Mimpi Peserta Future Leaders Camp Menjadi Presiden Republik Indonesia

Kabar

30 October 2025 | 12.41 WIB

Mimpi Peserta Future Leaders Camp Menjadi Presiden Republik Indonesia

Bandung-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyalakan kembali api ambisi, di hati puluhan mahasiswa terpilih dalam acara Indonesia Future Leaders Camp (FLC) 2025 di Universitas Islam Bandung (Unisba), Kamis (30/10).

Bukan sekadar bootcamp biasa, FLC adalah panggung di mana mimpi-mimpi masa depan kepemimpinan nasional mulai dibingkai, dengan satu pesan kunci yang menyentuh, antara lain jadilah pemimpin sejati yang berintegritas, dan berwawasan global.

Di antara puluhan wajah calon pemimpin muda dari berbagai penjuru kampus, M. Afif Fahreza, Presiden Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), memancarkan ambisi yang membara.

Bukan hanya hadir sebagai peserta terpilih, Afif Fahreza membawa pulang sebuah cetak biru masa depan yang lebih dalam dari sekadar diskusi. Keikutsertaannya dalam FLC 2025 menjadi momen krusial untuk menanamkan benih mimpi yang ia yakini akan mengubah nasib bangsa. Afif meyakini mimpi besarnya kelak, menjadi Presiden Republik Indonesia.

Mimpi Besar Menjadi Presiden Republik Indonesia

Resolusi personal datang dari mimpi besar Afif, dia tidak hanya pulang dengan insight umum, tetapi dengan sebuah cita-cita politik yang ditanamkan hingga ke akar terdalam.

"Saya punya mimpi yang besar dan hari ini mimpi tersebut akan saya tanamkan ke akar yang paling dalam, untuk memperkuat cita-cita yang hari ini akan saya wujudkan menjadi seorang presiden Republik Indonesia," cetusnya penuh optimisme.

Pengakuan ini bukan sekadar ambisi sesaat, melainkan sebuah mimpi besar dan komitmen yang diucapkan di depan publik. Afif menyadari bahwa jalan menuju sana panjang dan tidak pasti.

"Entah kapan, tapi setidaknya hari ini akan saya cituskan untuk masa depan di Indonesia Emas 2045 nanti,"  ungkapnya penuh keyakinan.

Afif pun yakin masa depan bangsa Indonesia ada di tangan generasi muda. Menurutnya FLC tidak hanya mengajarkan teori kepemimpinan, tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif bahwa kekuatan perubahan berada di tangan generasi yang duduk di forum tersebut.

"Saya memastikan bahwa tidak ada perubahan besar di republik ini tanpa campur tangannya seorang pemuda yang hari ini lebih dikenal sebagai seorang mahasiswa," tegasnya.

Mimpi menjadi Founder Start up Bertaraf Global

Peserta lainnya, Rangga Aulia Rusli, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, memilih untuk membingkai masa depan Indonesia bukan di jalan politik, melainkan dengan mimpi menjadi founder startup produk teknologi.

Dengan mata berbinar Rangga menyampaikan impiannya yang terasa personal dan spesifik, ia tidak hanya ingin memimpin, tetapi ingin melihat bendera Merah Putih berkibar sejajar di panggung teknologi global, didorong oleh karya-karya anak bangsa.

Berbekal keilmuan sebagai mahasiswa jurusan Teknik Elektro, Rangga bercita untuk menciptakan produk teknologi lokal, yang dapat bersaing secara global.

"Mimpi besar saya buat Indonesia adalah saya akan mengembangkan beberapa teknologi-teknologi yang ada di Indonesia ini agar terkenal di kancah dunia. Dan Indonesia dapat bersaing secara global, baik secara teknologi maupun secara ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia ini. Terutama karena saya dari jurusan teknik elektro, saya bermimpi sangat besar Indonesia dapat berkontribusi lebih dalam pengembangan elektro ataupun elektronika industri yang ada di kancah internasional," ungkapnya penuh semangat.

Ajang Sharing Calon Pemimpin

FLC 2025 bukan sekadar kegiatan formal tentang pelatihan kepemimpinan, melainkan sebuah gerbang pembuka menuju jaringan persahabatan dan ide-ide besar.

Dikatakan Syam Ritonga, peserta yang berlatar sebagai Menteri Pendidikan dan Keagamaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unisba, FLC menjadi ajang menjalin relasi dan bertukar pemikiran. Ia memanfaatkan momen ini untuk menjalin relasi dengan pengurus BEM dari kampus-kampus ternama seperti ITB, UI, dan berbagai universitas lain yang dikenal memiliki track record aktivisme dan akademik yang kuat.

Momen tersebut, dalam pandangan Syam, adalah langkah awal yang strategis. Ia meyakini bahwa jaringan yang terbentuk di FLC akan menjadi fondasi bagi kolaborasi nyata di masa mendatang. Di era di mana masalah sosial, politik, dan lingkungan menuntut solusi lintas sektor, kemampuan untuk membangun tim kerja dan kolaborasi antar-kampus adalah bekal krusial. Melalui FLC, Syam Ritonga dan rekan-rekannya tidak hanya dilatih menjadi pemimpin yang hebat, tetapi juga menjadi simpul-simpul jaringan yang siap bergotong royong membawa perubahan bagi Indonesia.

Mereka kini bukan lagi hanya aktivis BEM di kampus masing-masing, melainkan bagian dari satu keluarga besar calon pemimpin nasional.

Dukungan Mendiktisaintek

Sebelumnya Rabu (29/10), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto membuka program Indonesia FLC 2025.  Program FLC ini dirancang untuk menyiapkan generasi pemimpin muda Indonesia yang berintegritas, adaptif, visioner, serta berdaya saing tinggi.

Sebanyak 60 peserta terpilih mengikuti FLC Regional 1 yang merupakan ketua atau pengurus BEM di tingkat universitas dan ekstrakampus di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, yang lolos seleksi administrasi.

Dalam paparannya, Mendiktisaintek menekankan pentingnya membangun ekosistem regenerasi kepemimpinan nasional yang kuat demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menuju kesana tentu dibutuhkan persiapan, berupa pembangunan kapasitas para pemuda.

Mendiktisaintek menyampaikan harapan besarnya kepada peserta FLC yang kelak menjadi calon pemimpin.

"Jangan khawatir dengan latar belakang Anda. Siapapun anda, anda bisa capai itu.Kuncinya satu, mimpi yang setinggi-tingginya. Tapi kemudian Anda juga harus kejar terus secara tekun mimpi besar tersebut," pungkas Menteri Brian diiringi tepuk tangan para peserta FLC.

FLC merupakan wadah regenerasi kepemimpinan nasional pertama dan paling bergengsi yang diadakan oleh Kemdiktisaintek. FLC bertujuan menjadi platform penguatan kepemimpinan strategis bagi para ketua/pengurus BEM & ketua/pengurus organisasi ekstra kampus di seluruh Indonesia sebagai calon-calon pemimpin bangsa dengan pendekatan experiential learning.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang