Lombok Timur–Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan pentingnya penguatan riset rumput laut Indonesia sebagai bagian dari strategi nasional dan transformasi ekonomi pesisir. Hal ini disampaikannya pada kegiatan peletakan batu pertama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di Nusa Tenggara Barat, Kamis (12/2).
“Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global,” ujar Wamen Stella.
Desa Ekas Buana di area Teluk Ekas dipilih sebagai lokasi riset karena telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, baik sebagai kawasan budidaya maupun tangkap. Dengan hadirnya pusat riset ini, pemerintah daerah berharap hasil tangkapan dan budidaya bisa meningkat dengan bibit rumput laut yang lebih unggul berbasis riset.
Selain itu, disoroti juga oleh Wamen Stella bahwa Indonesia saat ini adalah produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menguasai sekitar 75% pasar global. Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per tahun, dan diperkirakan akan terus meningkat.
Walaupun demikian, posisi Indonesia di pasar global dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional. Wamen Stella menggarisbawahi bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, melainkan menjadi pusat inovasi dan nilai tambah.
Inisiatif ini telah melalui proses konsolidasi yang serius sejak Mei 2025. Kerja sama dijalin secara lintas sektor, seperti dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) untuk memastikan hilirisasi berjalan, serta dengan berbagai universitas dunia untuk mendorong transfer pengetahuan dan pendanaan dapat berjalan dengan kolaboratif.
“Kami bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari Tiongkok. Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk peralatan dan peneliti. Kemendiktisaintek juga telah mengalokasikan Rp1,5 miliar untuk tahap awal,” kata Wamen Stella.
Kawasan Riset Terpadu
Pada kesempatan yang sama, Rektor Unram, Bambang Hari Kusumo menjelaskan bahwa ITSRC akan dibangun sebagai kawasan riset terpadu dengan fasilitas yang mendukung kolaborasi internasional.
“Fasilitas yang akan dibangun meliputi gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya. Seluruhnya dirancang untuk bersinergi dengan pengembangan Kampung Merah Putih, koperasi, serta program pemberdayaan masyarakat lainnya,” jelas Rektor Sukardi.
Secara ekologis, Teluk Ekas memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung, dengan arus dan sirkulasi air yang cukup baik. Kondisi ini menjadikannya ideal sebagai living laboratory untuk riset produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa skala tropis. Tidak hanya rumput laut Kappaphycus sebagai bahan baku karagenan, kawasan ini juga potensial untuk pengembangan jenis rumput laut Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.
Hal ini juga ditekankan oleh peneliti dan dosen Program Studi Biologi dari Unram, Eka Sunarwidhi Prasedya yang menjelaskan bahwa kekuatan Teluk Ekas terletak pada kombinasi antara karakter ekologi dan keterlibatan masyarakat.
“Riset berbasis data penting untuk dikembangkan, guna menghasilkan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim serta memiliki nilai tambah industri,” kata Eka.
Melalui pembangunan ITSRC di Teluk Ekas, Kemdiktisaintek menegaskan komitmen untuk mentransformasi keunggulan alam Indonesia menjadi keunggulan ilmu pengetahuan dan industri bernilai tambah. Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, mitra internasional, serta pelaku usaha, pusat riset ini diharapkan menjadi fondasi lahirnya inovasi berbasis rumput laut yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di rantai nilai global.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






