Sleman — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X berpesan agar perguruan tinggi tidak kehilangan hubungan dengan masyarakat. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang berkembang di kampus harus memiliki jalan pulang dan memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan dalam Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026, Rabu (9/9), dalam momentum peluncuran Konsorsium Perguruan Tinggi se-DIY bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan. Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, LLDIKTI Wilayah V, dan perguruan tinggi untuk mendekatkan kekuatan riset dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Sri Sultan melihat persoalan perguruan tinggi bukan semata pada seberapa jauh kampus menghasilkan pengetahuan, riset, dan inovasi. Persoalannya, seberapa jauh semua itu benar-benar kembali ke masyarakat.
Kedekatan kampus dengan masyarakat pun, menurutnya, tidak cukup diukur dari jarak. Kampus boleh saja berada di tengah masyarakat, tetapi pengetahuan yang dikembangkan di dalamnya belum tentu menyentuh persoalan yang dihadapi warga.
Bagi Sri Sultan, riset membutuhkan jalur yang membuatnya dapat bergerak dari ruang akademik menuju kesejahteraan masyarakat.
“Agar riset benar-benar sampai pada kesejahteraan, ia memerlukan jalur kelembagaan yang jelas,” ujar Sri Sultan.
Pernyataan tersebut menjadi dasar apresiasinya terhadap pembentukan Konsorsium Perguruan Tinggi se-DIY. Menurut Sri Sultan, kekuatan riset yang tersebar di berbagai perguruan tinggi perlu dipertemukan dalam wadah bersama agar dapat saling mengisi dan memiliki daya jangkau yang lebih besar.
“Karena itu saya menyambut baik rencana peluncuran konsorsium PTN-PTS LLDIKTI wilayah 5 pada hari ini. Saya berharap konsorsium ini menjadi wadah kerja sama yang produktif agar riset antar perguruan tinggi saling mengisi, memiliki skala yang memadai, dan mampu memberi masukan kuat bagi kebijakan publik,” tuturnya.
Apresiasi tersebut kemudian diwujudkan melalui peluncuran Konsorsium Perguruan Tinggi se-DIY bersama Wamendiktisaintek Fauzan. LLDIKTI Wilayah V mencatat telah terbentuk 22 konsorsium yang melibatkan 14 perguruan tinggi negeri dan swasta. Konsorsium tersebut berkoordinasi dengan lima pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan persoalan daerah dan mempertemukannya dengan kepakaran perguruan tinggi.
Namun harapan tidak hanya sampai pada peluncuran konsorsium, bagi Sri Sultan. Yang lebih penting adalah bagaimana wadah tersebut digunakan untuk mempertemukan persoalan pembangunan dengan kapasitas riset yang dimiliki perguruan tinggi.
Karena itu, ia mendorong agar pemerintah daerah dan perguruan tinggi memiliki ruang pertemuan yang lebih konkret. Dokumen perencanaan pembangunan daerah, menurutnya, dapat menjadi pintu masuk untuk menentukan kebutuhan riset yang benar-benar relevan.
“Saya juga mendorong agar sesi pleno bersama Baperida Provinsi dan Bappeda kabupaten/kota dapat dimanfaatkan sebagai forum link and match. Persoalan riil pembangunan dalam dokumen perencanaan daerah perlu dipertemukan dengan kapasitas riset kampus yang relevan,” ujar Sri Sultan.
Dari sini, konsorsium tidak berhenti sebagai wadah kerjasama antar perguruan tinggi. Konsorsium menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan daerah, kapasitas riset, dan kebijakan publik dalam satu kerja bersama.
LLDIKTI Wilayah V memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota memungkinkan persoalan pembangunan dipetakan, sementara perguruan tinggi membawa kepakaran untuk mencari jalan keluarnya. Sejumlah fokus yang dikembangkan mencakup kemiskinan dan layanan dasar, kesehatan, ketahanan iklim, ketahanan pangan, UMKM dan ekonomi kreatif, pariwisata dan budaya, lingkungan, persampahan, pendidikan, hingga ruang publik.
Kerja lintas kampus juga membuat persoalan daerah tidak lagi dibaca dari satu disiplin ilmu. Kekuatan yang tersebar di berbagai perguruan tinggi dapat digabungkan untuk menghasilkan riset yang lebih utuh dan memiliki skala yang memadai.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menegaskan bahwa tidak ada satu perguruan tinggi yang sanggup menjawab persoalan daerah secara sendirian. Karena itu, konsorsium dibangun sebagai ruang kerja bersama lintas kampus dan lintas disiplin.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak yang didorong Kemdiktisaintek. Pendidikan tinggi, riset, dan inovasi diarahkan agar semakin dekat dengan kebutuhan pembangunan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, yang ingin dicapai bukan sekadar semakin banyak riset atau semakin banyak kerjasama antar perguruan tinggi. Yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan menemukan jalannya menuju kebijakan, kebijakan menjawab persoalan, dan manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat.
Dengan begitu, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan untuk disimpan di dalam kampus. Ilmu pengetahuan harus punya jalan pulang—dan masyarakat adalah tempat ia menemukan maknanya.





