Surabaya — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmen memperkuat pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berdampak melalui pengembangan talenta, penguatan karakter, serta perluasan pengalaman belajar mahasiswa. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN), yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia dalam satu ekosistem pendidikan dan pembinaan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco dalam kegiatan Pengukuhan Mahasiswa Angkatan V Tahun 2026 dan Wisuda Pertama Mahasiswa Penerima Beasiswa AMN Surabaya, bertema “Simfoni Kebinekaan”, Sabtu (11/9).
Pada Tahun 2026, sebanyak 200 mahasiswa Angkatan V dikukuhkan di AMN Surabaya. Mereka berasal dari Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, UPN Veteran Jawa Timur, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, masing-masing 50 mahasiswa, dengan keterwakilan dari 34 provinsi. Para mahasiswa tersebut memiliki latar belakang prestasi akademik dan non-akademik di tingkat nasional dan Internasional.
Sesjen Badri menegaskan sejak diresmikan pada 29 November 2022 sebagai bagian dari pelaksanaan amanat Perpres 106 tahun 2021, AMN bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pembinaan karakter, kebangsaan, dan kebinekaan. Perjumpaan mahasiswa dari berbagai daerah menjadi kesempatan untuk belajar memahami perbedaan, memperluas perspektif, membangun komunikasi, sekaligus mengembangkan jejaring lintas daerah dan perguruan tinggi.
“AMN tidak dirancang sekadar sebagai tempat tinggal mahasiswa, tetapi sebagai ruang pembinaan karakter, kebangsaan, dan kebinekaan bagi putra-putri Indonesia dari berbagai wilayah,” kata Sesjen Badri.
Menurut Sesjen Badri, keberagaman yang hadir di AMN dapat menjadi kekuatan dalam membangun cara berpikir yang lebih terbuka, kreativitas, inovasi, dan ketangguhan mahasiswa. Karena itu, keberagaman tidak hanya perlu dirawat sebagai nilai kebangsaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk menghadapi tantangan di masa depan.
“Keragaman bukan hambatan. Keragaman adalah kekuatan yang harus kita rawat,” kata Sesjen Badri.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal mahasiswa untuk tumbuh sebagai talenta yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter, integritas, kemampuan berkolaborasi, dan kepedulian terhadap masyarakat. Sesjen Badri juga mendorong mahasiswa Angkatan V agar tidak sekadar menjalani kesempatan memperoleh pendidikan, tetapi menggunakan kesempatan tersebut untuk memperbesar kapasitas diri.
“Jangan sekadar menjalani kesempatan ini, besarkan diri saudara melalui kesempatan ini,” pesan Sesjen Kemdiktisaintek.
Sementara itu, sebanyak 305 mahasiswa Angkatan I mengikuti wisuda pertama penerima beasiswa AMN Surabaya. Sebanyak 186 lulusan meraih IPK di atas 3,5, dan lima lulusan menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun. Para wisudawan berasal dari empat perguruan tinggi mitra dan memiliki keterwakilan dari 37 provinsi.
Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang perlu dilanjutkan dengan kontribusi setelah lulus. Salah satu contohnya adalah Eben Heizer Mirino dari Papua Barat yang menyelesaikan studi di Universitas Negeri Surabaya dalam sekitar 3,5 tahun dengan IPK 3,8 dan melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa. Bagi Kemdiktisaintek pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dapat memperluas pilihan dan kemungkinan hidup seseorang.
Untuk menjaga keberlanjutan hubungan antarlulusan, AMN Surabaya juga membentuk Ikatan Alumni AMN Surabaya Tahun 2026 sebagai wadah komunikasi, silaturahmi, jejaring, dan kolaborasi.
Kemdiktisaintek menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Negeri Surabaya, pengelola AMN, para pendamping, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan dan pembinaan mahasiswa AMN Surabaya. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan ekosistem pembinaan mahasiswa terus berjalan dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Menutup pesannya, Sesjen Badri mengingatkan mahasiswa dan lulusan AMN agar memandang keberhasilan bukan hanya dari pekerjaan atau pencapaian pribadi, tetapi dari nilai dan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
“Jangan hanya bertanya pekerjaan apa yang saya dapatkan, namun nilai apa yang akan saya ciptakan. Jangan hanya bertanya seberapa jauh saya akan berhasil, tanyakan pula siapa yang akan merasakan manfaat dari keberhasilan saya,” pesan Sesjen Kemdiktisaintek.
Pesan tersebut dirangkum dalam empat bekal yang diharapkan dibawa mahasiswa dan lulusan dalam perjalanan berikutnya:
“Bawalah ilmu sebagai bekal, integritas sebagai kompas, keberanian sebagai langkah, dan kebermanfaatan sebagai tujuan,”
Melalui AMN, Kemdiktisaintek terus mendorong pendidikan tinggi yang tidak hanya membuka akses, tetapi juga mempertemukan keberagaman, membangun jejaring, mengembangkan talenta dan karakter, serta mendorong lahirnya lulusan yang mampu menghadirkan manfaat. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berdampak sebagaimana diarahkan dalam Renstra Kemdiktisaintek 2025–2029 dan semangat Diktisaintek Berdampak.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak





