Bekasi—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat peran strategis pemanfaatan teknologi dalam mendukung penyelesaian permasalahan nasional, salah satunya penanggulangan sampah. Menindaklanjuti hal ini, Kemdiktisaintek melakukan kunjungan ke Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Bantar Gebang pada Jumat (27/3).
Kunjungan yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman, ini turut melibatkan jajaran Kemdiktisaintek, para pakar dari berbagai perguruan tinggi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta mitra industri pengolahan sampah. Keterlibatan berbagai pihak tersebut merupakan bagian dari pendekatan kolaboratif dalam mengkaji dan merumuskan solusi dengan pendekatan sains dan teknologi.
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Fauzan menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman menyeluruh sekaligus mengidentifikasi langkah strategis dalam pengelolaan sampah secara lebih sistematis dan terintegrasi.
“Kami berkunjung ke Bantar Gebang untuk meninjau langsung berbagai tantangan dan peluang dalam penanganan masalah timbunan sampah. Kemdiktisaintek, bersama para pakar dari perguruan tinggi, akan mendukung upaya ini melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari unsur masyarakat, industri pengolahan sampah, hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya perancangan sistem pengelolaan sampah yang mampu mengurangi timbunan secara bertahap sekaligus mengoptimalkan aliran material sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan.
“Beberapa hal yang kami bahas hari ini adalah bagaimana kita bisa membantu perancangan sistematis untuk mengurangi timbunan sampah di Bantar Gebang, serta optimalisasi pengelolaan aliran material sampah yang masuk agar dapat ditekan secara bertahap” tambah Dirjen Fauzan.
UPST Bantar Gebang saat ini menerima sekitar 7.500 ton sampah per hari atau setara lebih dari 1.300 truk, sehingga menjadi salah satu simpul utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional. Dengan luas sekitar 110 hektare dan telah beroperasi sejak 1989, fasilitas ini memiliki peran penting dalam menangani beban sampah perkotaan yang terus meningkat. Dalam konteks tersebut, diperlukan upaya penguatan sistem yang tidak hanya berfokus pada pengolahan di hilir, tetapi juga pada pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya.
Kemdiktisaintek mendorong pendekatan solusi yang terintegrasi, di mana teknologi menjadi salah satu komponen penting yang didukung oleh tata kelola yang efektif serta perubahan perilaku masyarakat. Berbagai teknologi seperti Refuse Derived Fuel (RDF), landfill mining, serta pengolahan sampah menjadi energi telah dikembangkan dan dioptimalkan sebagai bagian dari solusi.
Sejalan dengan hal tersebut, penguatan pengelolaan sampah di hulu menjadi perhatian utama, melalui penerapan sistem berlapis mulai dari tingkat rumah tangga, komunitas, hingga fasilitas pengolahan antara seperti TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah-Reduce, Reuse, Recycle). Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir secara signifikan, sehingga hanya menyisakan residu yang benar-benar tidak dapat diolah.
Perwakilan UPST Bantar Gebang menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Kemdiktisaintek dalam penguatan pengelolaan sampah berbasis sains dan teknologi. Pihaknya menilai kolaborasi dengan kalangan akademisi dan industri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas pengolahan serta mempercepat pengurangan timbunan sampah secara berkelanjutan.
Upaya ini juga memerlukan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, termasuk penguatan regulasi, mekanisme insentif dan disinsentif, serta peningkatan kesadaran masyarakat. Dalam hal ini, Kemdiktisaintek turut mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dan mahasiswa melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat, termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN), guna memperkuat edukasi dan praktik pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Kunjungan ini merupakan bagian dari implementasi Kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang menempatkan sains dan teknologi sebagai pilar utama dalam menjawab tantangan pembangunan nasional. Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan industri, Kemdiktisaintek optimistis bahwa sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, efektif, dan berkelanjutan dapat terus dikembangkan untuk mendukung kualitas lingkungan hidup yang lebih baik.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif







