Malang — Dalam momentum Rakernas dan Jambore Nasional AMKI Muda 2025 yang digelar di Universitas Brawijaya pada Sabtu (1/11), Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia unggul tidak cukup hanya mengejar kecanggihan teknologi.
“Kita tidak hanya ingin menjadi smart nation, tetapi juga nation of wisdom, bangsa yang menggabungkan ilmu dan ukhuah, inovasi dan nilai,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi saat membuka orasinya.
Dalam orasinya, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi membawakan tema besar “Pemanfaatan AI untuk Membangun SDM Unggul dan Berperadaban: Integrasi Ilmu, Iman, dan Inovasi Menuju Kampus Berdampak.”
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 750 peserta yang terdiri dari takmir masjid kampus dari 38 provinsi, aktivis masjid kampus (AMKI Muda), pimpinan perguruan tinggi, serta mitra strategis. Acara ini dirancang sebagai wadah konsolidasi gagasan dan aksi nyata untuk meneguhkan kembali peran masjid kampus sebagai laboratorium peradaban bagi generasi muda.
Dalam sambutannya, Dirjen Dikti kembali mengingatkan akar sejarah peradaban ilmu yang lahir dari masjid, dari Masjid Al-Qarawiyyin yang berkembang menjadi lembaga pendidikan tertua, hingga peran Masjid Al-Azhar dan pusat-pusat ilmu di Cordoba yang menjadi mercusuar ilmu pengetahuan. Dari sini diambil kesimpulan strategis: masjid kampus bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat integrasi antara iman, ilmu, dan amal.
Dirjen Dikti juga menekankan bahaya pemanfaatan teknologi tanpa landasan nilai: “AI tanpa nilai = artificial insensitivity.” Oleh karena itu, orientasi pemanfaatan kecerdasan buatan harus diarahkan untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.
“Dalam membangun sumber daya manusia unggul, kita perlu mensinergikan tiga kecerdasan: kecerdasan buatan (artificial intelligence), kecerdasan insani (human intelligence), dan kecerdasan ilahiyah (spiritual intelligence). Keseimbangan ketiganya akan melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berdaya guna,” Jelas Dirjen Khairul
Lebih lanjut, praktik konkret pemanfaatan AI dalam pendidikan tinggi yang didorong antara lain: adaptive learning untuk menyesuaikan gaya belajar mahasiswa; assessment berbasis data untuk evaluasi yang lebih objektif; percepatan riset kolaboratif lintas-disiplin; serta aplikasi AI untuk layanan administrasi kampus seperti prediksi mahasiswa berisiko dan asisten virtual. Selain itu, Dirjen mengajak pengembangan solusi AI untuk dakwah, misalnya Qur’anic companion berbasis NLP dan produksi konten dakwah digital yang empatik dan etis.
Rakernas ini juga menjadi momentum penguatan gerakan masjid kampus sebagai pusat literasi AI Islami. Beberapa inisiatif yang diusulkan meliputi program pelatihan “AI for Dakwah”, lokakarya AI for Leadership, serta pembentukan pusat literasi AI di masjid-masjid kampus untuk melahirkan generasi yang bukan sekadar digital native tetapi menjadi digital khalifah, memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama.
Dirjen Dikti terus mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengokohkan sinergi antara ilmu, iman, dan inovasi: memperkuat pengelolaan masjid kampus, memperluas jaringan AMKI sebagai platform kolaborasi, dan mengintegrasikan etika dalam kurikulum literasi digital.
“Ketika ilmu dipandu iman dan teknologi dikendalikan adab, maka lahirlah peradaban yang berjiwa,” tutup Dirjen.
Rakernas & Jambore Nasional AMKI Muda 2025 adalah sebuah perhelatan optimisme kolaboratif: kampus sebagai pusat pembentukan karakter dan inovasi dapat menjadi garda depan menghadirkan SDM berdaya saing sekaligus berbudaya kemanusiaan, sebuah fondasi penting menuju Indonesia Emas yang berperadaban.





