Guiyang, Tiongkok – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat pendidikan vokasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, saat mewakili Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam rangkaian China-ASEAN Education Cooperation Week (CAECW) 2026 di Guiyang, Provinsi Guizhou, Tiongkok.
Pada forum bertajuk China-ASEAN Forum on High-standard Cooperation Practices in Vocational Education and the Symposium on the Cooperation and Development of the Craftsman's Workshop, Badri menekankan bahwa pendidikan vokasi tidak lagi dapat dipandang sebagai jalur pendidikan alternatif, melainkan harus menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan daya saing bangsa di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh transformasi digital dan perkembangan teknologi.
"Vocational education should no longer be perceived as an alternative pathway. It must become a strategic pillar for developing competitive human capital and supporting sustainable economic growth," ujar Badri.
Menurut Badri, penguatan pendidikan vokasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia usaha agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
"No single institution can address this challenge alone. Governments establish enabling policies. Educational institutions develop talents. Industries provide practical experience," tegasnya.
Forum yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pimpinan perguruan tinggi, pelaku industri, dan mitra internasional dari negara-negara ASEAN dan Tiongkok tersebut menjadi wadah untuk memperkuat praktik baik kerja sama pendidikan vokasi, pengembangan talenta, serta inovasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Guizhou Economic and Trade Vocational and Technical College, Universitas Andalas, Indonesia Station of China's Northern (TEDA) One-stop Sea Service Base, serta Duyun Tea Industry Development Group untuk membangun Craftsman's Workshop di bidang industri teh berbasis teknologi digital. Kerja sama ini mencakup penyusunan standar pendidikan bersama, pengembangan kurikulum dan bahan ajar bilingual, pertukaran dosen, pengembangan talenta vokasi, riset terapan, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), drone, dan teknologi digital untuk mendukung inovasi industri teh.
Selain menghadiri forum pendidikan vokasi, Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek juga menghadiri China-ASEAN Youth Community Forum yang mengangkat tema pemanfaatan Artificial Intelligence(AI) untuk memperkuat pendidikan dan kolaborasi generasi muda ASEAN-Tiongkok. Forum tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan pemimpin perguruan tinggi mengenai pemanfaatan AI untuk meningkatkan akses, kualitas, dan pemerataan pendidikan.
Dalam forum tersebut, para peserta juga mendorong lahirnya berbagai inisiatif untuk memperkuat literasi digital, memperluas akses pembelajaran bagi masyarakat di wilayah terpencil, serta meningkatkan pertukaran pemuda melalui platform digital. Berbagai usulan tersebut diharapkan dapat memperkuat jejaring kolaborasi pendidikan antara negara-negara ASEAN dan Tiongkok di era transformasi digital.
Badri menegaskan bahwa Indonesia akan terus memperluas kemitraan internasional untuk membangun ekosistem pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu menjawab kebutuhan industri masa depan.
"Indonesia remains committed to working closely with China and our ASEAN partners to build a vocational education ecosystem that is inclusive, innovative, industry-responsive."
Partisipasi Indonesia dalam China-ASEAN Education Cooperation Week 2026 mencerminkan komitmen Kemdiktisaintek untuk memperkuat kerja sama internasional dalam bidang pendidikan tinggi, sains, teknologi, dan pendidikan vokasi. Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia terus mendorong terciptanya sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.







