Wamendikti Fauzan: Sudah Waktunya Event Akademik Kampus Digelar di Tengah Masyarakat

Kabar

12 September 2026 | 18.30 WIB

Wamendikti Fauzan: Sudah Waktunya Event Akademik Kampus Digelar di Tengah Masyarakat

Sleman — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan di hadapan ratusan pimpinan dan badan penyelenggara perguruan tinggi se-D.I.Y. mengajak untuk melakukan perubahan tata kelola pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan adaptif. Hal itu disampaikan mengingat telah terjadi kesenjangan yang menganga antara keberadaan perguruan tinggi dengan realitas sosial yang ada di sekitarnya. Sebagaimana kemiskinan yang mendera di sebagian daerah D.I.Y.

“Sudah saatnya kita menggeser mindset bahwa kemuliaan perguruan tinggi akan diukur dari seberapa dalam ia mampu menyelesaikan persoalan masyarakat di sekitarnya,” ujar Fauzan dalam Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026, Rabu (9/9).

Fauzan menilai kegiatan akademik selama ini terlalu sering berlangsung di ruang-ruang kampus yang eksklusif dan hanya diikuti kalangan akademisi. Padahal, kegiatan tersebut dapat dibawa ke ruang publik agar ilmu pengetahuan hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sambil berseloroh, ia memberikan contoh acara pengukuhan guru besar. Menurut Fauzan, momentum akademik tersebut tidak harus selalu digelar di ruang eksklusif di dalam kampus atau hotel, tetapi dapat ditempatkan sesuai dengan bidang keilmuan sang guru besar.

“Pengukuhan guru besar barangkali penting tidak digelar di tempat yang eksklusif di dalam kampus atau hotel. Akan tetapi penting rasanya digelar di tengah-tengah masyarakat sesuai disiplin keilmuannya. Guru besar di bidang pertanian dikukuhkan di daerah pertanian atau di sawah. Begitu pula pengukuhan guru besar di bidang peternakan dilaksanakan di kampung peternakan, demikian juga seterusnya” tuturnya.

Pandangan di atas terlihat sederhana namun memiliki dampak ganda yang strategis bagi masyarakat. Paling tidak jika memang kegiatan itu dilaksanakan tentu akan memberikan kontribusi secara ekonomis bagi masyarakat, selain itu juga memberi motivasi kepada masyarakat. Tentu event akademik kampus banyak jenisnya dan tidak hanya pengukuhan guru besar akan tetapi bisa juga wisuda, misalnya. 

Bagi Fauzan, mendekatkan kegiatan akademik kepada masyarakat merupakan bagian dari perubahan cara perguruan tinggi bekerja. Kampus perlu mengidentifikasi persoalan yang ada di masyarakat, kemudian dicari solusinya. Agar terjadi akselerasi dalam penyelesaian persoalan di masyarakat maka diperlukan Konsorsium Perguruan Tinggi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan bersama pemerintah, Dunia Usaha dan Industri, dan masyarakat.

Semangat itu pula yang diwujudkan melalui peluncuran Konsorsium Perguruan Tinggi se-DIY bersama Gubernur D.I,Y. Sri Sultan Hamengku Buwono X. LLDikti Wilayah V tercatat telah terbentuk 22 konsorsium yang melibatkan 14 perguruan tinggi negeri dan swasta. Konsorsium tersebut berkoordinasi dengan lima pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan persoalan daerah dan mempertemukannya dengan kepakaran perguruan tinggi.

“Konsorsium bukan sekadar kumpulan institusi yang menandatangani nota kesepahaman. Konsorsium adalah pengakuan bahwa tidak ada satu perguruan tinggi yang sanggup menjawab persoalan daerah itu secara sendirian,” ujar Fauzan.

Konsorsium kemudian menjadi ruang kerja bersama lintas kampus dan lintas disiplin untuk menangani persoalan seperti kemiskinan, kesehatan, ketahanan pangan, UMKM, lingkungan, pariwisata, dan pendidikan. Kerja perguruan tinggi diarahkan untuk dimulai dari kebutuhan daerah, sementara kepakaran menjadi kekuatan untuk mencari jalan keluarnya.

Sri Sultan HB X menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki jalan pulang kepada masyarakat. Kedekatan perguruan tinggi dengan masyarakat tidak cukup hanya secara fisik, tetapi harus diwujudkan melalui pengetahuan yang mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi warga.

“Ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab pada akhirnya selalu membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena pengetahuan itu hadir?” ujar Sri Sultan HB X.

Pernyataan tersebut menempatkan kebermanfaatan masyarakat sebagai ukuran penting dari kehadiran ilmu pengetahuan. Karena itu, kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah daerah perlu bergerak dari sekadar hubungan kelembagaan menuju kerja bersama yang berbasis pada persoalan dan kebutuhan masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari semangat Diktisaintek Berdampak yang didorong Kemdiktisaintek. Fauzan ingin perubahan itu tidak berhenti pada cara perguruan tinggi menggelar kegiatan, tetapi juga terlihat dalam cara kampus menentukan agenda riset, membangun kolaborasi, dan menempatkan pengetahuan di tengah persoalan masyarakat.

Dengan demikian, ruang akademik tidak lagi menjadi batas bagi perguruan tinggi untuk bekerja. Sawah, desa, ruang publik, dan lingkungan masyarakat dapat menjadi bagian dari ruang belajar sekaligus ruang pengabdian ilmu pengetahuan.



/

5

Ulas Sekarang