Aceh Tamiang–Semangat Mahasiswa Berdampak kembali ditunjukkan oleh tim pelaksana BEM Universitas Sriwijaya (Unsri) melalui aksi nyata kemanusiaan dan inovasi teknologi tepat guna. Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini tidak hanya berfokus mendukung pemulihan pascabencana, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Kehadiran mahasiswa dengan inovasi berupa Instalasi Air Bersih dan Siap Minum, penuhi kebutuhan warga di Kampung Landuh, Aceh Tamiang, Rabu (25/2).
Mereka menghadirkan dua unit teknologi pengolahan air bersih bagi Kelompok Tani Ladang Lestari Kampung Landuh. Masing-masing unit berkapasitas 2.000 galon per hari dan memanfaatkan kombinasi sistem adsorpsi serta membran ultrafiltrasi. Air baku yang bersumber dari sungai atau sumur diolah melalui tabung adsorben berisi karbon aktif, manganese greensand, dan silika teraktivasi sebelum disaring menggunakan membran berpori sangat halus.
Dosen Pembimbing Tim Mahasiswa Berdampak Universitas Sriwijaya, David Bahrim, menjelaskan bahwa inovasi teknologi pengolahan air bersih ini dihadirkan sebagai solusi atas keterbatasan akses air layak konsumsi yang dialami masyarakat Desa Kampung Landuh pascabencana.
“Pascabencana, masyarakat Desa Kampung Landuh mengalami kesulitan mendapatkan air layak konsumsi karena sumur air permukaan telah tercemar, sementara kualitas air juga tidak memenuhi standar akibat kandungan pH dan TDS yang tinggi. Melalui inovasi teknologi pengolahan air bersih ini, kami berharap dapat membantu menyediakan akses air yang lebih layak serta meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari.” ujarnya.
Dikatakan juga oleh Dandi Dwi Wiradinata selaku koordinator program mahasiswa berdampak Unsri Teknologi membran ultrafiltrasi ini mampu menyaring partikel tersuspensi, bakteri, virus, hingga koloid tanpa tambahan bahan kimia. Prosesnya menggunakan tekanan pompa untuk mendorong air melewati membran sintetis berbahan polimer, lalu diperkuat dengan lampu ultraviolet untuk memastikan air benar-benar aman digunakan. Hasilnya adalah air bersih yang siap dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian maupun rumah tangga.
“Saat kami datang ke sini, kondisi masih dalam situasi pascabencana. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih yang layak untuk di minum. Karena itu kami menghadirkan teknologi air bersih dengan inovasi ultrafiltrasi membran. Saat teknologi ini kami operasikan, masyarakat berbondong-bondong mengantre untuk mengambil air minum. Air yang dihasilkan sudah dapat dikonsumsi dan juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci dan lainnya.” ujar Dandi.
Keunggulan sistem ini terletak pada prosesnya yang kontinyu, hemat energi, mudah dirawat, serta dapat dikembangkan dalam skala lebih besar. Inovasi semakin kuat dengan penggunaan adsorben yang bisa diproduksi oleh usaha kecil lokal, sehingga membuka peluang ekonomi baru. Teknologi serupa bahkan telah diterapkan di lebih dari 30 lokasi di Sumatera Selatan, mulai dari sekolah hingga industri kecil.
Warga Desa Landuh Rantau menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pendampingan yang diberikan mahasiswa Unsri melalui Program Mahasiswa Berdampak dalam membantu pemulihan pascabanjir di desanya.
“Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa Unsri yang telah datang membantu desa kami. Mereka membersihkan polindes yang sebelumnya dipenuhi lumpur hingga bisa difungsikan kembali, menanam tanaman obat keluarga, serta menghadirkan teknologi air bersih yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Bantuan ini membuat kami merasa diperhatikan dan sangat terbantu” ujar warga desa Landuh Rantau.
Sebelumnya pada 19–21 Desember 2025, mahasiswa BEM Unsri terjun langsung ke wilayah terdampak banjir di Pasaman Barat, Padang, Sumatera Barat. Dalam kondisi yang masih kritis, mereka menyalurkan bantuan kebutuhan dasar berupa sembako dan pakaian bersih. Berkoordinasi dengan Tentara Nasional Indonesia, mahasiswa turut membantu memastikan distribusi logistik berjalan aman dan tepat sasaran bagi warga terdampak.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga membangun kemandirian. Dari peningkatan pengetahuan hingga keterampilan teknis pengelolaan alat, kelompok tani didorong mencapai keberdayaan penuh dalam penyediaan air bersih. Inilah wujud nyata Mahasiswa Berdampak hadir saat krisis, bertahan untuk solusi, dan tumbuh bersama masyarakat demi keberlanjutan yang berdampak.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






