Eko Pece, Akademisi Seni Lokal yang Membawa Tarian Indonesia sebagai Kekuatan Diplomasi Budaya

Kabar

19 Oktober 2026 | 08.45 WIB

Eko Pece, Akademisi Seni Lokal yang Membawa Tarian Indonesia sebagai Kekuatan Diplomasi Budaya

Jakarta—Beranjak dari latihan tari setiap akhir pekan semasa kecil hingga tampil di panggung internasional, perjalanan Guru Besar Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sekaligus maestro tari, Eko Supriyanto menunjukkan bagaimana kekayaan tradisi dapat menjadi bekal untuk berkarya di dunia. Eko, yang akrab disapa Eko Pece, memandang keberagaman seni Indonesia sebagai kekuatan yang perlu terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat internasional.


Ketertarikan Eko terhadap tari berawal dari keluarganya. Lahir di Kalimantan dari ayah bersuku Dayak dan ibu bersuku Jawa, ia tumbuh di Magelang, Jawa Tengah, dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan seni dan pencak silat. Kakeknya merupakan tokoh tari dan pencak silat yang mewajibkan anak-anak laki-laki di keluarganya berlatih silat dan menari setiap minggu.


Pengalaman mempelajari beragam tarian, mulai dari Jawa, Bali, Sunda, hingga tari rakyat seperti Jatilan, menjadi bekal Eko menapaki panggung internasional. Pada 2001, ia terpilih menjadi salah satu penari dalam Drowned World Tour milik Madonna. Selama sembilan bulan, ia mengikuti tur yang menurut keterangannya mencakup 281 pertunjukan dan menjadi satu-satunya orang Indonesia di antara para penari.


“Ketika menari di konser Madonna itu, saya sebetulnya justru menari tarian-tarian yang dikoreografi oleh timnya Madonna. Saya merasa bahwa ternyata tubuh Indonesia ini bisa bergabung dengan tubuh-tubuh di Amerika, tubuh orang-orang yang mungkin tidak berasal dari kultur yang sama. Saya merasa kehebatan tubuh itulah yang menguatkan narasi saya sebagai seorang penari bahwa kita harus belajar sebanyak-banyaknya materi tari yang ada di Indonesia, bahkan di seluruh dunia,” ungkap Eko, Selasa (13/10).


Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan Eko terhadap kekayaan tari Indonesia. Menurutnya, keberagaman pulau, suku, bahasa, dan tradisi menyediakan sumber penciptaan yang luas. Bahkan, tarian dari daerah yang berdekatan dapat memiliki karakter dan makna yang berbeda.


Keberagaman tari Indonesia semakin menguatkan keyakinan Eko bahwa tradisi merupakan sumber penciptaan yang luas. Perbedaan karakter tari, bahkan di daerah yang berdekatan seperti Yogyakarta dan Solo, menunjukkan bahwa setiap tradisi memiliki ciri tersendiri. Kekayaan tersebut, menurutnya, dapat menjadi bekal bagi seniman Indonesia untuk membangun dialog dan diplomasi budaya di tingkat internasional.


Bagi Eko, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang dapat terus dikembangkan oleh generasi muda. Kekayaan tersebut membuka peluang bagi seniman Indonesia untuk menghasilkan karya yang berakar pada identitas budaya sendiri sekaligus membangun dialog dengan masyarakat internasional.


“Tradisi ini sudah turun-temurun, terus menjadi panutan dan tuntunan bagi kita, dari generasi yang lama maupun generasi muda sekarang. Ini membuat saya yakin bahwa kita tidak kekurangan materi untuk mengembangkan dan menguatkan potensi yang ada di Indonesia sehingga kita bisa bersanding secara diplomasi dengan teman-teman di luar Indonesia. Generasi muda harus yakin dan menyadari bahwa potensi inilah yang harus dikembangkan, dikuatkan, dan diteruskan,” ujarnya.


Sebagai dosen ISI Surakarta sejak 2000, Eko mengembangkan karya yang menghubungkan seni dengan persoalan sosial dan lingkungan. Salah satunya, IbuIbu Belu, yang berangkat dari riset mengenai perempuan, tenun, busana, serta kehidupan masyarakat di perbatasan Indonesia dan Timor-Leste. Melalui riset sekitar satu setengah tahun, ia menemukan narasi perbatasan yang dapat dibicarakan dalam konteks global.


Eko juga mengembangkan karya mengenai kerusakan terumbu karang di Halmahera Barat melalui riset dan kolaborasi dengan peneliti oseanografi. Baginya, proses tersebut memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang pertemuan antara budaya, lingkungan, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, karya seni tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga membawa persoalan nyata untuk dipahami bersama.


Ke depan, Eko akan terlibat dalam proyek seni CUT / BURN / RESONATE, yang dikembangkan melalui komisi dan koproduksi KL Fest dan dijadwalkan tampil perdana di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Mei 2028. Proyek ini akan melibatkan tiga penari Indonesia dan tiga penari Malaysia untuk mengembangkan karya yang berangkat dari tradisi Kalimantan dan Borneo.


Berangkat dari hutan di Pulau Borneo yang wilayahnya terbagi antara Indonesia dan Malaysia, karya ini mengangkat tanggung jawab ekologis bersama serta mengeksplorasi bagaimana tubuh, pengetahuan komunitas, dan praktik artistik dapat mempertemukan pengalaman hidup masyarakat lintas batas negara yang terikat oleh ekosistem yang sama. Setelah pementasan perdana, karya ini direncanakan untuk dipresentasikan di sejumlah festival internasional.


“Proyek ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menempatkan koreografi sebagai praktik penciptaan pengetahuan, diplomasi budaya, dan tindakan kritis terhadap kerusakan lingkungan,” jelas Eko.


Melalui riset mendalam, kolaborasi lintas negara, dan keterlibatan komunitas, karya ini mengembangkan cara meneliti melalui tubuh dan mengolah pengalaman masyarakat menjadi pengetahuan koreografis. Pendekatan tersebut diharapkan membuka pemahaman tentang hubungan manusia, hutan, dan keberlanjutan kehidupan.


Kehadiran karya ini di panggung internasional juga membawa tanggung jawab untuk menyumbangkan pemikiran dan mendorong perubahan nyata bagi masyarakat, Indonesia dan Malaysia, serta dunia. Dampaknya diharapkan dapat ditelusuri melalui tumbuhnya kesadaran ekologis, pertukaran pengetahuan, dan tindakan bersama untuk merawat lingkungan.


Di sisi lain, untuk memperluas jangkauan karya, Eko menilai seniman perlu memiliki kemampuan berkomunikasi dan menjelaskan konteks budaya kepada masyarakat lintas negara. Penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu bekal penting agar seniman dapat memaparkan gagasan, berdiskusi, dan berkolaborasi dengan mitra internasional.


“Bagaimana kita bisa berkomunikasi, bagaimana kita bisa mengatakan, ‘Ini tarian saya,’ dan menjelaskan tarian saya ini. Kalau kita tidak bisa bahasa Inggris, bagaimana? Menurut saya, ini sangat penting,” tegas Eko.


Menutup perbincangan, Eko mengajak dosen, seniman, dan mahasiswa untuk terus berkarya, melakukan riset, serta memperkuat narasi dan dokumentasi karya. Menurutnya, upaya tersebut penting agar seni Indonesia tidak hanya terus berkembang, tetapi juga menghasilkan pengetahuan dan memberi dampak bagi masyarakat.


“Ayo, teman-teman dosen dan mahasiswa. Ini saat yang tepat sekali. Karya harus bisa dinarasikan, memberikan novelty yang jelas, serta memiliki rekognisi yang nyata, dengan data dan fakta yang terukur dan terdokumentasi. Sudah saatnya kita hadir dan terus berkarya untuk Indonesia,” harap Eko.


Melalui Diktisaintek Berdampak, perguruan tinggi terus didorong untuk berkontribusi dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke tingkat internasional. Kiprah Eko menjadi salah satu gambaran bagaimana seni tari dapat menjadi medium untuk membawa identitas Nusantara, membangun dialog lintas budaya, dan memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Ulas Sekarang