Pekanbaru–Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan pengetahuan baru sekaligus menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Di tengah kebutuhan akan solusi berbasis sains untuk mendorong pembangunan daerah, penguatan ekosistem riset di kampus menjadi fondasi penting bagi lahirnya universitas unggul yang mampu menjawab tantangan zaman.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie saat melakukan kunjungan kerja ke Universitas Riau (Unri), Jumat (13/3).
Dalam kesempatan itu, Wamen Stella menghadiri paparan riset para dosen yang mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari energi berbasis biomassa hingga pemanfaatan lateks karet alam untuk bahan baku industri cat emulsi.
Menurut Wamen Stella, riset merupakan jantung dari kemajuan sebuah perguruan tinggi. Melalui penelitian yang kuat dan berkelanjutan, kampus tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata yang memberi nilai tambah bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Wamen Stella menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang berbeda dari jenjang pendidikan dasar dan menengah. Jika pendidikan dasar dan menengah berfokus pada proses transfer pengetahuan yang telah ada, maka perguruan tinggi mengemban mandat lebih besar, yakni menghasilkan pengetahuan baru melalui penelitian dan inovasi.
Karena itu, penguatan budaya riset di kampus menjadi kunci untuk mendorong lahirnya inovasi yang relevan dengan potensi lokal. Riset-riset yang dikembangkan di Universitas Riau (Unri), seperti energi biomassa dan pemanfaatan karet alam, dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan industri berbasis sumber daya daerah sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan ekonomi regional.
“Di berbagai negara, universitas yang kuat selalu berkorelasi dengan kemajuan ekonomi daerah di sekitarnya. Karena itu, penguatan riset di perguruan tinggi sangat penting untuk menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Wamen Stella.
Wamen Stella juga mengapresiasi fokus riset Unri yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal, seperti biomassa dan karet alam, sebagai basis pengembangan inovasi teknologi.
“Saya melihat ada keunggulan penting dari riset yang dipaparkan, yaitu adanya fokus pada potensi lokal yang menjadi kekuatan daerah. Dengan keterbatasan sumber daya, perguruan tinggi perlu menentukan niche atau bidang keunggulan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Wamen Stella.
Wamen Stella juga menambahkan bahwa riset yang unggul harus memiliki peta jalan penelitian yang jelas, target yang terukur, serta mempertimbangkan ekosistem di sekitarnya, baik masyarakat, industri, maupun pemerintah daerah.
Salah satu riset yang dipaparkan yaitu penelitian mengenai pemanfaatan biomassa sebagai material penyimpanan energi melalui pengembangan superkapasitor berbasis karbon biomassa yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unri, Erman Taer.
Menurut Erman, Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai material penyimpanan energi masa depan.
“Berbagai jenis biomassa lokal seperti tempurung kelapa, bakau, sawit, hingga limbah organik dapat diolah menjadi material karbon yang memiliki konduktivitas listrik tinggi dan dapat digunakan sebagai elektroda superkapasitor,” ujar Erman.
Penelitian yang telah berlangsung sejak 2015 tersebut melibatkan berbagai perguruan tinggi dalam Konsorsium Biomassa untuk Energi Hijau. Selama hampir satu dekade, tim risetnya telah menghasilkan lebih dari 170 publikasi ilmiah terindeks Scopus serta sejumlah paten.
Saat ini penelitian tersebut telah memasuki tahap pengembangan prototipe dengan tingkat kesiapan teknologi (TKT) yang terus meningkat.
“Salah satu prototipe yang kami kembangkan sudah mampu menghidupkan lampu menggunakan perangkat penyimpanan energi berbasis biomassa. Ke depan kami menargetkan teknologi ini dapat diaplikasikan pada kendaraan listrik, dimulai dari sepeda atau motor listrik,” tambah Erman.
Selain itu, paparan riset juga disampaikan oleh perwakilan dosen Fakultas Teknik Unri, Bahruddin, mengenai pemanfaatanlateks karet alam sebagai binder pada cat emulsi untuk menggantikan bahan sintetis impor yang selama ini digunakan dalam industri cat.
Menurut Bahruddin, inovasi tersebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas karet nasional sekaligus memperluas pemanfaatannya di luar industri ban.
“Sekitar 80% penggunaan karet alam dunia masih didominasi oleh industri ban. Padahal sektor lain seperti industri cat memiliki potensi besar untuk menyerap karet alam sebagai bahan baku,” ujar Bahruddin.
Bahruddin menjelaskan bahwa konsumsi cat tembok di Indonesia mencapai sekitar 1 juta ton per tahun, dengan komponen binder berkisar 6–30%. Jika sebagian kebutuhan tersebut dapat digantikan dengan lateks karet alam, maka berpotensi menciptakan tambahan konsumsi hingga 100 ribu ton karet per tahun.
Selain meningkatkan nilai tambah komoditas karet, inovasi ini juga berpotensi memperkuat ekosistem industri berbasis sumber daya alam lokal serta meningkatkan kesejahteraan petani karet.
Menanggapi berbagai paparan riset tersebut, Wamen Stella menekankan pentingnya penguatan aspek hilirisasi dan analisis ekonomi agar hasil penelitian perguruan tinggi dapat lebih mudah diadopsi oleh industri dan masyarakat.
“Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memiliki Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan yang berfokus pada penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan industri, termasuk dalam memastikan aspek kelayakan ekonomi dari hasil riset,” jelas Wamen Stella.
Wamen Stella juga menambahkan bahwa pemerintah tengah mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan koperasi melalui program Koperasi Merah Putih, sehingga hasil penelitian dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Kami ingin universitas tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjembatani kekayaan alam Indonesia menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian,” pungkas Wamen Stella.
Melalui penguatan ekosistem riset dan hilirisasi di perguruan tinggi, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus mendukung inovasi berbasis potensi lokal sehingga dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam mendorong kemandirian teknologi serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





