Tujuh Gedung, Tujuh Spirit Baru: Jejak Kemandirian Universitas Airlangga dalam Membangun Kampus Unggul

Kabar

21 October 2025 | 15.00 WIB

Tujuh Gedung, Tujuh Spirit Baru: Jejak Kemandirian Universitas Airlangga dalam Membangun Kampus Unggul

Universitas Airlangga (Unair) melangkah ke era baru dengan visi yang semakin tajam, menjadi kampus kelas dunia yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga mandiri dan berkelanjutan. Di tengah perubahan ekosistem pendidikan tinggi yang kian dinamis, Unair menunjukkan bahwa kemandirian bukan sekadar pilihan, melainkan keniscayaan bagi universitas masa depan.


Peresmian tujuh gedung baru pada tahun ini menjadi simbol dari capaian tersebut. Ketujuhnya adalah Gedung Nano, Gedung Nani, Dormitori, Gedung Workshop, Gedung Pringgodigdo, Gedung Sutandyo, dan Masjid Nuruzzaman, yang seluruhnya dibangun dengan pendanaan internal kampus, tanpa dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lebih dari sekadar infrastruktur fisik, tujuh gedung ini merepresentasikan semangat kemandirian, inovasi, dan keberlanjutan. 


Langkah berani ini menjadi titik balik yang dilakukan sejak satu dekade lalu, ketika Unair mulai menata arah baru sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH). Saat banyak perguruan tinggi masih bergantung pada pembiayaan pemerintah, Unair justru melangkah lebih maju dengan sistem anggaran berbasis output, yang mengubah pengelolaan keuangan menjadi lebih terukur, produktif, dan berorientasi hasil. Dari sinilah budaya efisiensi dan tanggung jawab lahir, membuka jalan menuju kemandirian finansial dan keberlanjutan institusi.


Kini, Unair memasuki fase baru pembangunan kampus yang lebih visioner. Setiap gedung yang berdiri mencerminkan semangat untuk menciptakan lingkungan akademik yang kolaboratif, berdampak, dan ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap masa depan. Dari total 17 gedung baru yang telah dibangun secara mandiri, tujuh di antaranya menjadi simbol transformasi dari sebuah kampus yang tumbuh dengan dukungan eksternal, menjadi kampus yang yakin pada kekuatannya sendiri.

Rektor Unair, Madyan menyampaikan bahwa pembangunan tujuh gedung tersebut merupakan bagian dari komitmen kampus dalam memperkuat kapasitas akademik dan nonakademik, serta menghadirkan sarana pendidikan yang selaras dengan perkembangan zaman.

“Pembangunan tujuh gedung ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk memperkuat kapasitas akademik dan nonakademik sekaligus menjawab tantangan perkembangan pendidikan tinggi di era global. Hal ini akan meningkatkan kualitas layanan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, memperkuat daya saing Unair sebagai World Class University, serta menyediakan sarana dan prasarana modern yang mendukung pembelajaran interdisipliner, inovasi riset, dan kolaborasi industri,” terang Rektor Madyan dalam wawancara bersama Tim Majalah Diktisaintek, Selasa (21/10).

Lebih lanjut, Rektor Madyan menegaskan bahwa pembangunan ketujuh gedung tersebut sejalan dengan visi dan misi Unair sebagai kampus yang unggul dan bereputasi internasional, serta mewujudkan perguruan tinggi yang berakar kuat pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora yang dilandasi nilai agama.

“Visi Unair adalah menjadi universitas yang unggul dengan reputasi internasional melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora berdasarkan moral agama. Pembangunan gedung-gedung baru ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan visi tersebut,” ungkapnya.


Infrastruktur untuk Inovasi dan Kolaborasi Akademik


Pembangunan tujuh gedung baru Unair bukan hanya berorientasi pada perluasan ruang fisik, tetapi juga untuk memperkuat fondasi akademik, riset, dan kehidupan kampus yang berkelanjutan. Ketujuh gedung dirancang sebagai ruang yang mendorong lahirnya kolaborasi lintas disiplin serta mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.


Menurut Rektor Madyan, pembangunan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan akademik, penelitian, maupun layanan mahasiswa, sekaligus mendorong terciptanya ruang kolaboratif lintas disiplin ilmu. 


“Kami percaya, kolaborasi lintas bidang dan lintas ilmu berdampak pada pendidikan yang berkelanjutan. Dan pendidikan yang berkelanjutan wajib didukung oleh fasilitas yang dapat dimanfaatkan secara bersama,” imbuhnya.

Melalui pembangunan ini, Unair menegaskan arah kebijakan jangka panjangnya untuk memperkuat fondasi infrastruktur bertaraf internasional, sebagai prasyarat penting menuju World Class University.

Menjaga Nyala Kemandirian di Tengah Tantangan Operasional

Pengelolaan aset, sarana, dan prasarana tentu memiliki tantangan tersendiri. Direktur Pengelolaan Infrastruktur, Lingkungan, dan Operasional Unair, Iman Prihandono menjelaskan bahwa Direktorat PILAR memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola seluruh aset universitas, baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar dapat berfungsi optimal. 


Menurutnya, tantangan utama dalam pengelolaan aset bukanlah pada pembangunan, melainkan pemeliharaan dan efisiensi operasional. Dengan jumlah aset yang terus bertambah, biaya pemeliharaan juga meningkat. 


“Semakin banyak aset yang kita kelola tentu pemeliharaan ini menjadi tantangan utama. Misalnya sepeda listrik yang kami sediakan untuk mahasiswa. Mahasiswa bisa memanfaatkannya dengan sistem top up dana. Untuk melakukan pemeliharaan, kita ajak semua sivitas akademika turut bersama-sama memelihara sepeda listrik itu,” jelas Direktur Iman.


Selain pemeliharaan, biaya operasional juga menjadi perhatian dalam pengelolaan aset kampus. Berbagai langkah dilakukan untuk menekan pengeluaran, terutama pada penggunaan energi dan sumber daya alam.


“Kita berusaha menekan cost untuk listrik, misalnya kita sudah punya teknologi yang memastikan alat-alat listrik itu mati bila tidak digunakan. Secara otomatis di beberapa gedung sudah kita install. Lalu kita juga berusaha untuk mengurangi biaya listrik dengan menggunakan solar panel, air juga begitu. Kita usahakan untuk seminimal mungkin penggunaannya,” ujar Direktur Iman.

SIPARU & ADIKANDUNG: Dua Wajah Inovasi Digital Unair dalam Membangun Tata Kelola

Untuk memastikan setiap gedung dan fasilitas dapat beroperasi secara optimal pasca pembangunan, Unair menyiapkan dua sistem tata kelola berbasis digital: SIPARU dan Adikandung.

SIPARU merupakan singkatan dari Sistem Pemanfaatan Ruang, merupakan aplikasi yang menjadi tulang punggung pengelolaan fasilitas kampus. Melalui sistem ini, seluruh sivitas akademika dapat mengakses informasi ketersediaan ruang dan mengajukan peminjaman secara daring.

“SIPARU membantu kami memastikan setiap ruang digunakan secara maksimal sesuai peruntukannya. Sistem ini juga membantu kita untuk memaksimalkan penggunaan gedung sehingga tidak hanya menjadi cost tapi juga gedung-gedung ataupun aset-aset kita ini bisa mendatangkan profit sedikit atau banyak, sehingga operasional pembiayaannya bisa berkelanjutan. Jadi baik itu pemeliharaan maupun penggunaannya bisa maksimal,” jelas Direktur Iman.

Ketua Airlangga Enterprise, Nugroho Sasikirono menambahkan, SIPARU tidak hanya melayani pengguna internal, tetapi juga membuka akses bagi pihak eksternal yang ingin bekerja sama dalam memanfaatkan fasilitas kampus.

“Untuk fakultas yang ingin memanfaatkan ruang untuk perkuliahan, mereka bisa memanfaatkan SIPARU Perkuliahan. Selain itu ada juga SIPARU yang khusus untuk menangani permintaan sewa properti yang ada di lingkungan Universitas Airlangga yaitu SIPARU Properti yang bisa dimanfaatkan bukan hanya oleh internal Universitas Airlangga tetapi juga bisa digunakan oleh user eksternal,” jelas Nugroho.

Namun, keberhasilan pengelolaan aset tidak berhenti pada tahap pembangunan dan penggunaan. Tantangan terbesar justru terletak pada pemeliharaan jangka panjang. Untuk menjawab hal ini, Unair kembali berinovasi dengan menghadirkan aplikasi Adikandung, sistem digital yang digunakan oleh pengelola untuk mengelola kegiatan pemeliharaan gedung dan fasilitas kampus.

“Kami punya kelompok operator dan teknisi yang bertugas memastikan setiap gedung dan fasilitas berada dalam kondisi baik. Untuk menunjang pekerjaan mereka, kami mengembangkan aplikasi Adikandung, yaitu sistem digital untuk pemeliharaan gedung. Melalui aplikasi adik kandung ini kami kemudian melakukan kegiatan pemeliharaan baik yang sifatnya preventif atau pencegahan maupun kegiatan pemeliharaan yang sifatnya korektif atau perbaikan,” pungkas Nugroho.

Unair juga memiliki perencanaan jangka panjang dalam pemeliharaan gedung dan fasilitas kampus. Kasie Direktorat Pengelolaan Infrastruktur, Lingkungan, dan Operasional (Dit. Pilar), Ainur Rafiq menjelaskan bahwa Dit. Pilar telah menyiapkan mekanisme perencanaan dan pemeliharaan yang sistematis untuk menjaga keberlanjutan fungsi seluruh infrastruktur.


“Terkait dengan perencanaan, kita sudah melakukan perencanaan jauh-jauh hari. Terkait pembangunan gedung itu seperti apa dan kedepannya seperti apa. Kemudian agar gedung itu bisa berkesinambungan ke depan, maka dilakukan pemeliharaan baik terkait infrastruktur maupun peralatan yang mendukung tersebut,” ungkap Ainur.

Kolaborasi antara teknologi digital dan manajemen fasilitas membuat proses pemeliharaan menjadi lebih terpantau. Dengan SIPARU dan Adikandung, Unair membangun ekosistem dan tata kelola kampus berbasis digital yang cerdas, efisien dan berjangka panjang.

Menatap Masa Depan: Green and Smart Campus


Sejalan dengan semangat kemandirian dan keberlanjutan, Unair juga menapaki babak baru pembangunan menuju konsep green andsmart campus. Langkah ini diwujudkan melalui pengembangan tiga gedung baru yang tengah dibangun sebagai bagian dari visi jangka panjang universitas dalam menciptakan kampus yang efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing global.


“Arah pembangunan kita saat ini adalah ke arah green building dan smart campus. Saat ini Unair sedang membangun tiga gedung baru, yaitu Airlangga Science Tower, Edupreneur Center, dan Gedung Fakultas Ilmu Budaya. Dua gedung di antaranya ditargetkan selesai tahun ini, sedangkan Airlangga Science Tower insya Allah akan selesai pada November 2026,” ungkap Rektor Madyan.


Di berbagai gedung baru, Unair telah menerapkan sistem efisiensi energi melalui panel surya, otomatisasi pencahayaan dan pendingin ruangan, serta penggunaan sensor suhu dan kelembaban berbasis IoT. Langkah ini tidak hanya menekan konsumsi listrik, tetapi juga menjadi bentuk nyata kontribusi UNAIR terhadap pengurangan emisi karbon dan target peringkat UI GreenMetric.

Unair juga menyediakan fasilitas air minum siap konsumsi untuk mengurangi penggunaan botol plastik, membangun sumur resapan dan biopori sebagai bentuk konservasi air, serta menghadirkan rooftop garden di Gedung Nano dan Nani yang menambah ruang terbuka hijau sekaligus menciptakan area resapan air.

Dari sisi mobilitas, Unair turut mendorong perubahan perilaku sivitas akademika dengan menghadirkan bus listrik, sepeda konvensional, dan sepeda listrik untuk transportasi internal kampus. Upaya pengelolaan limbah juga terus diperkuat sebagai bagian dari komitmen mengurangi penggunaan kertas dan melakukan minimalisasi pemilahan hingga pengolahan limbah.

Rektor Madyan menegaskan bahwa Unair juga berkomitmen membangun lingkungan kampus yang menerapkan smart campus.

“Ke depan, Unair berkomitmen untuk menerapkan sistem pengelolaan aset berbasis smart campus dan digitalisasi manajemen yang mencakup integrasi data aset, efisiensi penggunaan ruang, serta pemantauan energi berbasis IoT. Prinsip green building dan sustainable design juga menjadi pedoman utama kami, mulai dari efisiensi energi, penggunaan material ramah lingkungan, hingga tata ruang hijau yang mendukung kenyamanan sivitas akademika,” terang Rektor Madyan.

Harapan Bersama

Lebih dari sekadar deretan bangunan baru, kemandirian Unair merupakan hasil dari kerja kolaboratif seluruh unsur kampus, mulai dari pimpinan universitas, pengelola aset, hingga sivitas akademika yang setiap hari berinteraksi di dalamnya. Semangat inilah yang ingin terus dijaga agar setiap investasi infrastruktur dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, ilmu pengetahuan, dan masa depan pendidikan tinggi di Indonesia.

Rektor Unair, Rektor Madyan menegaskan bahwa kemandirian finansial dan tata kelola yang baik harus menjadi budaya bersama agar pembangunan tidak berhenti sebagai proyek semata, melainkan menjadi motor transformasi universitas yang berdampak luas.

“Kami percaya bahwa pengelolaan aset perguruan tinggi bukan hanya soal bangunan fisik, tetapi bagaimana setiap investasi infrastruktur dapat menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat, ekonomi, dan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Melalui berbagai langkah strategis, Direktur PILAR, Iman Prihandono berharap seluruh fasilitas yang dibangun dapat secara nyata mendukung kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Dengan fasilitas yang nyaman dan berkelanjutan, dosen dan mahasiswa bisa beraktivitas dengan lebih baik. Selain itu, masyarakat juga dapat turut merasakan manfaatnya melalui berbagai program seperti pemanfaatan area hijau, kolam, hingga green house di lingkungan kampus,” katanya.

Direktur Iman menambahkan pentingnya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap aset kampus. 

“Kalau semua unsur sivitas akademika merasa memiliki (sense of belonging), maka upaya pemeliharaan akan menjadi lebih mudah dan efisien. Kami ingin membangun budaya bersama dalam menjaga keberlanjutan fasilitas kampus,” tambahnya.

Sementara itu, bagi Nugroho, keberhasilan pembangunan fasilitas kampus tidak hanya diukur dari fasilitas gedung, tetapi juga dari bagaimana fasilitas yang sudah dibangung dimanfaatkan secara optimal dan bertanggung jawab.

“Kami berharap agar gedung-gedung yang sudah dikembangkan dengan menggunakan dana internal Unair ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh sivitas akademika maupun pengguna eksternal, dan seluruh komponen sivitas akademika mampu menggunakan gedung ini dengan bertanggung jawab,” ujar Ketua Airlangga Enterprise Unair, Nugroho.

Senada dengan itu, Kasie Direktorat PILAR, Ainur Rafiq menutup dengan harapan terkait profesionalisme dan kepedulian dalam pengelolaan fasilitas.


“Harapannya untuk pengguna gedung, di sini ada sivitas akademika, dosen maupun mahasiswa bisa memanfaatkan gedung yang kita punya dengan menggunakan sebaik mungkin agar gedung itu bisa dimanfaatkan dengan baik. Selanjutnya untuk pengelola gedung diharapkan bisa lebih profesional disiplin dan bisa melakukan pelayanan dengan cepat sehingga pengguna gedung bisa di fasilitasi dengan baik,” tutup Ainur.


Kemandirian Unair bukan hanya tercermin dari kemampuannya membangun tujuh gedung baru tanpa bantuan dana eksternal, tetapi juga dari kesiapannya menjaga keberlanjutan aset dan tanggung jawab terhadap setiap aset tersebut. Dengan semangat inovasi, keyakinan, kerja kolektif, dan visi jangka panjang, Unair menunjukkan bahwa kemandirian bukan sekadar status administratif, tetapi sebuah komitmen untuk terus tumbuh, memberi manfaat, dan menjadi teladan bagi ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia.



/

5

Ulas Sekarang