Kemdiktisaintek Dorong Transformasi Literasi Sains melalui Kolaborasi Akademisi dan Platform Digital

Kabar

04 December 2025 | 20.00 WIB

Kemdiktisaintek Dorong Transformasi Literasi Sains melalui Kolaborasi Akademisi dan Platform Digital

Bandung-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan ekosistem teknologi dalam mendukung pembelajaran yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan saat ini. Salah satu upaya untuk meningkatkan peran perguruan tinggi dalam literasi digital, diseminasi pengetahuan ilmiah, dan promosi riset serta inovasi melalui platform digital, Kemdiktisaintek melalui Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi menggelar Seminar dan Workshop Nasional Fuel Your Potential #FYP: “Civitas Akademika sebagai Agen Komunikator Sains di Era Digital” di Sasana Budaya Ganesa, Kamis (4/11).

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani mengungkapkan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak boleh hanya dimaknai sebagai digitalisasi, modernisasi ruang kelas, atau penggunaan teknologi seperti AI, big data, dan infrastruktur kampus yang canggih. 

“Transformasi sejati harus berfokus pada kemampuan perguruan tinggi mengalirkan ilmu pengetahuan ke masyarakat luas. Di tengah banjir informasi dan gelombang digitalisasi, justru terjadi jurang yang semakin lebar antara akademisi dan masyarakat, termasuk fenomena death of expertise dan weaponization of expertise yang melemahkan kepercayaan publik terhadap ilmuwan,” ungkap Dirjen Najib.

Dirjen Saintek menyebutkan terdapat tiga sekat utama yang membuat sains dan masyarakat terpisah yakni sekat eksklusivitas ilmu pengetahuan yang masih dianggap elitis, sekat komunikasi akibat vakumnya ruang komunikasi sains yang kredibel, serta sekat keterlibatan publik karena minimnya ruang terstruktur bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses ilmiah.

“Sains tidak boleh menjadi kemewahan menara gading, melainkan harus hadir dan hidup dalam denyut nadi masyarakat. Untuk itu ilmu pengetahuan harus menjadi gerakan publik. Arah transformasi mencakup pembangunan ekosistem partisipasi publik melalui citizen science, co-creation melalui living labs, serta penguatan open science,” ungkap Dirjen Najib.

Dalam hal ini, terdapat empat peran strategis dari akademisi, yaitu sebagai penghubung pengetahuan (science communicators), fasilitator co-creation, penjembatan sains modern dan pengetahuan lokal, serta pembentuk budaya sains publik. 

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan (Minat) Saintek Kemdiktisaintek, Yudhi Dharma menjelaskan acara seminar dan workshop FYP digelar untuk menjawab tantangan besar era digital, di mana informasi berlimpah namun tidak semuanya akurat.  Menurutnya transformasi komunikasi sains bukan sekadar memindahkan proses belajar dari kelas ke gawai, tetapi menghadirkan fenomena baru dalam cara masyarakat memahami ilmu pengetahuan. 

“Semangat inilah yang menjadi bukti nyata bahwa sains bisa tampil secara inklusif dan bermanfaat bagi semua orang,” tegas Direktur Yudhi.

Agenda seminar #FYP dirancang untuk menghadirkan dialog antara pembuat kebijakan, praktisi industri digital, dan para influencer edukasi. Untuk memperkuat dampak program, panitia juga menyiapkan workshop teknis di antaranya ‘Membuat Konten Edukatif Berbasis Sains dan Teknologi’ dan ‘Strategi Monetisasi Konten Edukatif di TikTok’. Workshop interaktif ini fokus pada pengembangan hard skill, mulai dari pembuatan konten Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) hingga etika bermedia sosial.

Head of Executive Director Tokopedia and TikTok E-Commerce Indonesia, Stephanie Susilo menjelaskan bahwa platform digital semakin penting sebagai mitra negara dalam memperluas akses STEM dan mendorong literasi sains. TikTok, menurutnya, memiliki potensi besar dalam membentuk generasi muda yang kritis, konstruktif, dan berkontribusi bagi bangsa. Dalam hal ini, untuk memperkuat kualitas pembelajaran TikTok telah menghadirkan fitur khusus STEM feed.

“TikTok secara kreatif dapat berkontribusi positif dalam membentuk generasi muda Indonesia berpikir kritis, belajar secara konstruktif, dan berkontribusi bagi bangsa dan negara. TikTok tidak hanya menjadi ruang berbagi konten, tetapi juga wadah akselerasi ilmu pengetahuan dan jembatan komunikasi yang mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Akselerasi Budaya Ilmiah melalui Diseminasi Sains Teknologi

Staf Khusus Mendiktisaintek Bidang Riset dan Pengembangan, I Gede Wenten menjelaskan bahwa dunia kini memasuki era kompetisi berbasis pengetahuan, di mana kemampuan menguasai, memproduksi, dan menyebarluaskan ilmu merupakan faktor penentu daya saing suatu bangsa. 

“Namun, literasi sains dan lemahnya budaya ilmiah masih menjadi tantangan. Akibatnya, banyak hasil riset yang sebenarnya bernilai tinggi tidak termanfaatkan secara optimal karena diseminasi yang belum kuat. Di tengah situasi tersebut, akselerasi diseminasi sains menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional,” ungkap SKM Wenten.

Oleh karena itu, era digital membuka peluang strategis yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat diseminasi sains di masyarakat. Media sosial kini menjadi kanal yang inklusif dan cepat, memungkinkan penyebaran ilmu pengetahuan kepada audiens yang lebih luas. Kekuatan visual, naratif, dan format interaktif memberikan ruang baru untuk menyederhanakan konsep ilmiah yang kompleks.

Di tengah peluang tersebut, SKM Wenten mengingatkan bahwa percepatan diseminasi harus tetap berpijak pada substansi ilmiah. Fenomena diseminasi yang berlebihan tanpa substansi justru hanya akan melahirkan reputasi semu.

Menurutnya, reputasi yang sebenarnya tidak dibangun oleh intensitas publikasi di media, melainkan oleh ketajaman penelitian, kontribusi ilmiah, dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Maka, peran sivitas akademika dalam memperkuat budaya sains nasional menjadi sangat penting. Akademisi harus dapat didorong untuk menjadi duta sains (science ambassador) yang mampu menerjemahkan penelitian kompleks ke dalam bahasa publik. 

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang