Jakarta–Upaya peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia menjadi agenda strategis nasional, terutama dalam menjawab kebutuhan tenaga kerja global yang semakin kompetitif.
Tantangan ini semakin terasa di tengah tingginya minat bekerja di luar negeri. Menurut data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), selama periode 2022-2024 ada sekitar 795,3 ribu pekerja migran Indonesia (PMI) yang ditempatkan bekerja di luar negeri. PMI tersebut paling banyak bekerja sebagai asisten rumah tangga, caregiver, pekerja kasar, pekerja perkebunan, dan operator production. Perguruan tinggi memiliki posisi kunci sebagai ruang transisi nyata dari pendidikan menuju dunia kerja, agar bisa mendapat peran kerja yang lebih baik.
Dalam konteks tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan bertemu dengan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla untuk membahas mengenai penguatan peran perguruan tinggi dalam mendorong lulusan kampus yang siap kerja, di kantor Kemdiktisaintek, Selasa (27/01).
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan SDM yang siap lulus sekaligus siap bekerja secara global. Melalui penguatan kolaborasi dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan pemanfaatan kurikulum yang adaptif, proses penyiapan kompetensi dapat dilakukan lebih sistematis sejak awal masa pendidikan,” tegas Wamen Fauzan.
Salah satu praktik baik di sejumlah daerah menunjukkan bahwa investasi pada pelatihan berdampak langsung pada penempatan. Jawa Timur, misalnya, mengalokasikan sekitar Rp10 miliar per tahun untuk subsidi pelatihan dan tercatat menjadi daerah dengan penempatan tertinggi selama tiga tahun berturut-turut.
Sejalan dengan pernyataan Wamendiktisaintek, Wamen Dzulfikar menyorot pentingnya mengatasi persoalan ketidaksesuaian lulusan dengan kebutuhan kerja dan meningkatkan kualitas penempatan pekerja migran.
“Selama ini masih terjadi ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan kerja di luar negeri, sehingga persoalan tersebut sering kembali ke kami di tahap penempatan,” jelas Wamen Dzulfikar.
Menurutnya, fasilitas pelatihan yang dimiliki kampus dapat menjadi solusi untuk menyiapkan calon pekerja secara lebih terstruktur, sekaligus menekan risiko penempatan yang tidak sesuai dengan kompetensi. Ia juga menekankan pentingnya sinkronisasi data kebutuhan tenaga kerja luar negeri agar penempatan lebih tepat sasaran.
Diskusi ini juga merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara Kemdiktisaintek dan Kementerian P2MI pada Desember 2025, sebagai langkah strategis memperkuat sinergi pengembangan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing global dalam menghadapi momentum bonus demografi Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa pekerja migran Indonesia merupakan representasi kualitas SDM bangsa di tingkat global. Penegasan ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto dalam mendorong tenaga kerja terampil Indonesia mengisi peluang kerja baik di dalam negeri maupun di pasar global.
Pertemuan antara kedua wakil menteri memfokuskan diskusi pada penguatan peran perguruan tinggi melalui career development center dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), integrasi pelatihan dengan kurikulum, serta skema magang dan kerja luar negeri yang dapat diakui sebagai bagian dari proses pendidikan tinggi.
Kemdiktisaintek berkomitmen untuk membangun ekosistem penyiapan SDM yang terintegrasi, dari pendidikan, pelatihan, hingga penempatan kerja. Kolaborasi lintas kementerian ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja global bagi lulusan Indonesia, sekaligus memastikan prosesnya berlangsung aman, bermartabat, dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas SDM nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





