Surabaya-Pendidikan tinggi merupakan penyangga utama bagi lahirnya peradaban bangsa yang kuat. Dalam pertemuan Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTN-BH) di Surabaya, dipaparkan bahwa kualitas pendidikan tinggi berbanding lurus dengan kemajuan peradaban Indonesia. Untuk itu Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong penguatan tata kelola tridarma perguruan tinggi melalui revitalisasi yang berkelanjutan demi menjawab tantangan mutu, akses, dan relevansi pendidikan di era digital.
Data menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) nasional masih berada pada kisaran 32 persen, tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia (43 persen) dan Singapura (91,09 persen). Selain itu, terdapat isu relevansi lulusan yang terlihat dari angka pengangguran sarjana yang mencapai 1,01 juta orang pada tahun 2025. Tantangan ini semakin kompleks dengan adanya skeptisisme Generasi Z, di mana 31 persen memilih tidak kuliah karena menganggap pendidikan tinggi tidak mampu memenuhi kebutuhan praktis.
Menanggapi tantangan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan pentingnya langkah-langkah strategis seperti klasterisasi perguruan tinggi dan pemetaan program studi yang lebih proporsional. Untuk memperluas akses, pemerintah terus mendorong optimalisasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, baik yang bersumber dari pendanaan pusat, daerah, maupun kemitraan dengan sektor industri dan filantropi, Jumat (6/2).
Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional. Pada babarapa forum, Presiden Prabowo menegaskan, “Hanya dengan pendidikan yang bermutu, bangsa Indonesia dapat berdiri di atas kaki sendiri. Pendidikan adalah kunci dari segala-galanya. Jika kita ingin menjadi bangsa yang menang dan maju, kuncinya adalah pendidikan yang hebat,” sebagaimana dikutip Wamendiktisaintek Fauzan.
Beliau menambahkan bahwa perguruan tinggi harus hadir sebagai problem solver yang adaptif "Revitalisasi peran pendidikan tinggi memerlukan satu modal empiris yang kuat untuk dijadikan acuan. Kita harus mendorong perguruan tinggi menuju entrepreneurial university dalam mewujudkan bangsa pemenang. Pendidikan tinggi adalah penyangga kuat lahirnya peradaban bangsa unggul."
Wamen Fauzan kemudian menekankan pentingnya revitalisasi peran kampus sebagai pusat pembentukan manusia unggul. Ia juga menyatakan bahwa inovasi dan penjaminan mutu pada pendidikan tinggi merupakan hal yang sangat mendasar. Hal ini sejalan dengan mandat konstitusi Pasal 31 Ayat 5 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD NRI 1945) untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.
Topik yang disorot dalam kegiatan MSA PTN BH ini sejalan dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) melalui visi Asta Cita keempat, yakni memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Hal ini dapat diwujudkan melalui revitalisasi dan penguatan peran pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan berdampak terhadap sekitarnya.
Kemdiktisaintek berupaya mewujudkan arah pendidikan Indonesia secara lebih inklusif dan fleksibel. Dibutuhkan integrasi antara kolaborasi, akuntabilitas, dan kreativitas dalam setiap inovasi yang dilakukan. Penguatan ekosistem pendidikan tinggi, sains dan teknologi dibutuhkan guna menjawab permasalahan di masyarakat serta membawa Indonesia menjadi bangsa yang unggul di kancah global.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





