Aceh Barat-Melalui Hibah Pendanaan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dosen dan mahasiswa UTU bergerak bersama membantu warga yang terdampak banjir selama lebih dari dua pekan, Selasa (16/12).
Kemdiktisaintek memandang kehadiran mahasiswa dan dosen di lokasi bencana ini sebagai cerminan nyata peran pendidikan tinggi dalam respons bencana Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Heri Kuswanto memberikan apresiasi tertinggi atas dedikasi mahasiswa serta dosen UTU yang tergabung dalam tim tanggap darurat bencana.
“Kementerian mengucapkan terima kasih kepada UTU serta rekan-rekan dosen dan mahasiswa yang menjadi garda terdepan untuk penanggulan kebencanaan, berjibaku sejak awal bencana mendampingi masyarakat,” ucap Direktur Heri penuh apresiasi.
Bergerak di Wilayah Terdampak
Banjir yang melanda wilayah tersebut tidak hanya merendam rumah setinggi dua meter, tetapi juga memutus jaringan komunikasi, listrik, dan menghilangkan akses air bersih. Sehingga memaksa masyarakat hidup dalam keterbatasan.
“Sejak hari pertama, listrik, jaringan internet tidak ada sampai hari ke-16. Air bersih sangat kurang, untuk minum kami pakai air hujan,” jelas Sekretaris Desa Napai, Woila Barat, Musliadi.
Kondisi inilah yang mendorong Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penanggulangan Kebencanaan (PK) dan UKM Palang Merah Indonesia (PMI) UTU untuk turun ke lapangan sejak hari-hari awal bencana.
“Kami sadar, dalam situasi seperti ini, masyarakat butuh kehadiran. Bukan hanya bantuan, tapi juga dukungan,” tutur relawan mahasiswa UKMPK UTU, Saskia.
Bersama rekan-rekannya, Saskia terlibat dalam penyaluran logistik, pembersihan rumah dan fasilitas ibadah, hingga mendampingi warga yang masih diliputi rasa cemas dan kehilangan.
Langkah para mahasiswa serta dosen ini sejalan dengan semangat tridarma perguruan tinggi. Pendidikan tinggi tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian kemanusiaan.
Di lapangan, tantangan bukan hal kecil. Akses jalan terputus, banjir masih menggenangi beberapa titik, dan listrik belum menyala. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat para relawan
“Kami tidak banyak bertanya tentang kesedihan mereka. Kami lebih memilih menguatkan, memberi semangat, dan meyakinkan bahwa keadaan ini akan membaik,” kata Saskia.
Semangat dan ketulusan Tim Tanggap Darurat Bencana UTU dirasakan oleh masyarakat. Musliadi menyampaikan bahwa kehadiran civitas akademika UTU memberi arti besar bagi warga.
“Untunglah ada adik-adik dari UTU yang membantu memberikan dan menyalurkan bantuan logistik kepada kami, ini sangat menguntungkan bagi kami, karena pada saat banjir semuanya habis terendam,” kenang Musliadi.
Tim Tanggap Bencana UTU akan terus berada di lokasi terdampak hingga kondisi benar- benar membaik. Bagi para relawan, kelelahan selama lebih dari 16 hari bertugas justru terobati ketika melihat senyum warga.
“Saat bantuan sampai dan masyarakat merasa terbantu, itu menjadi obat lelah kami,” ungkap Asmirandah, salah satu relawan UKM PMI UTU.
Melalui dukungan terhadap Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kebencanaan, Kemdiktisaintek berharap semangat kerelawanan mahasiswa terus tumbuh dan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan tinggi Indonesia. Dari kampus ke lapangan, dari ilmu ke aksi nyata, pendidikan tinggi hadir untuk kemanusiaan hari ini dan di masa depan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





