Palembang–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong mahasiswa untuk menjadikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sebagai titik awal dalam merancang solusi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Upaya tersebut dilakukan salah satunya melalui Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) yang menempatkan mahasiswa sebagai penggerak perubahan.
Komitmen tersebut diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Penyusunan Proposal Mahasiswa Berdampak: Program Aksara Mahasiswa Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMAD) Palembang, Selasa (11/8).
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana mengatakan Program Aksara Mahasiswa dirancang agar potensi mahasiswa dan dosen dapat dihadirkan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat di berbagai daerah. Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakteristik permasalahan dan potensi yang berbeda sehingga perguruan tinggi perlu hadir dengan solusi yang sesuai dengan kebutuhan setempat.
“Saya sangat yakin setiap daerah memiliki permasalahannya masing-masing. Potensi mahasiswa dengan dosen-dosen yang sangat inovatif mampu memberikan salah satu atau beberapa solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut. Maka, kami sangat berharap program ini benar-benar dimanfaatkan oleh para dosen dan mahasiswa untuk hadir di tengah masyarakat dan membantu menyelesaikan tantangan mereka dengan inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh Bapak-Ibu di perguruan tinggi,” ujar Direktur Ketut.
Menurut Direktur Ketut, mahasiswa memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan karena memiliki energi, pemikiran yang kritis dan idealis, serta kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Melalui Aksara Mahasiswa, mahasiswa didorong untuk terlebih dahulu turun ke lapangan, memetakan persoalan, kemudian membawa temuan tersebut ke kampus untuk didiskusikan dan dicarikan solusi berbasis sains, teknologi, dan inovasi.
Direktur Ketut menegaskan bahwa pendekatan berbasis masalah nyata menjadi prinsip penting dalam program-program Ditjen Risbang. Proposal yang diajukan mahasiswa dan dosen diharapkan memiliki hubungan yang jelas antara persoalan masyarakat, solusi yang ditawarkan, serta teknologi atau inovasi yang digunakan.
“Jadi, saya pastikan semua proposal harus berbasis permasalahan nyata yang hendak diselesaikan. Manfaatkan kesempatan ini untuk ke lapangan, cari tahu permasalahannya, kemudian diskusikan dengan dosen dan susun dalam bentuk proposal terbaik,” tegas Direktur Ketut.
Program Aksara Mahasiswa Tahun 2026 dilaksanakan melalui dua skema, yaitu Aksara Peduli dan Aksara Sirkular. Aksara Peduli diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat, khususnya pada bidang pangan, energi, dan kesehatan di daerah tertinggal, terdepan, wilayah dengan kemiskinan ekstrem, serta daerah rawan bencana alam. Sementara itu, Aksara Sirkular berfokus pada pengelolaan sampah dengan mendorong solusi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah prioritas penanganan sampah.
Rektor UMAD Palembang, Heri Shatriadi menilai keberadaan perguruan tinggi dapat memberikan dampak yang lebih luas apabila kehadirannya dirancang secara berkelanjutan dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan perkembangan kawasan di sekitar kampus UMAD yang sebelumnya relatif sepi dan rawan, kemudian mengalami peningkatan aktivitas ekonomi setelah kampus mulai beroperasi dan mahasiswa hadir di kawasan tersebut.
“Itulah yang berdampak. Kami akan selalu mendukung dan duluan melaksanakan kegiatan begitu ada kebijakan berdampak. Tetapi, kita harus memastikan bahwa keberdampakan ini adalah kontinuitas, keberlanjutan,” ujar Rektor Heri.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai kebijakan Program Aksara Mahasiswa, mekanisme pengusulan, persyaratan, luaran program, serta penyusunan proposal untuk masing-masing skema.
Melalui Program Aksara Mahasiswa, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk semakin terhubung dengan persoalan nyata di masyarakat. Mahasiswa, dosen, dan perguruan tinggi diharapkan dapat membangun kolaborasi untuk menghadirkan solusi berbasis riset dan inovasi yang relevan, berkelanjutan, serta memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#PentingSaintek
#KampusBerdampak







