Dirjen Risbang Dorong Penguatan Ekosistem Riset dan Industri Semikonduktor Nasional

Kabar

11 October 2025 | 19.56 WIB

Dirjen Risbang Dorong Penguatan Ekosistem Riset dan Industri Semikonduktor Nasional

Batam – Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik Perumusan Problem Statement Riset Bidang Semikonduktor di Politeknik Negeri Batam, Kamis (9/10).

Kegiatan dibuka oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, M. Fauzan Adziman, dan dihadiri oleh Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Yos Sunitiyoso.

FGD juga melibatkan sejumlah pakar perguruan tinggi, antara lain Kuwat Triyana (Universitas Gadjah Mada), Riri Fitri Sari (Universitas Indonesia), Permata Nur Miftahur Rizki (Universitas Prasetiya Mulya), serta dosen Politeknik Negeri Batam. Dari sisi industri, hadir perwakilan PT Infineon Technologies Batam, HKI Indonesia, dan BP Batam yang turut memberikan pandangan mengenai kebutuhan dan tantangan sektor semikonduktor di lapangan.

Dalam arahannya, Dirjen Fauzan menyampaikan bahwa pemerintah tengah membangun ekosistem riset dan industri semikonduktor secara terintegrasi, selaras dengan arahan Presiden mengenai strategi nasional semikonduktor.

“Kita ingin memastikan riset dan investasi di bidang semikonduktor dilakukan secara terarah, berbasis kebutuhan industri, serta ditopang oleh pengembangan talenta nasional yang kuat,” ujar Dirjen Fauzan.

Selain FGD, tim Ditjen Risbang juga melakukan kunjungan ke Teaching Factory Politeknik Negeri Batam serta ke industri semikonduktor PT Infineon Technologies Batam dan PT Pegaunihan untuk meninjau langsung proses manufaktur, memperoleh masukan dari pelaku industri, dan memperkuat peluang kolaborasi riset serta pengembangan talenta antara perguruan tinggi dan industri semikonduktor.

Dari sisi industri, Direktur Logistik PT Infineon Technologies Batam, Aldrin Purnomo, menyoroti dua isu utama yang perlu segera dijawab, yakni ketersediaan sumber daya manusia (SDM) kompeten dan dukungan regulasi dari pemerintah.

“Pertanyaan utama dari mitra global selalu sama: apakah Indonesia memiliki talenta yang siap menjalankan industri ini, dan sejauh mana dukungan pemerintah? Ini dua hal yang harus dijawab secara konkret,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Riset, Data, Pengembangan Teknologi dan Ekosistem Digital Himpunan Kawasan Industri Indonesia, Rizki Aditya Nugraha menjelaskan bahwa Batam memiliki keunggulan strategis untuk pengembangan industri berteknologi tinggi, dengan infrastruktur, energi, dan konektivitas yang mendukung ekspor.

Ia menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi pusat-daerah serta penyediaan insentif fiskal yang kompetitif untuk menarik investasi baru di bidang ini.

Dari sisi akademisi, para pakar menekankan pentingnya penguatan riset dari hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan material dasar seperti silika, desain chip, hingga sistem assembly, test, and packaging (ATP). Mereka juga menegaskan perlunya investasi besar dalam pengembangan SDM serta kolaborasi lintas sektor agar hasil riset dapat langsung diimplementasikan untuk memperkuat daya saing industri nasional.

Menutup kegiatan, Dirjen Risbang menyampaikan bahwa hasil FGD akan dirumuskan menjadi problem statement riset sebagai dasar pembukaan program pendanaan riset strategis melalui skema LPDP Co-Funding dan Riset Berdampak.

“Langkah awal ini penting untuk menentukan posisi Indonesia dalam rantai nilai global semikonduktor. Kita ingin memastikan setiap riset yang dibiayai negara berdampak nyata bagi industri dan kemandirian teknologi nasional,” pungkas Dirjen Fauzan.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampaka #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang