Aceh Tamiang–Menjaga asa pendidikan pascabencana menjadi sebuah prioritas. Untuk itu program Mahasiswa Berdampak, juga menghadirkan kegiatan edukatif berupa Pojok Literasi, sekaligus trauma healing untuk anak di Kampung Landuh, Aceh Tamiang, Rabu (25/2).
Program yang diusung oleh kelompok mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) ini dirancang, sebagai sarana edukasi dan media pembelajaran sederhana bagi sekolah-sekolah yang terdampak banjir, sekaligus menjadi ruang alternatif untuk menjaga semangat belajar siswa di tengah masa pemulihan.
Ketua BEM Unsri Muhammad Gabriel Valensa menuturkan program Pojok Literasi adalah bentuk bakti sosial melalui pembangunan sekolah darurat di Aceh Tamiang khususnya Kampung Landuh.
Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan wadah yang nyaman untuk anak-anak belajar dan bermain. Diungkapnya, program ini dijalankan empat kali dalam seminggu, berupa pembelajaran umum yang disesuaikan dengan tingkatan kelas, dan kegiatan tambahan lainnya seperti ice breaking dan berbagi jajanan.
Sebelum adanya program sekolah darurat, kondisi anak-anak yang tinggal di wilayah Kampung Landuh cukup memprihatinkan, mereka pun seolah sudah kehilangan semangat belajar. Namun, setelah adanya program ini keadaan berubah signifikan, anak-anak kembali aktif semangat belajar.
“Tujuan dari pelaksanaan program ini yaitu untuk memulihkan dampak psikososial pada anak yang terdampak, dimana sebelum adanya program ini anak-anak lebih banyak diam, kehilangan semangat untuk belajar, dan diantaranya belum menjalankan sekolah seperti biasanya. Namun setelah adanya program ini Alhamdulillah keadaan berubah dengan signifikan dimana adik-adik kembali semangat dalam kegiatan belajar dan lebih berekspresi,” papar Gabriel.
Kelompok Mahasiswa Berdampak Unsri pun berharap agar para warga dapat bangkit seperti keadaan semula. Selain itu program Pojok Literasi ini dapat meningkatkan semangat anak-anak di Kampung Landuh dalam kegiatan belajar dan semangat yang dibagikan dapat terus berlanjut dan menular ke adik-adik lainnya yang belum berkesempatan mengikuti kegiatan Pojok Literasi ini.
“Pojok Literasi merupakan program pembangunan sekolah darurat yang telah kami lakukan sebagai bentuk bakti sosial dan kepedulian kami terhadap adik-adik di Aceh Tamiang,” ujar Gabriel.
Pojok Literasi dihadirkan dengan konsep yang sederhana, praktis, dan mudah diterapkan sesuai kondisi lapangan. Fasilitas ini diwujudkan dalam bentuk rak buku bertingkat yang ditempatkan di sudut ruangan, dengan tinggi sekitar 130–150 cm dan lebar 90–100 cm. Desainnya menyesuaikan ruang belajar yang tersedia tanpa memerlukan infrastruktur besar.
Dikatakan Penanggung Jawab program Pojok Literasi, Veronika Zahra Pirera, bahwa program Pojok Literasi telah berlangsung selama kurang lebih 26 hari. Menurutnya program Pojok Literasi menjadi wadah dalam menciptakan ruang aman bagi anak yang terdampak bencana dan pascabencana sehingga mereka dapat merasakan belajar dan bermain seperti biasa.
“Kita disini sudah 26 hari dan memiliki niat yang baik, sehingga dapat diterima dengan baik. Jadi pendekatan dengan anak-anak disini berlangsung secara mengalir dan tidak dibuat-buat. Selain itu juga mungkin karena kita disini sering bermain dan berkeliling di area Kampung Landuh, hingga selama di bulan ramadhan ini kita melaksanakan shalat tarawih secara bersama. Seperti yang kita tahu anak kecil suka berbicara ya, jadi disini kita hanya mendengarkan dan merespons dengan baik,” jelas Veronika.
Isi Pojok Literasi
Selain rak buku, mahasiswa juga menyediakan alas duduk dan meja kecil yang dapat digunakan untuk membaca bersama. Area sudut literasi dihias secara kreatif agar lebih menarik dan nyaman bagi siswa. Suasana yang ramah dan penuh warna diharapkan mampu menumbuhkan minat baca serta menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Koleksi buku yang disediakan pun beragam, mulai dari cerita anak, buku pengetahuan umum, hingga majalah edukatif. Variasi bacaan ini bertujuan memperluas wawasan siswa sekaligus membangun kebiasaan membaca sejak dini. Kehadiran bahan bacaan yang mudah diakses menjadi solusi atas keterbatasan fasilitas perpustakaan akibat dampak banjir.
Tak hanya berbasis konvensional, Pojok Literasi juga diintegrasikan dengan teknologi digital sederhana. Mahasiswa menyediakan akses bacaan digital melalui barcode yang dapat dipindai menggunakan gawai. Di dalamnya tersedia kumpulan buku elektronik yang dapat diunduh sehingga tetap bisa diakses secara luring.
Program ini memberikan manfaat besar bagi peningkatan kualitas literasi di Kampung Landuh, khususnya pada sekolah-sekolah yang mengalami keterbatasan sarana. Meski aktivitas belajar sempat terganggu oleh bencana, siswa tetap memiliki akses terhadap bahan bacaan sebagai penunjang pembelajaran.
Lebih dari sekadar ruang membaca, Pojok Literasi menjadi bagian dari upaya learning recovery pascabencana. Inovasi ini membantu menjaga keberlangsungan budaya literasi di tengah keterbatasan serta memperkuat semangat siswa untuk terus belajar. Melalui langkah sederhana namun berdampak, mahasiswa turut berkontribusi dalam membangun kembali harapan pendidikan di Aceh Tamiang.
Sebelumnya Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, I Ketut Adnyana menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak 2026 yang hadir secara langsung di Aceh Tamiang merupakan bagian dari transformasi pendidikan tinggi agar semakin kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Mahasiswa dan pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat. Kehadiran para mahasiswa diharapkan dapat memberikan semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan, serta menumbuhkan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan lebih baik melalui pemanfaatan potensi dan teknologi yang ada di Aceh Tamiang. Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak,” ujar Ketut.
Inilah wujud nyata Mahasiswa Berdampak hadir saat krisis, bertahan untuk solusi, dan tumbuh bersama masyarakat demi keberlanjutan yang berdampak.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





