Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama British Council menyelenggarakan Indonesia-United Kingdom (UK) Research Translation Forum 2026. Forum ini mengusung tema "Building Equitable Indonesia-UK Pathways for Health Sector Innovation and Drug Development Translation". Gelaran ini menjadi langkah strategis percepatan hilirisasi riset kesehatan nasional, yang dilaksanakan di kantor Kemdiktisaintek, Rabu (4/3).
Membuka acara, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek Fauzan Adziman, menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia–Inggris dalam bidang kesehatan tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah (kuantitas), tetapi harus mampu menghasilkan inovasi yang siap dihilirisasi dan memberi dampak nyata bagi masyarakat (kuantitas).
“Sekarang kita berfokus pada riset berbasis tantangan (challenge-based research program). Kita ingin riset bersifat multidisipliner dengan menerapkan kerangka kerja kolaborasi antara berbagai kemitraan dan juga institusi. Inilah alasan mengapa kami ingin mendorong Indonesia dalam kolaborasi ini, sehingga kita dapat meningkatkan daya saing nasional melalui upaya peningkatan kualitas riset,” ujar Dirjen Fauzan.
Dirjen Fauzan menambahkan bahwa kemitraan strategis dengan berbagai institusi di Inggris membuka peluang besar dalam penguatan kapasitas peneliti, transfer teknologi, serta pengembangan model pendanaan riset berbasis kolaborasi internasional.
“Melalui program ini kita merancang strategi ini untuk menyelesaikan permasalahan utama yang paling penting dan dibutuhkan oleh negara. Sebagai contoh, strategi tersebut dapat berupa peningkatan kondisi layanan kesehatan di Indonesia, dan dengan bekerja sama secara mandiri maupun bersama mitra internasional. Dengan menjalankan program strategis ini, riset kita menjadi semakin berdampak,” ungkap Dirjen Fauzan.
Percepatan hilirisasi riset kesehatan selaras dengan agenda transformasi pendidikan tinggi dan sains nasional sesuai arah kebijakan ‘Diktisaintek Berdampak’ yang kemudian diteruskan melalui misi “Riset Berdampak”. Untuk itu, perguruan tinggi dan lembaga riset didorong untuk semakin adaptif terhadap kebutuhan industri serta tantangan kesehatan masyarakat.
Kemdiktisaintek dikatakan Dirjen Fauzan berkomitmen menghadirkan kebijakan yang mendukung proses translasi riset, mulai dari penguatan regulasi, insentif pendanaan, hingga fasilitasi kemitraan dengan industri farmasi dan teknologi kesehatan. Dengan kolaborasi yang kuat, kita optimistis inovasi kesehatan Indonesia dapat semakin kompetitif di tingkat global.
Kolaborasi Antarnegara
Dalam forum tersebut, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lucia Rizka Andalucia menegaskan posisi penting Indonesia dalam kemitraan global ini. Indonesia dinilai memiliki urgensi yang didorong oleh tekanan kesehatan dan ekonomi, sekaligus kapasitas yang berakar pada kekuatan ilmiah, skala klinis, dan reformasi regulasi yang sedang berjalan.
"Dalam konteks ini, Indonesia dan Inggris bukan sekadar kolaborator, melainkan mitra yang saling melengkapi di sepanjang spektrum translasional. Dengan menyelaraskan kekuatan kita pada tahap TRL spesifik, kita dapat melakukan pengembangan bersama, validasi bersama, dan penyampaian bersama inovasi kesehatan yang kokoh secara ilmiah, layak secara komersial, dan berdampak secara sosial," tutur Dirjen Lucia Rizka Andalucia.
Pada kesempatan ini juga Peneliti Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Reza Yuridian Purwoko, memaparkan pentingnya kolaborasi strategis yang memanfaatkan kekuatan masing-masing negara.
Reza menuturkan bahwa Inggris memiliki keunggulan dalam penyampaian riset klinis yang matang (mature clinical research delivery) dan jalur adopsi yang kuat. Di sisi lain, Indonesia menawarkan keuntungan komparatif berupa populasi yang besar dan beragam, kebutuhan kesehatan yang mendesak, serta kekayaan biodiversitas yang melimpah.
"Fokus utama kolaborasi kita berada pada fase TRL/TKT 4 hingga 6, yang mencakup validasi, uji coba, hingga peningkatan skala (scale-up)," ujar Reza.
Melalui sinergi antara Kemendiktisaintek, Kemenkes, BRIN, dan mitra internasional, diharapkan tercipta jalur inovasi yang lebih berkeadilan dan mempercepat kedaulatan kesehatan Indonesia di kancah global.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





