Bali-Pengambilan keputusan untuk Kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, menjadi salah satu inti pembahasan dalam Gelaran Future Leaders Camp (FLC) 2025 Regional V, yang digelar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Rabu (26/11).
Pada kesempatan ini hadir sebagai pemateri Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian yang memberikan paparan terkait tata kelola kebijakan publik. Ia menegaskan bahwa kebijakan yang baik, adalah yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Membawakan topik bertema “Politik, Kebijakan Publik, dan Ruang Partisipasi Generasi Muda", Hetifah menegaskan kepada 60 peserta terpilih asal Bali, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, bahwa masa depan kebijakan publik sangat ditentukan oleh keterlibatan generasi muda sebagai pemimpin masa depan.
Pada awal pemaparannya, Hetifah menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati adalah kemampuan memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan banyak orang. Menurutnya, kebijakan publik merupakan upaya yang dilakukan pejabat pemerintah di setiap tingkatan untuk memecahkan masalah publik. Namun ia menekankan bahwa dalam proses pengambilan kebijakan, yang terpenting bukan hanya isi kebijakan, melainkan proses awal penentuan agenda (agenda setting) yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat.
“Ketika kita sudah menyepakati agenda, itu merupakan satu langkah penting. Di situlah seni seorang pemimpin bagaimana meyakinkan banyak orang,” jelas Hetifah. Hetifah kemudian memaparkan tahapan proses kebijakan publik mulai dari agenda setting, formulasi kebijakan, pembentukan legitimasi, implementasi, evaluasi, hingga pengawasan.
Pengambilan Kebijakan Berdasar Data
Lebih lanjut, Hetifah menguraikan bahwa proses pengambilan kebijakan tidak lepas dari peran tiga aktor utama, yaitu politisi, birokrat, dan masyarakat. Ketiganya, menurutnya, harus saling mengawasi untuk memastikan terciptanya kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan publik.
Pada bagian akhir pemaparannya, Hetifah mengingatkan peserta agar tidak terjebak dalam pengambilan keputusan berbasis opini semata. Ia menegaskan pentingnya penggunaan data dan riset dalam proses penyusunan kebijakan publik.
“Jangan sampai kita mengambil kebijakan berdasarkan opini. Data dan riset adalah fondasi agar kebijakan tepat sasaran dan memiliki dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Oleh karena itu kata Hetifah, tugas calon pemimpin muda dari FLC, adalah memastikan kebijakan yang dibuat oleh negara selalu berakar pada kebutuhan riil rakyat, bukan hanya pada asumsi para pembuat kebijakan.
"Hal ini adalah bentuk pengawasan dan social control yang esensial bagi pemimpin masa depan," pungkasnya.
Materi yang disampaikan Hetifah diharapkan dapat membuka wawasan para peserta Future Leader Camp mengenai dinamika kebijakan publik serta mendorong generasi muda untuk aktif berpartisipasi dalam proses politik secara cerdas, kritis, dan berbasis data.
Diskusi dengan Ketua Komisi X DPR RI ini pun memberikan gambaran peta jalan tentang bagaimana kebijakan nasional diputuskan. Dengan bekal ini, para peserta FLC diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin yang cerdas dan kritis dalam mengawal tata kelola kebijakan publik, mampu mengubah gagasan menjadi solusi nyata bagi kemajuan bangsa, mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






