyata, bahwa perempuan dapat berkiprah di mana saja, termasuk di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematic (STEM). Ia tercatat sebagai salah satu peneliti perempuan di antara 14 dosen UGM yang memperoleh pengakuan internasional tersebut. Prestasi Eka membuktikan bahwa peluang untuk berkontribusi dalam ilmu pengetahuan terbuka luas bagi siapapun.
Kemdiktisaintek Dorong Riset Berdampak
Eka dan prestasinya sebagai dosen muda sejalan dengan semangat yang selalu digaungkan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek)Brian Yuliarto, bahwa dosen dan peneliti Indonesia harus mampu menjembatani riset menjadi inovasi aplikatif yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Diktisaintek Berdampak melekat pada diri Eka. Riset bukan hanya sebagai ukuran akademik, tetapi sebagai kekuatan strategis bangsa, melalui kolaborasi lintas sektor serta diintegrasikan dengan pembelajaran dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari implementasi nyata tridarma perguruan tinggi.
Tidak hanya Eka, bangsa Indonesia menanti peran sivitas akademika Indonesia berdampak nyata bagi masyarakat dan Kemdiktisaintek berkomitmen terus mendukung pengembangan riset dan inovasi di kampus melalui kebijakan yang adaptif dan ekosistem yang mendorong kolaborasi antara kampus, industri, dan masyarakat.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat terwujudnya ekosistem pendidikan tinggi yang unggul, relevan, dan berdampak bagi bangsa.
Membangun Kemandirian Bangsa melalui Sains
Riset yang digarap Eka tidak hanya berkontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs 3: Good Health and Well-Being), namun hal ini juga berarti Eka juga sedang membangun mimpi besarnya: mendukung kemandirian alat kesehatan nasional.
Dengan pendekatan sederhana dan efisien, teknologi paper based diagnostics diyakini mampu membuka akses pemeriksaan dini bagi masyarakat luas tanpa ketergantungan pada perangkat mahal.
“Kami ingin riset kami menjadi bagian dari solusi kemandirian alat kesehatan Indonesia,” harap Eka penuh semangat.
Bagi Eka, jika riset berhenti di publikasi, maka manfaatnya hanya dirasakan ilmuwan. Namun jika, riset sampai ke masyarakat, maka itulah makna sesungguhnya dari pendidikan tinggi.
Menginspirasi Generasi Selanjutnya
Eka ingin kehadiran “Eka-Eka muda” di Indonesia, dengan tidak takut memulai langkah di dunia riset.
“Jangan khawatir gagal. Research itu artinya re-search mencoba lagi dan lagi. Setiap kegagalan membawa kita lebih dekat pada keberhasilan,” pesan Eka.
Bagi Eka, menjadi seorang dosen adalah pengabdian tak ternilai.
“Menjadi dosen itu pekerjaan yang mulia, sama halnya dengan jadi guru. Ketika kita menjadi dosen, kita bisa menebarkan manfaat yang lebih besar,” pungkas Eka dengan bangga.
Dengan semangat tersebut, Kemdiktisaintek meyakini bahwa Indonesia akan melahirkan lebih banyak peneliti, dosen yang berdampak nyata peneliti dan dosen yang tidak hanya mengejar reputasi global, tetapi juga menjawab tantangan nasional melalui karya nyata.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






