Jakarta—Pendidikan tinggi, khususnya pendidikan kedokteran, memegang peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan komitmen kemanusiaan. Di tengah tantangan transformasi sosial, kemajuan teknologi, serta meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang berkeadilan, penguatan nilai-nilai humanisme dalam pendidikan dokter menjadi semakin relevan.
Namun demikian, sektor kesehatan dan pendidikan kedokteran nasional masih dihadapkan pada sejumlah tantangan fundamental. Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2024, Indonesia menghadapi beban penyakit yang kompleks, mulai dari penyakit menular seperti tuberkulosis hingga penyakit tidak menular seperti stroke dan jantung iskemik. Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas masih belum merata, dengan adanya kesenjangan signifikan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Persoalan lain di pendidikan kedokteran, termasuk persepsi profesi dokter yang cenderung elitis, pendekatan layanan yang transaksional, serta kurangnya internalisasi nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran. Padahal, Indonesia saat ini masih menghadapi kekurangan sekitar 100.000 dokter untuk memenuhi rasio ideal kebutuhan nasional. Di samping itu, terdapat 3.600 lulusan dokter spesialis dihasilkan setiap tahun jauh dari kebutuhan ideal yang mencapai 32.000. Dari 136 Fakultas Kedokteran (FK), terdapat 25 FK yang telah menjalankan 358 program studi spesialis/subspesialis.
Menjawab tantangan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) IV Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) 2025, Sabtu (20/12). Kegiatan ini mengusung tema Sinergitas Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran bersama Institusi Pendidikan dalam Mendukung Asta Cita untuk Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam forum tersebut, Wamendiktisaintek mengatakan, tugas dokter lebih dari sekadar mengobati, dokter agen atau teladan kesehatan masyarakat.
“Dokter tidak hanya mengobati tapi juga jadi agen kesehatan masyarakat. Oleh karena itu peran promotif dan preventif sangat penting.” ujar Wamen Fauzan
Lebih lanjut, menurutnya pendidikan kedokteran harus dirancang untuk melahirkan dokter yang profesional sekaligus humanis.
“Profesi dokter ini adalah panggilan. Panggilan hati orang. Dunia kedokteran tidak hanya bicara tentang ilmu, tetapi juga bicara tentang kemanusiaan. Dalam dunia medis, posisi dokter sekali lagi adalah juruselamat. Seorang dokter tidak hanya sekedar mereka memang ahli memberikan resep secara medis, tetapi juga bisa memberikan resep secara sosiologis dan humanis. Sentuhan-sentuhan humanisme inilah sebenarnya yang diperlukan. Tidak ada orang yang tidak ingin dimanusiaan,” katanya..
Wamen Fauzan menekankan pendekatan humanisme dalam layanan kesehatan merupakan kunci untuk menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat secara lebih utuh. Dokter tidak hanya memberikan resep medis, tetapi juga mampu menghadirkan solusi sosial dan psikologis bagi pasien. Penguatan nilai tersebut sejalan dengan arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, memastikan pendidikan tinggi memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Sejalan dengan itu, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia terus menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai fondasi Indonesia Emas 2045. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto juga secara konsisten mendorong transformasi pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak. Dalam konteks ini, sinergi antara institusi pendidikan, alumni, dan pemangku kepentingan menjadi faktor kunci dalam menjamin mutu lulusan kedokteran dan pemerataan layanan kesehatan.
FIAKSI, sebagai wadah alumni fakultas kedokteran dari seluruh Indonesia, dipandang memiliki posisi strategis untuk menjembatani dunia pendidikan dan praktik nyata di lapangan. Melalui kekuatan jejaring alumni, FIAKSI diharapkan mampu menjadi motor penggerak penguatan karakter dokter, pembaruan kurikulum, serta penyebarluasan praktik baik layanan kesehatan yang berorientasi pada kemanusiaan.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengajak seluruh pemangku kepentingan, institusi pendidikan kedokteran, organisasi profesi, alumni, dan mahasiswa, untuk bergerak bersama membangun pendidikan kedokteran yang lebih humanis, inklusif, dan berdampak. Sinergi ini menjadi langkah nyata untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi benar-benar hadir sebagai solusi, sekaligus penggerak kemajuan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






