Partikel Kecil yang Menyapa Kehidupan: Ilmuwan Unpad I Made Joni Menebar Manfaat untuk Negeri lewat Nanoteknologi

Kabar

15 October 2025 | 20.41 WIB

Partikel Kecil yang Menyapa Kehidupan: Ilmuwan Unpad I Made Joni Menebar Manfaat untuk Negeri lewat Nanoteknologi

Sumedang-Kecintaannya pada dunia nanoteknologi membawa I Made Joni, peneliti sekaligus dosen Universitas Padjadjaran (Unpad), menembus daftar 2% ilmuwan paling berpengaruh di dunia (World’s Top 2% Scientist) versi Stanford University dan Elsevier. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), yang diwakili Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman, menyampaikan apresiasi tinggi atas kiprah I Made Joni sebagai sosok dosen yang menjadi contoh nyata sumber daya manusia unggul yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan pembangunan bangsa, Selasa (15/10).

Dirjen Fauzan berharap penghargaan yang diberikan kepada Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) tersebut dapat menjadi inspirasi bagi sivitas akademika di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata.

“Kemdiktisaintek akan terus memperluas dukungan riset melalui pendanaan kompetitif dan pengembangan ekosistem yang mendorong kolaborasi, hilirisasi riset, serta keberlanjutan inovasi. Mudah-mudahan ini menjadi ekosistem yang kita bangun bersama, melahirkan idola baru di dunia sains dan teknologi, yang tidak hanya berprestasi tetapi juga memberi manfaat bagi bangsa,” tutur Dirjen Fauzan.

I Made Joni mengaku sangat terkejut ketika mendapatkan penghargaan tersebut. Hal itu menjadi bentuk kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk terus berkontribusi dalam pengembangan bidang Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM).

“Saya surprise dan juga bangga bisa mendapat penghargaan, dan sekaligus punya tanggung jawab juga untuk bisa support STEM,” ujarnya.

Menjahit Ilmu dan Manfaat lewat Nanoteknologi

Capaian I Made Joni diperoleh berkat risetnya yang konsisten dan berdampak luas, terutama dalam bidang pengolahan dan sintesis nanoteknologi. Pemilik sejumlah paten tersebut menilai, teknologi nano merupakan bidang strategis yang berfungsi sebagai jembatan antara teknologi dasar dan aplikasi lanjutan di berbagai sektor.

Deretan paten yang dihasilkan oleh I Made Joni dan timnya menunjukkan konsistensi arah riset yang kuat, yakni menghubungkan sains dasar dengan aplikasi nyata yang memberi dampak langsung bagi masyarakat dan industri.

Sebagian besar paten tersebut berakar dari riset nanoteknologi dan material fungsional, bidang yang dikenal memiliki daya guna luas lintas sektor. Melalui inovasi seperti pembuatan baterai aluminium–air, dispersi silika nano untuk cat antibakteri dan self cleaning, serta generator mikronano bubble (FIBUTECH) untuk pengolahan air, Made menghadirkan solusi yang konkret untuk isu nasional, mulai dari ketahanan energi, kesehatan lingkungan, hingga peningkatan kualitas hasil pertanian.

“Riset saya itu sebenarnya di bidang pengolahan atau sintesis nano. Ini teknologi yang umum dan sangat advanced untuk berbagai aplikasi,” paparnya.

Teknologi tersebut, lanjutnya, bisa diterapkan dalam pembuatan pupuk dari bahan mentah, pengembangan obat dengan desain nano, hingga berbagai inovasi lintas sektor.

Salah satu penelitian yang kini tim tengah ia kembangkan bersama tim adalah pupuk berbasis silika (SiO2) yang berfungsi memperkuat batang padi agar tidak mudah rebah saat terkena angin.

“Kita kasih pupuk silika melalui daun supaya lebih cepat. Jadi nanti batangnya bisa kuat, performanya bagus,” katanya.

Selain itu, ia juga mengembangkan material nano magnetik Fe3O4 yang bersifat superparamagnetik yang dapat digunakan untuk menghantarkan obat sekaligus menghasilkan citra medis layaknya MRI, yang disebut dengan Magnetic Particles Imaging (MPI). Material ini bahkan pernah dimanfaatkan untuk ekstraksi DNA-RNA selama pandemi Covid-19 dan kini sudah bisa diproduksi di dalam negeri.

Menurut Ketua Pusat Unggulan IPTEKS Functional Nano Powder Unpad tersebut, kekayaan sumber daya alam Indonesia seharusnya bisa menjadi modal utama dalam pengembangan teknologi. Namun, untuk mengoptimalkan potensi tersebut kita harus mampu menguasai teknologi “tengah”, yakni proses mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.

“Indonesia sebenarnya sangat kaya, tapi belum bisa secara langsung meningkatkan kesejahteraan karena teknologi tengahnya itu tidak ada. Tugas kita itu mentransformasi ini menjadi sesuatu teknologi yang bisa mensejahterakan, bukan hanya satu industri tapi berbagai sektor,” jelasnya.

Dalam konteks global, Made melihat nanoteknologi memiliki peran besar dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Teknologi ini, katanya, mampu menjawab berbagai isu strategis seperti energi, pangan, kesehatan, hingga lingkungan.

“Kalau saya rangkum, nanoteknologi itu untuk teknologi yang sustainable, yang membuat kelestarian. Lingkupnya energi, lingkungan, kesehatan, dan pangan. Dan itu kadang-kadang tidak bisa dikerjakan oleh satu bidang ilmu saja, bahkan lintas negara,” jelasnya.

Di Indonesia sendiri, prioritas pengembangan nanoteknologi, katanya, bisa difokuskan pada transisi energi, ketahanan pangan, serta perbaikan kualitas lingkungan dan air, semuanya relevan dengan kebutuhan nasional saat ini.

Semangat Tridarma dan Filosofi Kaizen

Perjalanan akademik I Made Joni dimulai dari latar belakang fisika teoretis, yang kemudian berkembang ke arah yang lebih aplikatif. Kecintaannya pada bidang nanoteknologi menjadi titik temu antara teori dan praktik, memungkinkan penerapan sains yang lebih nyata bagi masyarakat.

Made memperoleh Sarjana Fisika (S.Si.) di Unpad tahun 1998 dalam bidang Instrumentasi dan memperoleh Magister Fisika (M.Sc.) di School of Physical Sciences, Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India tahun 2000 dalam bidang Fisika Teori.

Gelar Doktor Engineering kemudian diperolehnya di Hiroshima University Japan pada 2011 dalam bidang Rekayasa Material Nano melalui beasiswa Doktor Luar Negeri Dikti angkatan pertama. I Made Joni bergabung menjadi Dosen di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Unpad pada tahun 2001. Atas pencapaian kinerja yang sangat baik, ia dipromosikan menjadi Guru Besar pada Tahun 2016.

“Saya lahir dari bidang theoretical physics, tapi sekarang menggeser sedikit ke bidang yang sangat applied. Tidak mengurangi aplikasinya, justru memperluas penerapannya,” katanya.

Menjadi profesor dan peneliti yang diakui dunia tentu bukan perjalanan instan. I Made Joni menuturkan, motivasi utamanya berasal dari semangat menjalankan tridarma perguruan tinggi—mengajar, meneliti, dan mengabdi.

“Untuk bisa mengajar dengan baik, kita harus meneliti. Karena ilmu akan mendalam kalau kita teliti. Untuk bisa memberikan dampak ke masyarakat, kita juga harus riset apa yang mau dihilirkan. Siklus tiga ini saling berkaitan, enggak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, reputasi internasional peneliti dibangun melalui konsistensi publikasi ilmiah dan kontribusi dalam komunitas akademik. Kualitas tulisan ilmiah yang baik akan disitasi oleh peneliti lain dan berkontribusi pada pengakuan global.

“Kalau tulisan kita bagus, kita akan disitasi. Dan kita juga harus sering kontribusi, misalnya melakukan review. Proses inilah yang membuat kita terekognisi,” tambahnya.

Kepada para dosen dan peneliti muda, I Made Joni berpesan agar selalu bekerja dengan paradigma strategis, bukan pragmatis. “Lakukan sesuatu yang strategik, bukan pragmatis. Kerjain aja sesuai dengan goal yang sudah di-set, step by step,” katanya.

Ia menekankan bahwa kesuksesan tidak datang dari kerja yang instan, tetapi dari proses panjang dan konsisten. Ia juga mengutip filosofi Jepang kaizen, yaitu melakukan perbaikan bertahap setiap hari.

“Jangan langsung menaruh sesuatu yang besar, lakukan step by step. Kalau strategis, artinya kita berpikir objektif apa yang harus saya kerjakan untuk hal strategis apa,” tuturnya.

Pencapaian I Made Joni turut membuat bangga Rektor Unpad, Arief S. Kartasasmita yang mengungkap inisiatif semacam ini dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh inspiratif bagi dosen, mahasiswa, maupun generasi muda untuk melihat bahwa penelitian sejati tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.

“Ini tidak hanya untuk masyarakat, tapi juga bisa menjadi inspirasi bagi dosen-dosen lain. Selama ini banyak dosen yang berpikir penelitian itu hanya untuk meneliti saja, tanpa memikirkan bagaimana hasilnya bisa berdampak lebih luas, bahkan sampai ke ekonomi nasional,” ujar Rektor Arief.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang