Gapai Cita Dokter di Ranah Minang: Kisah Zacky, Penerima KIP Kuliah dari Universitas Andalas

Kabar

08 November 2025 | 18.46 WIB

Gapai Cita Dokter di Ranah Minang: Kisah Zacky, Penerima KIP Kuliah dari Universitas Andalas

Padang — Di sebuah rumah sederhana nan hangat di tepian Sungai Batang Arau, di bawah bayang Jembatan Siti Nurbaya yang sohor itu, tumbuh seorang anak yang sejak kecil memikul mimpi besar. Namanya Muhammad Zacky Rilsan. Kini ia menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, dan salah satu penerima KIP Kuliah yang tengah menapaki jalan panjang untuk menjadi seorang dokter.

Untuk mimpi besar Zacky itulah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, didampingi Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menyempatkan mengunjungi langsung rumah Zacky untuk menyerahkan KIP Kuliah secara simbolis pada Rabu (5/11). Anjangsana ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah memastikan bantuan pendidikan tepat sasaran dan berdampak langsung bagi penerimanya.

Bagi Zacky, impian menjadi dokter adalah ikhtiar untuk mengubah jalan hidup keluarga dan menjadi suluh bagi orang-orang di sekitarnya. Sejak kecil, ia tumbuh dalam keluarga yang berjuang tanpa kenal lelah. Ayahnya bekerja sebagai buruh bengkel dengan pendapatan yang kerap tidak pasti. Kadang ada, sering-sering tipis, serupa garis senja yang jatuh di Danau Maninjau. Sementara ibunya mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya bagi keluarga, mengasuh dan menjaga tiga buah hatinya. Memelihara, termasuk mimpi Zacky.

Keterbatasan itu, alih-alih mematahkan langkah, justru menjadi semacam cambuk yang mendorong Zacky untuk terus melaju. Di sekolah, ia konsisten meraih prestasi, bukti bahwa kegigihan dapat tumbuh bahkan dari bentuk yang paling sederhana. Selalu ada pintu yang terbuka, untuk setiap orang yang mau mengetuk. Pun Zacky.

“Sejak kecil saya bermimpi menjadi dokter. Saya ingin membahagiakan orang tua saya, dan saya ingin kelak menolong orang lain dengan keahlian yang saya pelajari,”ujar Zacky

Dalam kesempatan itu, Dirjen Dikti  Khairul Munadi menyampaikan pesan dengan penuh kehangatan kepada Zacky dan keluarganya.

“Pendidikan adalah jembatan masa depan. Ketika kesempatan diberikan, maka yang diharapkan adalah keberanian untuk melangkah dan ketekunan untuk tidak menyerah. KIP Kuliah hadir agar tidak ada cita-cita yang terhenti hanya karena keadaan,” pesan Dirjen Khairul.

Sementara itu, Rektor Universitas Andalas turut menyampaikan apresiasi sekaligus komitmen pendampingan bagi Zacky sepanjang pendidikannya.

“Universitas Andalas tidak hanya menerima mahasiswa, tetapi merawat perjalanan mereka. Zacky, kami akan mendukungmu sejauh yang kamu ikhtiarkan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, selebihnya biarkan Tuhan menuntun langkahmu,” kata Rektor Unand.

Kunjungan ini menjadi penanda bahwa akses pendidikan tidak lagi hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada dalam kondisi ekonomi yang mapan. Program KIP Kuliah hadir sebagai wujud nyata komitmen negara untuk memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berprestasi, dan kembali berkontribusi bagi masyarakat.

Kisah Zacky menjadi potret halus bagaimana mimpi dapat bertahan di tengah keterbatasan. Ia juga menjadi refleksi tentang cinta keluarga yang sederhana namun kokoh, serta tentang bagaimana kebijakan dapat menjelma menjadi jembatan kehidupan bagi banyak orang.

Suatu hari nanti, kita akan melihat Zacky dengan jas putih yang telah lama ia elukan. Lengkap dengan stetoskop, menyambangi masyarakat di sekitar Sungai  Batang Arau, atau lebih jauh lagi. Nanti.

Dan ketika hari itu tiba, kita tahu, perjuangannya hari ini bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk kehidupan yang lebih luas. Untuk masyarakat Sumatera Barat. Dan pada gilirannya untuk Indonesia.

/

5

Ulas Sekarang