Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat koordinasi dengan perguruan tinggi, dalam merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain memastikan keselamatan dan keberlanjutan pendidikan bagi sivitas akademika, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk mengambil peran dalam membantu masyarakat terdampak sesuai kapasitas masing-masing.
“Dalam situasi bencana seperti ini, perguruan tinggi harus hadir bersama masyarakat. Keahlian, tenaga, dan semangat gotong royong sivitas akademika dapat menjadi kekuatan penting untuk mendukung penanganan darurat dan membantu masyarakat bangkit. Inilah arah Diktisaintek Berdampak, ketika kampus hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang daratan Flores dan sekitarnya pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA, berdampak pada sejumlah wilayah di NTT. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT per 18 Agustus 2026, tercatat 69 orang meninggal dunia, 331 orang mengalami luka-luka, dan 34.689 orang mengungsi. Dampak gempa juga menyebabkan kerusakan pada rumah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, serta fasilitas umum di sejumlah wilayah terdampak.
Merespons kondisi tersebut, perguruan tinggi di NTT turut mengerahkan sivitas akademika untuk mendukung penanganan darurat dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Politeknik Cristo Re mengerahkan sebanyak 50 orang yang terdiri atas dosen, instruktur, dan mahasiswa melalui gerakan peduli kemanusiaan Triputra-Cristo Re-Persada. Tim tersebut mendukung penanganan bersama BNPB, antara lain dengan mendirikan 10 tenda di Bukit Ritapiret dan bandar udara area Kabupaten Sikka, membantu pemadaman kebakaran di Kecamatan Nelle, serta menyalurkan bantuan logistik ke sekitar Kecamatan Alok.
Selain itu, Tim Talibura dari Politeknik Cristo Re menyalurkan bantuan kepada lima bayi yang lahir, di tenda pengungsian. Bantuan yang diberikan meliputi air minum serta perlengkapan untuk ibu dan bayi. Tim Kolisia, Ndete, dan Koro dari Politeknik Cristo Re juga menyalurkan bantuan logistik dan perlengkapan tidur kepada 25 kepala keluarga di lokasi terdampak.
Kemudian Universitas Nusa Nipa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), membantu mendistribusikan logistik kepada masyarakat terdampak di Pulau Palue.
Di wilayah Riung, tim relawan Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Bajawa turut bergerak dengan mendirikan sejumlah posko di lokasi terdampak bencana. Sementara itu, tim relawan Universitas Katolik (Unika) Ruteng menyalurkan bantuan logistik ke posko-posko yang berada di sejumlah lokasi terdampak bencana.
Berbagai langkah yang dilakukan perguruan tinggi tersebut merupakan wujud nyata semangat gotong royong, dan kepedulian sivitas akademika dalam menghadapi situasi darurat. Keterlibatan dosen, instruktur, mahasiswa, serta organisasi kemahasiswaan menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kemdiktisaintek mengapresiasi langkah perguruan tinggi yang bergerak bersama pemerintah daerah, BNPB, lembaga kemanusiaan, tenaga kesehatan, serta masyarakat dalam merespons kondisi pascabencana. Keterlibatan sivitas akademika tersebut menjadi bagian dari peran perguruan tinggi dalam menghadirkan manfaat dan membantu masyarakat menghadapi situasi darurat.
Kemdiktisaintek akan terus berkoordinasi dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV dan perguruan tinggi di NTT untuk memastikan respons terhadap kondisi sivitas akademika sekaligus mendukung kontribusi perguruan tinggi dalam proses penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak gempa.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#PentingSaintek
#KampusBerdampak







