Jakarta—Transformasi pendidikan tinggi, khususnya pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), menjadi semakin diperlukan di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja dan dinamika global yang terus berkembang. Lebih dari sebagai pencetak guru dan tenaga kependidikan profesiona, LPTK berperan penting sebagai institusi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang adaptif, relevan, dan memiliki daya saing tinggi.
Berdasarkan data tahun 2026 oleh Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), hingga saat ini bidang pendidikan masih menjadi bidang ilmu favorit dibandingkan rumpun ilmu lain, dengan total 2,25 juta mahasiswa ilmu pendidikan. Banyak dosen yang mengajar di bidang pendidikan berjumlah 55.442 orang, kedua tertinggi setelah bidang teknik (Pusat Data dan Informasi Kemdiktisaintek, 2026).
Sementara itu, jumlah guru di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) pada tahun 2026 berjumlah 3.306.345 orang, dengan jumlah guru yang akan pensiun sebanyak 61.937 orang. Lulusan bidang pendidikan di bawah Kemdiktisaintek pada tahun 2025 berjumlah 186.895 orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat surplus SDM dalam konteks guru di Indonesia.
Berkaca pada hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan perlunya inovasi bagi penyelenggara LPTK untuk terus mengembangkan kualitas talenta unggul bagi bangsa Indonesia. Hal ini disebutkan saat Wamen Fauzan berbicara di depan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Penyelenggaraan Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia (FPPTKSI), Rabu (22/4).
“Ketika zaman berkembang pesat dan konteks dinamika global berubah, kita juga harus ikut berubah. Manajemen pendidikan tinggi harus terus melakukan pembaruan. Untuk perguruan tinggi bisa berdaya saing dan bertahan hidup, kita harus memahami apa yang dibutuhkan masyarakat,” tegas Wamen Fauzan.
Lebih lanjut, Wamen Fauzan menyoroti pentingnya desain pendidikan tinggi yang mampu menjawab ekspektasi mahasiswa dan orang tua, termasuk kepastian masa studi, peluang kerja, serta relevansi kompetensi. Hal ini sejalan dengan studi yang pernah diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) terkait apa yang dibutuhkan generasi Z (gen Z, red) dalam perguruan tinggi, antara lain keahlian spesifik yang dapat diaplikasikan secara fleksibel, kepastian kerja setelah lulus, dan berjejaring dalam industri terkait. Melihat data tersebut, Wamen Fauzan menekankan kembali bahwa perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya bergantung pada pendekatan konvensional.
“Apakah kita sudah merancang kurikulum yang bisa memberikan kepastian pada mahasiswa dan orang tuanya? Kita harus bisa memastikan ada desain-desain baru dalam tata kelola perguruan tinggi bidang kependidikan ini untuk menghadapi ketidaksesuaian antara demand dan supply dalam profesi keguruan,” jelas Wamen Fauzan.
Jaga Mutu Tenaga Kependidikan
Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia (ALPTKSI), Sofyan Anif menyampaikan bahwa LPTK memiliki peran strategis dalam menjaga mutu pendidikan nasional, sehingga penguatan kualitas dan arah kebijakan menjadi krusial.
“LPTK tidak hanya memproduksi guru, tetapi juga menjadi penjaga mutu guru di Indonesia. LPTK menjadi modal besar untuk bangsa. Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, kita membutuhkan guru kuat secara pengetahuan, tetapi lebih penting lagi dapat mengajarkan karakter baik untuk generasi yang akan datang,” jelas Sofyan.
Sofyan juga menambahkan bahwa forum ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi LPTK swasta untuk merumuskan rekomendasi kebijakan, termasuk dalam penguatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan kontribusi terhadap revisi kebijakan pendidikan nasional.
Penguatan LPTK ini sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya transformasi pendidikan tinggi agar lebih berdampak dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, pendidikan tinggi diarahkan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi nyata bagi persoalan bangsa.
Selain itu, Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa kualitas SDM menjadi kunci utama kemajuan bangsa, di mana pendidikan berperan sebagai fondasi utama dalam membangun kemandirian nasional. Hal ini termaktub dalam visi Asta Cita yang dicanangkan untuk mendorong kemajuan bangsa.
Melalui penguatan inovasi, relevansi kurikulum, serta peningkatan kualitas LPTK, Kemdiktisaintek berkomitmen mendorong perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang terus berubah. Rakornas FPPTKSI ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat sistem pendidikan tenaga kependidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berdampak bagi kemajuan bangsa.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





